20. Kota Yang Tak Pernah Mereka Kenal

Romance Series 94

BAB 20
KOTA YANG TAK PERNAH MEREKA KENAL

Beberapa minggu telah berlalu sejak Darrien dan Fiona mulai belajar bersama Elarion.

Latihan mereka semakin teratur.

Darrien mulai mampu mengendalikan hawa dingin yang muncul dari dalam dirinya.

Fiona juga semakin mampu mempertahankan cahaya kecil tanpa membiarkannya muncul secara tidak sengaja.

Namun pagi itu, Elarion tidak membawa mereka ke tempat latihan.

Ia justru menyiapkan sebuah kereta kecil.

Fiona menatapnya dengan bingung.

“Kita mau pergi?”

“Ya.”

“Ke mana?”

“Lyrandel.”

Fiona memiringkan kepala.

“Lyrandel?”

“Kota perdagangan kecil di sebelah timur,” jelas Elarion. “Tidak sebesar kota-kota utama Lunareth, tetapi cukup ramai. Banyak pedagang dan pelancong singgah di sana.”

Mata Fiona langsung berbinar.

“Apakah kota itu besar?”

“Dibandingkan Akasia?”

Elarion tersenyum tipis.

“Cukup besar.”

Fiona segera naik ke kereta.

Darrien hanya mengangkat alis sebelum menyusul.

Perjalanan berlangsung beberapa jam.

Semakin jauh mereka pergi dari rumah Elarion, semakin ramai jalan yang mereka lewati.

Kereta pedagang.

Pelancong.

Petualang.

Bahkan beberapa makhluk yang belum pernah Fiona lihat sebelumnya.

Ia menatap seorang wanita dengan telinga berbulu yang berjalan bersama seorang pria bertubuh tinggi.

“Dia…”

“Bangsa binatang,” jawab Elarion.

Fiona kembali melihat ke sisi jalan.

Tak lama kemudian, ia melihat seorang pria dengan telinga lancip.

“Elf?”

“Benar.”

Kemudian mereka melewati seorang wanita berjubah panjang yang membawa tongkat.

“Penyihir?”

Elarion mengangguk.

“Lunareth memiliki banyak bangsa.”

Darrien memperhatikan semuanya.

“Dan manusia?”

“Masih yang paling banyak.”

Fiona menatap Elarion.

“Bagaimana dengan vampir?”

Elarion terdiam sebentar.

“Ada.”

Nada suaranya sedikit berubah.

“Namun kalian tidak perlu mencari masalah dengan mereka.”

Fiona langsung mengangguk.

Darrien menyimpan informasi itu dalam pikirannya.

Ketika mereka tiba di Lyrandel, Fiona hampir tidak tahu harus melihat ke mana.

Bangunan tinggi berdiri di sepanjang jalan.

Toko-toko menjual benda-benda aneh.

Ada kristal bercahaya.

Senjata.

Ramuan.

Kain dengan simbol berbagai ras.

Dan makanan yang belum pernah mereka lihat.

“Besar sekali…”

Fiona berbisik.

Elarion tertawa kecil.

“Ini bahkan bukan kota terbesar di Lunareth.”

Darrien memandang sekeliling.

Selama bertahun-tahun, ia mengira Akasia adalah dunia mereka.

Sekarang ia menyadari betapa kecilnya tempat itu.

Mereka masuk ke sebuah toko ramuan.

Elarion berbicara dengan pemilik toko sementara Fiona melihat-lihat rak.

Darrien berdiri di dekat pintu.

Ia memperhatikan orang-orang yang lewat.

Ada yang ramah.

Ada yang tidak peduli.

Ada pula yang memandang mereka dengan rasa ingin tahu.

Seorang pria lewat di depan mereka.

Darrien tiba-tiba merasakan sesuatu.

Sangat samar.

Sebuah hawa dingin.

Ia menoleh.

Pria itu sudah berjalan menjauh.

Darrien memperhatikannya.

“Ada apa?” tanya Fiona.

“Tidak tahu.”

Darrien masih melihat ke arah pria itu.

“Rasanya aneh.”

Fiona ikut melihat.

Namun ia tidak merasakan apa pun.

“Orang itu?”

Darrien mengangguk.

Elarion keluar dari toko.

“Ayo.”

Darrien masih menoleh ke belakang.

Kemudian ia mengikuti.

Mereka menghabiskan beberapa jam di kota.

Fiona mencoba makanan baru.

Darrien membeli pisau kecil untuk latihan setelah mendapat izin Elarion.

Dan sebelum pulang, Elarion memberikan mereka masing-masing sebuah kantong kecil.

“Untuk apa?”

“Uang.”

Fiona langsung menggeleng.

“Kami tidak bisa menerimanya.”

“Bisa.”

“Tapi…”

“Kalian akan membutuhkannya.”

Darrien menerima kantong itu.

“Terima kasih.”

Elarion mengangguk.

Saat mereka meninggalkan kota, Fiona tersenyum sepanjang perjalanan.

“Aku ingin kembali lagi.”

“Boleh.”

“Benarkah?”

“Kalau kalian tidak membuat masalah.”

Fiona tertawa.

Darrien juga tersenyum.

Hari itu, mereka melihat dunia yang jauh lebih besar daripada Akasia.

Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa Lunareth bukan hanya tempat yang memiliki satu kota dan satu hutan.

Ada begitu banyak bangsa.

Begitu banyak tempat.

Begitu banyak kehidupan.

Dan begitu banyak hal yang belum mereka ketahui.

Namun di balik semua itu, Darrien masih memikirkan satu hal.

Hawa dingin samar yang ia rasakan dari pria asing tadi.

Sama seperti yang selama ini muncul dari dalam dirinya.

Hanya saja…

kali ini terasa berbeda.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience