81. Setelah Badai

Romance Series 94

BAB 81
SETELAH BADAI

Pagi datang perlahan.

Cahaya matahari masuk melalui celah-celah batu.

Fiona masih tertidur.

Namun napasnya lebih teratur.

Warna wajahnya juga mulai kembali.

Elarion memeriksa lukanya sekali lagi.

“Dia melewati masa kritis.”

Darrien yang duduk di sampingnya langsung mengangkat kepala.

“Benarkah?”

Elarion mengangguk.

“Kalau tidak ada komplikasi, dia akan pulih.”

Darrien menghela napas lega.

Untuk pertama kalinya sejak pertempuran…

bahunya turun.

Ia bahkan tidak menyadari bahwa seluruh tubuhnya sudah kelelahan.

Kevin melihatnya.

“Sekarang kau.”

Darrien mengerutkan kening.

“Apa?”

“Tidur.”

“Aku akan tidur nanti.”

“Sekarang.”

“Aku—”

Kevin mengangkat alis.

Darrien akhirnya menyerah.

“Baik.”

Ia bersandar pada dinding gua.

Namun sebelum matanya tertutup, ia masih memegang tangan Fiona.

Kevin melihatnya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

***

Beberapa jam kemudian—

Darrien terbangun.

Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari Fiona.

Gadis itu masih ada.

Masih bernapas.

Darrien tersenyum kecil.

Namun kali ini Fiona sudah membuka mata.

Ia menatapnya.

“Kau tidur?”

Darrien mengusap wajahnya.

“Sedikit.”

Fiona tersenyum lemah.

“Kau terlihat buruk.”

Darrien tertawa.

“Kau hampir mati dan masih sempat mengkritikku?”

“Ya.”

“Bagus.”

Fiona mengerutkan kening.

“Kenapa bagus?”

“Karena itu berarti kau sudah kembali menjadi Fiona.”

Fiona terdiam.

Kemudian tersenyum.

Darrien menatapnya beberapa detik.

“Aku takut.”

Fiona mengangguk.

“Aku juga.”

“Aku pikir…”

Darrien berhenti.

Fiona tahu.

“Aku tahu.”

Ia menggenggam tangannya.

“Terima kasih sudah datang.”

Darrien menggeleng.

“Aku terlambat.”

“Tidak.”

Fiona menatapnya.

“Kau datang.”

Darrien terdiam.

Kemudian ia menggenggam tangannya lebih erat.

***

Di luar gua—

Ace berdiri bersama Kevin dan Elarion.

Ace melihat ke arah dalam.

“Dia berubah.”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

“Setelah tadi malam…”

Elarion menghela napas.

“Dia hampir kehilangan kendali sepenuhnya.”

Ace menatap Kevin.

“Kalau Fiona benar-benar mati…”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya melihat langit.

“Jangan pikirkan itu.”

Ace mengangguk.

Namun mereka semua tahu jawabannya.

Tidak ada seorang pun yang yakin apa yang akan terjadi jika Fiona benar-benar mati.

***

Jauh di lembah—

Surya Ardika masih berdiri di antara reruntuhan pertempuran.

Para penjaga sedang mengobati luka.

Keith Varian juga masih berada di sana.

Tidak ada yang berbicara.

Akhirnya Clark berkata,

“Pernikahan itu selesai.”

Keith menatapnya.

“Kita belum membicarakannya.”

“Tidak perlu.”

Clark berdiri.

“Aku tidak akan menikahi Fiona.”

Keith menghela napas.

“Kau terlalu cepat mengambil keputusan.”

“Tidak.”

Clark menatapnya.

“Justru kalian terlalu lama mengambil keputusan yang salah.”

Keith terdiam.

Di sisi lain, Surya tidak mengatakan apa-apa.

Namun matanya tertuju pada arah pegunungan.

Ia masih memikirkan satu hal.

Siapa sebenarnya Darrien?

Anak itu memiliki kekuatan yang tidak masuk akal.

Dan Marcus…

masih menyimpan rahasia tentangnya.

***

Di dalam gua—

Fiona kembali menutup matanya.

Darrien tetap berada di sisinya.

Namun kali ini tidak ada ketakutan.

Ia hanya menatap wajah Fiona.

Tiga kali.

Tiga kali ia hampir kehilangan gadis itu.

Pertama—

ketika Ardika mengambilnya.

Kedua—

ketika ia mendengar Fiona akan menikah.

Ketiga—

ketika ia melihat darahnya sendiri di tangannya.

Darrien mengepalkan tangan.

Ia tidak ingin mengalami yang keempat.

Ia menatap Fiona.

“Aku akan menjadi lebih kuat.”

Fiona yang masih setengah tertidur tidak menjawab.

Darrien tersenyum kecil.

“Bukan untuk menghancurkan mereka.”

Ia menatap tangannya.

“Untuk memastikan aku bisa membawamu pulang…”

Ia berhenti.

“…setiap kali kau tersesat.”

Di luar gua, angin gunung bertiup pelan.

Untuk pertama kalinya…

tidak ada pengejar.

Tidak ada pernikahan.

Tidak ada perang.

Hanya mereka.

Dan untuk sementara…

itu sudah cukup.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience