491. Jalan Menuju Istana

Romance Completed 594

BAB 491 — JALAN MENUJU ISTANA

Pagi perlahan menyentuh pegunungan Shadowcresent.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan tua ketika cahaya pucat mulai menembus celah-celah ranting.

Di sebuah clearing yang telah menjadi medan pertempuran selama berhari-hari, enam orang dari Veyth akhirnya mulai bergerak kembali.

Tidak ada monster.

Tidak ada dinding dimensi.

Tidak ada rune yang tiba-tiba menyala.

Tidak ada lorong yang berubah.

Tidak ada ilusi.

Tidak ada jebakan.

Tidak ada suara aneh dari dalam hutan.

Hanya...

jalan.

Sebuah jalan batu tua membentang di hadapan mereka.

Lurus.

Tenang.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Shadowcresent...

terlalu tenang.

Ace berdiri sambil memandang jalan tersebut cukup lama.

"...Aku tidak suka ini."

Kevin mengangkat alis.

"Kau baru saja mengeluh karena tidak ada jebakan?"

"Aku lebih suka jebakan."

Ace menunjuk jalan di depan mereka.

"Ini lebih menyeramkan."

Rowan memperhatikan sekeliling.

Tidak ada perubahan pada lingkungan.

Tidak ada distorsi mana.

Tidak ada tanda-tanda dimensi aktif.

Elarion berjongkok dan menyentuh permukaan batu.

"Jalurnya stabil."

Elyon memejamkan mata, merasakan aliran energi di bawah tanah.

"Benar."

Ia membuka matanya perlahan.

"Untuk pertama kalinya... Shadowcresent tidak mencoba mengubah arah kita."

Kevin menoleh kepada Darrien.

Darrien masih terlihat pucat.

Ia baru saja melewati ilusi yang menguras emosinya sampai batas terakhir.

Namun ia sudah kembali berdiri.

Matanya menatap jalan di depan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kegembiraan.

Hanya tekad.

"Kalau begitu..."

Darrien menarik napas panjang.

"...kita lanjut."

Enam orang itu mulai berjalan.

Satu langkah.

Kemudian langkah berikutnya.

Tidak ada yang menghentikan mereka.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas bahwa jalan tersebut memang mengarah ke satu tempat.

Istana.

Shadowcresent.

Jantung kerajaan vampire kuno itu.

***

Di tempat lain.

Di dalam ruang pertahanan Shadowcresent—

Mufasa berdiri diam di depan kristal pengawas.

Cahaya dari kristal memantulkan pemandangan keenam orang Veyth yang sedang berjalan melewati jalur pegunungan.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada jebakan baru yang bisa diaktifkan.

Mufasa mengangkat tangannya.

Salah satu penyihir vampire segera mendekat.

"Tuanku?"

Mufasa tidak langsung menjawab.

Matanya tetap tertuju pada kristal.

"Ubah sektor tujuh."

Penyihir itu terdiam.

"Tuanku..."

"Aku tahu."

Mufasa menurunkan tangannya.

"Sudah tidak bisa."

Ruangan menjadi sunyi.

Beberapa penyihir lain saling berpandangan.

Satu demi satu laporan datang.

"Dimensi kedua sudah tidak dapat diperluas."

"Jaringan rune di sisi timur telah mencapai batas."

"Pertahanan gunung bagian tengah tidak memiliki pola tambahan."

"Jalur pengalihan terakhir juga sudah digunakan."

Mufasa perlahan menutup matanya.

Semua jebakan.

Semua perubahan jalur.

Semua dimensi.

Semua permainan yang selama ini mereka gunakan untuk memperlambat Veyth...

telah habis.

Bukan karena Veyth menghancurkan semuanya.

Tetapi karena Shadowcresent memang sudah memperlihatkan hampir seluruh lapisan pertahanan yang bisa digunakan tanpa membuka pertahanan inti istana.

Dan sekarang...

mereka berjalan menuju kastil.

Mufasa membuka matanya kembali.

"...Ini buruk."

Salah satu penyihir menelan ludah.

"Apakah kami harus mengaktifkan pertahanan inti?"

Mufasa langsung menoleh.

"Tidak."

Jawabannya tegas.

"Pertahanan inti tidak boleh digunakan."

"Kalau begitu..."

Penyihir itu ragu.

"...apa yang harus kita lakukan?"

Mufasa terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak Veyth memasuki pegunungan...

ia tidak memiliki jawaban.

***

Di taman mawar hitam.

Raizen duduk di bawah pohon tua.

Fiona masih berada di dekatnya.

Ia sedang membaca sebuah buku dengan tenang, sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di balik pegunungan.

Mufasa muncul melalui komunikasi kristal.

"Yang Mulia."

Raizen tidak langsung menoleh.

"Apa?"

Mufasa menarik napas.

"Mereka sudah melewati gunung."

Tangan Raizen berhenti membalik halaman.

Hening.

"Maksudmu?"

"Mereka telah melewati seluruh lapisan pertahanan luar."

Raizen perlahan menutup bukunya.

Tatapan crimson-nya menjadi dingin.

"Berapa jauh?"

Mufasa melihat kristal.

"Jika mereka terus berjalan..."

Ia berhenti sebentar.

"...mereka akan mencapai jalur menuju istana."

Raizen diam.

Tidak marah.

Tidak panik.

Justru terlalu tenang.

"Jebakan berikutnya?"

Mufasa tidak menjawab.

Raizen menatap kristal komunikasi.

"Mufasa."

"...Tidak ada."

Kalimat itu terdengar jauh lebih berat daripada seharusnya.

Raizen perlahan berdiri.

Mufasa menundukkan kepala.

"Shadowcresent sudah tidak memiliki lapisan pertahanan luar yang bisa digunakan untuk memperlambat mereka."

Raizen menatap ke arah pegunungan.

Dari taman itu, ia tidak dapat melihat mereka.

Tetapi ia dapat merasakan keberadaan mereka.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Dan kali ini...

tidak ada lagi sesuatu yang berdiri di antara mereka dan istana.

Raizen menghela napas pelan.

"Jadi..."

Ia menatap Fiona yang masih membaca bukunya.

"...akhirnya mereka sampai pada bagian ini."

Mufasa terdiam.

"Yang Mulia."

"Hm?"

"Apakah kita harus menghentikan mereka sekarang?"

Raizen tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian ia berkata dengan suara tenang—

"Tidak."

Mufasa mengangkat kepala.

"Biarkan mereka datang."

Mata Raizen berubah semakin dalam.

"Jika semua jalan menuju istana sudah terbuka..."

Ia menoleh ke arah pegunungan.

"...maka tidak ada gunanya lagi bersembunyi di balik gunung."

Mufasa memahami maksudnya.

Seluruh strategi mereka selama ini adalah memperlambat.

Membingungkan.

Menguras.

Menguji.

Namun sekarang—

Veyth telah melewati semuanya.

Dan jika mereka terus berjalan...

mereka akan datang langsung ke hadapan Raizen.

Mufasa mengepalkan tangannya.

"Kalau begitu..."

Raizen mengangkat satu tangan.

"Persiapkan istana."

Mufasa terdiam.

"Untuk perang?"

Raizen menatap Fiona sekali lagi.

Lalu kembali melihat pegunungan.

"Bukan."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Untuk tamu."

***

Di jalan pegunungan.

Darrien berjalan paling depan.

Langkahnya masih berat.

Tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari ilusi tadi.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti.

Di hadapan mereka—

untuk pertama kalinya—

mereka dapat melihat sesuatu di kejauhan.

Sebuah bayangan besar muncul di balik kabut.

Menara-menara hitam.

Dinding kuno.

Dan cahaya merah samar yang memantul dari puncaknya.

Ace berhenti.

"...Itu..."

Rowan menatap ke depan.

Elyon mempersempit matanya.

Kevin tersenyum kecil.

Elarion menarik napas.

Darrien hanya berdiri diam.

Matanya tertuju pada bangunan yang selama berbulan-bulan hanya menjadi tujuan dalam pikirannya.

Istana Shadowcresent.

Tempat Fiona berada.

Tangannya perlahan mengepal.

"Fiona..."

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Aku datang."

Dan kali ini—

tidak ada satu pun jebakan yang menghentikan mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience