Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 377 — LATIHAN SANG SAINTESS
Hutan Veyth masih tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Di sebuah area terbuka di antara pepohonan—
sebuah barrier transparan telah berdiri.
Di dalamnya—
Fiona dan Darrien saling berhadapan.
Darrien masih tersenyum kecil.
Sementara Fiona berdiri dengan kedua tangan di depan tubuhnya.
Tatapannya terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Darrien mulai merasa ada sesuatu yang salah.
“Kenapa kau membuat barrier?”
Fiona tersenyum.
“Bukankah kau ingin berlatih?”
“Ya.”
“Kalau begitu…”
Fiona mengangkat tangannya.
“Latihanlah denganku.”
Darrien terdiam.
“…”
Kemudian ia tertawa kecil.
“Jadi ini balas dendammu karena aku menculikmu tadi?”
Fiona tersenyum manis.
“Mungkin.”
Darrien menghela napas.
“Baiklah.”
Ia mengambil posisi.
***
Fiona bergerak lebih dulu.
**WHOOSH!**
Darrien langsung menghilang.
Fiona tidak mengejarnya.
Ia hanya memejamkan mata.
Magic sense-nya menyebar.
Beberapa detik kemudian—
Fiona berbalik.
Darrien muncul tepat di belakangnya.
Namun Fiona sudah berada di tempat lain.
Darrien tersenyum.
“Masih bisa mendeteksiku.”
Fiona menoleh.
“Jangan lupa siapa yang mengajarimu sebagian dari semua ini.”
Darrien tertawa.
Kemudian bergerak lagi.
Kali ini lebih cepat.
Ia menggunakan teknik yang ia lihat dalam mimpi.
Menghilangkan keberadaan.
Mengikuti aliran magicure.
Berpindah melalui pepohonan.
Fiona tetap tenang.
Namun—
ia mulai mempercepat langkahnya.
**WHOOSH!**
Keduanya menghilang dari pandangan.
Kemudian—
**BOOM!**
Sebuah ledakan kecil terjadi di sisi barrier.
Darrien muncul.
Fiona muncul beberapa meter di belakangnya.
Darrien menoleh.
“Cepat.”
Fiona tersenyum.
“Terima kasih.”
***
Darrien kemudian mencoba sesuatu yang baru.
Ia menarik napas.
Magicure di dalam tubuhnya menjadi sangat tenang.
Tidak ada chanting.
Tidak ada suara.
Hanya kehendak.
Dark magic muncul di telapak tangannya.
Fiona memperhatikan.
“Silent chant?”
Darrien mengangguk.
“Aku mulai bisa menggunakannya lebih baik.”
“Bagus.”
Fiona mengangkat tangannya.
Silver Leaf magic muncul.
“Sekarang…”
Ia tersenyum.
“…coba hindari ini.”
Cahaya memenuhi area.
Darrien langsung bergerak.
**WHOOSH!**
Serangkaian Silver Leaf blades muncul di udara.
Darrien menghindar satu demi satu.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Ia merasakan arah magicure sebelum serangan datang.
Kiri.
Kanan.
Atas.
Belakang.
Ia menghindar semuanya.
Fiona tersenyum semakin lebar.
“Lebih baik.”
Darrien tersenyum.
“Aku belajar dari Grandmaster.”
Fiona terdiam sebentar.
Kemudian—
“Kalau begitu aku harus menaikkan tingkatnya.”
Darrien:
“…Tunggu.”
Fiona sudah bergerak.
**WHOOSH!**
Darrien langsung melompat.
***
Latihan berubah menjadi pertarungan sungguhan.
Bukan pertarungan untuk menang.
Bukan untuk melukai.
Melainkan—
dua orang yang saling menguji kemampuan.
Darrien menggunakan dark magic yang semakin dalam.
Fiona menggunakan Silver Leaf magic dengan kontrol sempurna.
Keduanya bergerak cepat.
Satu menyerang.
Satu menghindar.
Kemudian berganti.
Tidak ada yang benar-benar ingin mengalahkan yang lain.
Namun keduanya juga tidak ingin kalah.
***
Jauh dari sana—
Kevin tiba-tiba berhenti berjalan.
Ia merasakan getaran magicure.
Kevin menoleh.
“…”
Ace yang berjalan bersamanya ikut berhenti.
“Apa?”
Kevin menunjuk ke arah hutan.
“Ada pertarungan.”
Rowan langsung tertarik.
“Darrien?”
Kevin mengangguk.
Elarion dan Elyon juga mulai merasakan getaran itu.
Elarion tersenyum.
“Sepertinya bukan latihan biasa.”
Elyon mengangguk.
“Magicure mereka terlalu aktif.”
Ace langsung berjalan.
“Ayo lihat.”
Rowan mengikutinya.
“Pasti menarik.”
Kevin hanya menghela napas.
“Jangan mengganggu.”
Mereka semua bergerak menuju sumber getaran.
***
Beberapa saat kemudian—
mereka tiba di dekat area latihan.
Sebuah barrier besar berdiri di antara pepohonan.
Semua berhenti.
Mereka melihat ke dalam.
Dan—
semuanya terdiam.
Darrien dan Fiona sedang bertarung.
Namun yang membuat mereka terkejut bukan pertarungannya.
Melainkan—
gerakan Darrien.
Ia menghilang.
Muncul.
Menghindar.
Berpindah tanpa chanting.
Dark magic mengalir begitu halus hingga hampir tidak meninggalkan jejak.
Ace membuka mulut.
“…”
Rowan juga terdiam.
Elarion menyipitkan mata.
Elyon memperhatikan dengan serius.
Kevin—
tersenyum.
“Bagus.”
Ace menoleh.
“Bagus?”
Kevin mengangguk.
“Dia sudah mulai memahami tekniknya.”
Rowan melihat Darrien kembali menghilang.
“Sejak kapan dia bisa bergerak seperti itu?”
Kevin menjawab santai.
“Sejak tadi.”
Ace menatapnya.
“Tidak. Maksudku…”
Ia menunjuk Darrien.
“…SEPERTI ITU?”
Kevin tertawa kecil.
“Ya.”
***
Di dalam barrier—
Darrien tiba-tiba muncul di belakang Fiona.
Tangannya hampir menyentuh bahunya.
Namun Fiona berbalik.
Silver Leaf magic muncul.
Darrien langsung mundur.
Fiona tertawa kecil.
“Ketahuan.”
Darrien tersenyum.
“Nyaris.”
“Nyaris tetap gagal.”
Darrien mengangkat alis.
“Kalau begitu…”
Dark magic kembali berkumpul.
“…aku coba lagi.”
***
Di luar barrier—
kelima orang itu masih terdiam.
Ace akhirnya berbisik,
“Dia benar-benar belajar cepat.”
Rowan mengangguk.
“Dan Fiona tidak memberinya kesempatan untuk santai.”
Elarion tertawa kecil.
“Bukankah itu tujuan latihan?”
Elyon menatap mereka.
“Ini lebih terlihat seperti pasangan yang sedang menguji siapa yang lebih keras kepala.”
Ace mengangguk.
“Benar.”
Kevin menyilangkan tangan.
“Biarkan mereka.”
Ia tersenyum.
“Ini perkembangan yang bagus.”
Mereka kembali menonton.
Tidak ada yang masuk.
Tidak ada yang mengganggu.
Karena untuk pertama kalinya—
Darrien bukan hanya mencoba mengingat kekuatan Grandmaster.
Ia mulai membuat kekuatan itu menjadi miliknya sendiri.
Dan Fiona—
adalah orang pertama yang benar-benar mengujinya.
