Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
390
Get the app for full experience
BAB 184
MAKAN MALAM DI ISTANA
Malam akhirnya tiba.
Ruang makan kerajaan dipenuhi cahaya kristal yang lembut.
Edward dan Gloria duduk di tempat mereka, sementara Fiona, Darrien, Elarion, Elyon, Kevin, Rowan, dan Ace duduk bersama.
Untuk pertama kalinya setelah kekacauan di lembah—
mereka bisa makan tanpa harus waspada terhadap serangan.
Kevin bahkan terlihat paling bahagia.
“Ini baru makan malam.”
Rowan tertawa kecil.
“Kau sepertinya sudah melupakan pertarungan tadi.”
“Aku tidak melupakannya.”
Kevin mengambil makanan lagi.
“Aku hanya menghargai makanan setelah hampir mati kelaparan.”
Fiona tertawa kecil.
Suasana di meja perlahan menjadi hangat.
Setelah makan beberapa saat, Edward akhirnya berbicara.
“Kalian bertiga.”
Tatapannya beralih kepada Kevin, Rowan, dan Ace.
“Untuk beberapa hari ke depan, kalian tidak perlu kembali menjalankan tugas.”
Ketiganya saling memandang.
Ace tersenyum.
“Yang Mulia memberi kami waktu istirahat?”
Edward mengangguk.
“Kalian sudah bekerja cukup keras.”
Rowan menundukkan kepalanya.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Kevin langsung tersenyum lebar.
“Terima kasih!”
Gloria tertawa kecil melihat reaksinya.
“Sepertinya kau sangat senang.”
“Tentu saja.”
Kevin kembali mengambil makanan.
“Aku sudah lama tidak mendapat waktu istirahat.”
Rowan menggeleng sambil tersenyum.
“Dasar.”
***
Setelah itu, Edward menoleh kepada Elyon.
“Bagaimana denganmu?”
Elyon meletakkan cangkirnya.
“Aku akan melanjutkan perjalananku besok pagi.”
Ia berhenti sejenak.
“Setelah beristirahat malam ini.”
Edward mengangguk.
“Baik.”
Elyon kemudian menatap Fiona.
Tatapannya masih menyimpan rasa penasaran.
Setelah apa yang terjadi di lembah, terlalu banyak hal yang belum ia pahami.
“Aku masih memiliki banyak pertanyaan.”
Elarion mengangkat alis.
“Kau tidak akan mendapatkan jawabannya malam ini.”
Elyon tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Tatapannya kembali kepada Fiona.
“Aku hanya ingin memahami apa yang sebenarnya kulihat.”
Fiona berkedip.
“Aku juga ingin tahu.”
Darrien menatapnya.
“Kita akan mencari tahu perlahan.”
Elyon mengangguk.
“Semoga begitu.”
***
Edward kemudian kembali berbicara.
“Untuk kalian bertiga…”
Tatapannya berpindah kepada Elarion, Darrien, dan Fiona.
“Kalian akan tetap berada di Veyth sampai kondisi kalian pulih sepenuhnya.”
Elarion mengangguk.
“Itu akan sangat membantu.”
Darrien juga mengangguk.
Fiona terlihat lega.
“Berarti aku boleh tidur lebih banyak?”
Kevin langsung tertawa.
“Kau baru saja tidur sangat lama.”
Fiona memelototinya.
“Aku masih lelah!”
Darrien tersenyum kecil.
“Biarkan dia.”
Gloria memperhatikan mereka dengan senyum lembut.
“Gunakan waktu ini untuk beristirahat.”
Edward mengangguk.
“Tidak perlu terburu-buru kembali.”
Mereka semua menyetujui keputusan itu.
Namun di balik keputusan sederhana tersebut—
Edward dan Gloria mendapatkan sesuatu yang mereka butuhkan.
**Waktu.**
Waktu untuk mencari bukti terakhir.
Waktu untuk memastikan kebenaran.
Dan waktu untuk memastikan bahwa Darrien benar-benar putra mereka.
***
Setelah makan malam selesai—
mereka akhirnya berpencar.
Kevin, Rowan, dan Ace kembali menuju kamar yang telah disiapkan untuk mereka.
Mereka memang mendapatkan beberapa hari waktu istirahat sebelum kembali menjalankan tugas.
Elyon juga menuju kamarnya.
Ia akan melanjutkan perjalanannya keesokan pagi.
Elarion berjalan menuju kamarnya.
Sementara Darrien membawa Fiona menuju kamar yang telah disiapkan untuk mereka.
Fiona menguap.
“Tempat ini besar sekali…”
Darrien tersenyum.
“Kau bahkan belum melihat semuanya.”
Fiona menatap lorong kristal di depan mereka.
“Kalau begitu…”
Ia kembali menguap.
“…besok saja.”
Darrien tertawa kecil.
“Besok.”
Mereka akhirnya memasuki kamar masing-masing.
Pintu tertutup perlahan.
Untuk malam itu—
istana Veyth akhirnya benar-benar tenang.
Tidak ada pertempuran.
Tidak ada vampire.
Tidak ada penelitian.
Tidak ada pengejaran.
Hanya malam yang tenang…
dan beberapa rahasia besar yang masih menunggu waktunya untuk terungkap.
