Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 472 — KUNCI YANG TIDAK TERLIHAT
Malam semakin larut di Veyth.
Namun ruang penelitian masih belum menunjukkan tanda-tanda akan ditinggalkan.
Peta-peta Shadowcresent masih terbentang di atas meja.
Beberapa bagian bahkan sudah dipenuhi tanda dan garis dari percobaan sebelumnya.
Jalur pertama.
Jalur kedua.
Jalur ketiga.
Jalur yang terlihat membawa mereka semakin dekat—
namun akhirnya justru menjauh.
Jalur yang tampak lurus—
namun berubah menjadi lorong panjang yang tidak pernah mereka temui sebelumnya.
Semua catatan itu berada di hadapan mereka.
Namun belum ada satu pun yang memberikan jawaban.
Darrien masih berdiri di dekat jendela.
Tatapannya tertuju pada bulan.
Ia mendengarkan percakapan mereka tanpa ikut menyela.
"Kalau kita menggunakan resonansi sebagai penanda..."
Elyon menunjuk salah satu bagian peta.
"Belum tentu berhasil," potong Elarion.
"Karena jalurnya berubah?"
"Karena ruangnya berubah."
Rowan membuka salah satu catatan.
"Ini yang kita temukan pada percobaan terakhir."
Ia menunjukkan simbol yang mereka temukan di dalam gunung.
"Setiap kali kita memasuki bagian tertentu, struktur sihirnya seperti menyesuaikan diri."
Kevin mengangguk.
"Seolah-olah sistem itu mengetahui keberadaan kita."
Ace bersandar pada meja.
"Jadi gunung itu tahu kita datang."
"Kurang lebih."
Ace mengerutkan wajah.
"Bagus."
Semua menoleh.
Ace mengangkat bahu.
"Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya dibenci oleh sebuah gunung."
Elarion tertawa kecil.
"Gunungnya mungkin tidak membencimu."
Ace menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau begitu kenapa setiap kali aku memilih jalan, aku selalu berakhir di tempat yang lebih buruk?"
Rowan menjawab datar.
"Mungkin gunungnya tahu selera jalanmu."
Ace terdiam.
"...Itu lebih menyakitkan."
Beberapa tawa kecil terdengar.
Namun tidak berlangsung lama.
Darrien tetap diam di dekat jendela.
Tatapannya masih mengarah ke bulan.
Kemudian—
ia berbicara.
"Kalau kita terus meneliti magicure yang digunakan di dalam gunung..."
Semua perlahan berhenti.
Darrien tidak berbalik.
"...kenapa kita tidak menghilangkan kunci sihir mereka?"
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rowan menatap peta.
Elarion mengerutkan kening.
Elyon perlahan menutup buku di tangannya.
Kevin memandang Darrien.
Ace bahkan tidak bercanda kali ini.
"Kunci...?"
Elyon akhirnya bertanya.
Darrien masih menatap bulan.
"Setiap kali kita memasuki gunung, jalurnya berubah."
Ia berbicara dengan tenang.
"Namun perubahan itu tidak terjadi secara acak."
Elarion mulai memahami arah pikirannya.
"Karena ada sesuatu yang mengaturnya."
Darrien mengangguk kecil.
"Kalau benar ada sesuatu yang menghubungkan jalur-jalur itu..."
Ia berhenti.
"...maka kita tidak perlu terus mencari jalan."
Tatapannya sedikit mengeras.
"Kita cari pengikatnya."
Rowan perlahan berdiri dari kursinya.
"Dan kau menyebutnya kunci?"
"Untuk saat ini."
Darrien akhirnya berbalik.
"Itu hanya nama."
Ia berjalan mendekati meja.
"Tapi kalau kita menemukan sesuatu yang menjadi pusat perubahan ruang..."
Jarinya menyentuh salah satu bagian peta.
"...mungkin kita bisa memutusnya."
Elyon memandang titik yang disentuh Darrien.
"Belum tentu ada satu pusat."
"Kalau tidak ada?"
Darrien menatapnya.
"Berarti kita cari yang paling dekat dengan sumbernya."
Elarion terdiam.
Ia kemudian melihat kembali catatan mereka.
Selama ini mereka selalu berusaha memahami jalur.
Namun mungkin mereka melakukan kesalahan sejak awal.
Mereka terus mencoba membaca **jalan**.
Padahal yang seharusnya mereka cari mungkin adalah sesuatu yang membuat jalan itu berubah.
Kevin menyandarkan tangannya pada meja.
"Kalau kita benar-benar menemukan titik itu..."
Darrien menjawab sebelum Kevin menyelesaikan kalimatnya.
"Aku akan menghancurkannya."
Ace langsung mengangkat kepala.
"Ah."
Ia menunjuk Darrien.
"Kembali lagi ke bagian menghancurkan."
Darrien menatapnya datar.
"Kau punya ide yang lebih baik?"
Ace membuka mulut.
Diam.
Menutupnya lagi.
"...Tidak."
Kevin tertawa kecil.
Namun Elyon tidak ikut tertawa.
"Masalahnya..."
Ia menunjuk catatan lama.
"...kita belum tahu apa yang akan terjadi jika pengikat itu diputus."
Darrien menatapnya.
"Jelaskan."
Elyon menunjuk beberapa simbol.
"Kalau jaringan ini hanya digunakan untuk mengubah arah jalan, mungkin kita hanya membuka akses."
Ia berhenti.
"Tapi kalau seluruh gunung terhubung dengan sistem pertahanan Shadowcresent..."
Tatapan Elyon menjadi serius.
"...memutus satu bagian bisa membuat seluruh sistem bereaksi."
Darrien diam.
"Reaksi seperti apa?"
"Itulah masalahnya."
Elyon menggeleng.
"Kita tidak tahu."
Rowan ikut berbicara.
"Dan kalau teori tentang resonansi itu benar, sistem tersebut mungkin terhubung dengan wilayah Shadowcresent sendiri."
Elarion mengangguk.
"Artinya..."
Ia melihat peta.
"...gunung bukan sekadar lokasi."
"Melainkan bagian dari sistem."
Darrien menatap peta cukup lama.
Ia kemudian teringat bagaimana ruang di dalam gunung berubah.
Bagaimana jalur yang sama bisa menjadi berbeda.
Bagaimana mereka bisa berjalan maju namun tiba-tiba menemukan diri mereka semakin jauh dari istana.
Dan bagaimana terakhir kali—
mereka berhasil masuk hanya karena seseorang memberikan jalan.
Raizen.
Darrien mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu kita cari tahu."
Suaranya tenang.
"Percobaan berikutnya."
Elyon mengangkat alis.
"Kau masih ingin mencoba jalur baru?"
"Ya."
Darrien menatap seluruh kelompok.
"Kalau jalur baru berhasil, bagus."
Ia berhenti.
"Kalau gagal..."
Tatapannya menjadi semakin tajam.
"...aku akan menguji teori ini."
Ace menghela napas.
"Kenapa aku merasa kata 'menguji' dari mulutmu berarti sesuatu akan meledak?"
Kevin menepuk bahunya.
"Karena kau sudah mengenalnya cukup lama."
Ace menatap Kevin.
"Itu bukan jawaban yang membuatku tenang."
Elarion terkekeh.
Darrien kembali menatap bulan melalui jendela.
Wajah Fiona kembali muncul dalam pikirannya.
Sudah terlalu lama.
Terlalu lama ia hanya bisa melihat bulan dari kejauhan dan bertanya-tanya apakah Fiona baik-baik saja.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di Shadowcresent.
Tidak tahu apakah Fiona bahagia.
Tidak tahu apakah Fiona masih mengingatnya.
Namun satu hal ia tahu.
Ia tidak akan membiarkan jarak menjadi alasan untuk berhenti.
Darrien berkata pelan,
"Kalau jalan tidak mau membiarkan kita lewat..."
Ia menatap pantulan bulan pada kaca.
"...maka kita cari cara lain."
Tangannya perlahan terbuka.
Magicure tipis mengalir di antara jemarinya.
Tenang.
Padat.
Terkendali.
Tidak seperti beberapa waktu lalu.
Kevin memperhatikan dari belakang.
Ia tersenyum tipis.
Darrien bukan lagi sekadar marah.
Ia mulai berpikir.
Dan justru itu yang membuat perkembangan kekuatannya semakin berbahaya.
Di meja penelitian, Elyon kembali membuka catatan.
"Baik."
Ia menunjuk beberapa bagian peta.
"Kita mulai dari sini."
Rowan mendekat.
Elarion ikut melihat.
Kevin akhirnya meninggalkan jendela dan bergabung.
Ace ikut mendekat beberapa detik kemudian.
"Jadi..."
Ia melihat peta.
"Kita mencari sesuatu yang bahkan belum terbukti ada."
Elyon mengangguk.
"Ya."
Ace menghela napas.
"Hebat."
Ia mengambil kursi.
"Aku rindu saat masalah kita cuma tersesat di gunung."
Rowan menatapnya.
"Kita memang masih tersesat."
Ace menatap kosong ke depan.
"...Benar juga."
Tawa kecil kembali terdengar di ruangan.
Namun di balik suasana ringan itu—
sebuah perubahan kecil telah terjadi.
Veyth tidak lagi hanya mencari jalan menuju Shadowcresent.
Mereka mulai mencari **mekanisme yang membuat jalan itu tidak pernah sama.**
Dan jika teori Darrien benar...
mungkin suatu hari nanti mereka tidak perlu meminta izin kepada gunung untuk lewat.
Mereka hanya perlu menemukan—
**kunci yang tidak terlihat.**
