Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 135
TERPISAH
Cahaya dari tangan Fiona masih berdenyut di tengah kegelapan hutan.
Namun ketiga vampir itu tidak mundur lagi.
Pemimpin mereka hanya tersenyum.
“Cukup menarik.”
Ia menatap Fiona.
“Namun jangan berpikir cahaya kecil itu akan menyelamatkan kalian.”
Darrien berdiri di depan Fiona.
“Kita tidak perlu mengalahkan mereka.”
Fiona menatapnya.
“Lalu?”
“Kita hanya perlu keluar dari sini.”
Darrien menarik tangannya.
“Sekarang!”
Keduanya langsung bergerak.
Darrien mengirimkan serangan energi ke arah dua vampir di depan mereka.
Fiona ikut mengangkat tangannya.
Cahaya menyebar di antara pepohonan.
**BOOM!**
Tanah bergetar.
Namun ketika asap menghilang—
kedua vampir itu masih berdiri.
Hanya sedikit terdorong ke belakang.
Ace—
tidak.
Tidak ada Ace.
Tidak ada Kevin.
Tidak ada Rowan.
Tidak ada Elarion.
Hanya mereka berdua.
Dan tiga vampir.
Darrien mengerutkan kening.
“Tidak berhasil.”
Salah satu vampir tertawa.
“Kalian masih berpikir bisa melawan kami?”
Darrien kembali menyerang.
Fiona mengikuti.
Mereka bergerak bersama.
Satu menyerang.
Satu bertahan.
Kemudian berganti.
Mereka berhasil menciptakan jarak beberapa langkah.
Namun perbedaan kekuatan terlalu jelas.
Serangan Darrien hanya mampu menahan mereka.
Sementara serangan para vampir dapat menghancurkan penghalang yang mereka buat.
“Darrien!”
“Aku tahu!”
Sebuah serangan menghantam tanah di samping mereka.
**BOOM!**
Darrien menarik Fiona menjauh.
Mereka berlari lagi.
Masuk semakin dalam ke hutan.
Berbelok.
Berhenti.
Kemudian berlari kembali.
Mereka mencoba membuat para vampir kehilangan jejak.
Namun—
ketiga vampir itu terus menemukan mereka.
Seolah-olah hutan tersebut membantu mereka.
***
Beberapa saat kemudian—
pemimpin vampir mulai terlihat bosan.
Ia berhenti.
“Cukup.”
Dua bawahannya juga berhenti.
Darrien dan Fiona berada beberapa puluh langkah di depan mereka.
Pemimpin vampir menghela napas.
“Aku mulai bosan bermain kejar-kejaran.”
Ia mengangkat tangannya.
Energi gelap langsung menyebar di antara pepohonan.
Darrien merasakan sesuatu.
“Fiona!”
Terlambat.
Bayangan seperti tali muncul dari tanah.
Melingkari kaki Fiona.
“Ah!”
Fiona terjatuh.
“Darrien!”
Darrien langsung berbalik.
Namun kedua vampir di belakang pemimpin mereka menyerangnya.
“Jangan ganggu!”
Darrien terpaksa menahan serangan mereka.
“Fiona!”
Fiona mencoba menggunakan cahayanya.
Namun tali sihir itu semakin mengencang.
Kedua tangannya juga terikat.
Kakinya tidak bisa bergerak.
“Darrien!”
“Aku akan datang!”
Darrien berusaha menerobos.
Namun kedua vampir itu terus menyerangnya.
Salah satu dari mereka tertawa.
“Jangan repot-repot.”
Yang lain menyeringai.
“Urus saja kami.”
Darrien menggertakkan gigi.
“Kalian—”
Ia menyerang lagi.
Namun salah satu vampir menahannya.
Sementara itu—
pemimpin mereka berjalan mendekati Fiona.
Sihir gelap menarik tubuh Fiona perlahan menjauh dari Darrien.
“Tidak!”
Darrien mencoba mengejar.
Namun sebuah serangan menghantam tanah tepat di depannya.
**BOOM!**
Ia terpaksa mundur.
Fiona terus ditarik.
“Darrien!”
“Fiona!”
Tangan mereka yang tadi masih hampir bersentuhan—
akhirnya terpisah.
Fiona dibawa ke hadapan pemimpin vampir.
Ia menatap gadis itu dari dekat.
Kemudian tersenyum.
“Sekarang…”
Ia menatap Darrien yang masih sibuk menghadapi kedua bawahannya.
“…tidak ada yang akan mengganggu.”
Salah satu bawahannya tertawa.
“Jangan ganggu waktu menyenangkan pemimpin kami.”
Yang lainnya mengangguk.
“Benar.”
Ia mengangkat tangannya untuk kembali menyerang Darrien.
“Biarkan pemimpin bersenang-senang.”
Darrien menatap mereka dengan kemarahan yang semakin jelas.
“Kalau kalian menyentuhnya…”
Energi di sekitar tubuhnya kembali bergetar.
“…aku akan menghancurkan kalian.”
Kedua vampir itu tertawa.
“Coba saja.”
Di sisi lain—
Fiona masih terikat.
Pemimpin vampir berdiri di hadapannya.
Taringnya terlihat jelas.
Namun sebelum ia melakukan apa pun—
Fiona menatapnya dengan wajah yang perlahan berubah.
Takut masih ada.
Namun di balik ketakutan itu—
cahaya keemasan mulai muncul kembali dari tubuhnya.
Pemimpin vampir berhenti.
“Hmm?”
Ia menyipitkan mata.
Cahaya itu semakin terang.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
senyum pemimpin vampir sedikit memudar.
