Completed
594
BAB 479 — SATU BULAN BERSAMA MONSTER GURU
Dan sejak hari itu...
latihan Darrien berubah menjadi mimpi buruk.
Bukan karena kekuatan Grandmaster yang baru berada di dalam tubuhnya.
Bukan juga karena tubuhnya belum terbiasa dengan magicure yang semakin padat.
Masalah sebenarnya adalah—
Kevin.
Hari pertama.
Kevin membawa magical dummy versi pertama.
Bentuknya masih menyerupai dummy biasa.
Hanya saja inti sihirnya lebih padat, pergerakannya lebih cepat, dan responsnya jauh lebih agresif.
Darrien berdiri di tengah medan.
Kevin berdiri di luar lingkaran.
"Mulai."
WHOOOSH!
Dummy langsung menyerang.
Darrien menghindar.
BAM!
Serangan kedua datang dari samping.
Darrien menangkis.
DUK!
Kemudian serangan ketiga.
Keempat.
Kelima.
Darrien akhirnya menghantam dummy dengan satu pukulan.
BOOM!
Tubuh dummy terlempar.
Darrien mengatur napas.
"Sudah?"
Kevin melihat catatannya.
"Belum."
Darrien mengangkat alis.
"...Belum?"
Kevin mengangkat satu jari.
"Versi kedua."
Darrien terdiam.
"Secepat itu?"
Kevin tersenyum.
"Aku sudah punya desainnya."
Darrien memejamkan mata.
Ia mulai merasakan firasat buruk.
---
Hari ketiga.
Versi kedua.
Dummy sekarang bisa mengubah arah serangan di tengah gerakan.
Darrien menghindari satu pukulan.
Dummy berputar.
BAM!
Darrien terkena bahu.
Tubuhnya terdorong beberapa meter.
Ia mengangkat kepala.
"..."
Kevin langsung menulis sesuatu.
"Respons tubuh meningkat."
Darrien berdiri.
"Kevin."
"Hm?"
"Apakah kau sengaja membuatnya lebih cepat?"
Kevin menjawab tanpa ragu.
"Ya."
"..."
"Bagaimana lagi aku mendapatkan data?"
Darrien menatapnya lama.
"Kadang aku berpikir kau terlalu menikmati ini."
Kevin tersenyum.
"Aku memang menikmatinya."
Darrien:
"...Aku menghargai kejujuranmu."
Lalu dummy menyerang lagi.
"WHOA!"
Darrien langsung bergerak.
---
Hari ketujuh.
Versi ketiga.
Sekarang jumlah dummy bertambah.
Bukan satu.
Lima.
Mereka memiliki pola serangan berbeda.
Satu menyerang dari depan.
Dua dari sisi.
Dua lainnya menunggu celah.
Darrien memejamkan mata.
Magicure bergerak di dalam tubuhnya.
Ia tidak lagi hanya mengandalkan penglihatan.
Ia merasakan posisi mereka.
Langkah.
Tekanan udara.
Perubahan energi.
Gerakan magicure.
WHOOSH!
Darrien menghindari satu.
Berputar.
DUK!
Satu dummy dihantam.
BAM!
Yang kedua ditendang.
Namun—
DUARR!
Dummy ketiga menghantam punggungnya.
Darrien terlempar.
Ia berguling beberapa kali sebelum berhenti.
Ace yang menonton dari luar langsung meringis.
"Ouch."
Rowan mengangguk.
"Itu terlihat sakit."
Ace menoleh kepadanya.
"Menurutmu?"
Rowan melihat Darrien yang sedang berdiri lagi.
"...Ya."
Ace mengangguk.
"Kita sepakat."
Darrien menatap mereka dari kejauhan.
"KALIAN BISA BERHENTI MENONTON!"
Ace langsung mengangkat kedua tangan.
"Kami mendukungmu!"
"Kau tertawa!"
"Itu bentuk dukungan emosional!"
Darrien menggeram.
Dummy kembali menyerang.
Ace langsung duduk.
"Ah. Pertunjukan dimulai lagi."
---
Minggu kedua.
Versi keempat.
Kevin menambahkan kemampuan membaca pola magicure.
Sekarang dummy tidak hanya menyerang tubuh Darrien.
Mereka mulai membaca kebiasaannya.
Jika Darrien sering menghindar ke kiri—
dummy berikutnya menunggu di kiri.
Jika ia melompat—
dummy menyerang udara.
Jika ia menggunakan magicure untuk mempercepat tubuh—
dummy mempersempit ruang geraknya.
Untuk pertama kalinya...
Darrien benar-benar kesulitan.
BAM!
Satu serangan mengenai perutnya.
DUK!
Serangan kedua menghantam bahunya.
WHAM!
Ketiga menghantam sisi tubuhnya.
Darrien terhuyung.
Namun ia tidak jatuh.
Ia menarik napas.
Perlahan.
Magicure di dalam tubuhnya bergerak.
Padat.
Dalam.
Stabil.
Darrien mengangkat kepalanya.
"...Jadi kau belajar dari gerakanku."
Kevin mengangguk.
"Ya."
Darrien tersenyum tipis.
"Bagus."
Kevin mengangkat alis.
"Bagus?"
"Kalau begitu..."
Magicure mulai berkumpul di sekitar tubuh Darrien.
"...aku juga akan belajar darimu."
WHOOOM!
Darrien menghilang.
Kevin langsung tersenyum.
"Menarik."
Ace yang berdiri di belakangnya langsung menghela napas.
"Jangan bilang 'menarik'."
Kevin tidak menjawab.
Darrien muncul di antara dua dummy.
BAM!
Satu jatuh.
Ia berputar.
DUARR!
Yang kedua terlempar.
Dummy ketiga mencoba menyerang dari belakang.
Darrien sudah bergerak lebih dulu.
Ia menunduk.
Menarik kaki dummy.
Kemudian—
BOOM!
Tubuh dummy dihantam ke tanah.
Debu naik.
Darrien berdiri.
Napasnya berat.
Namun matanya tetap tajam.
Kevin menulis sesuatu.
"Adaptasi meningkat."
Ace melihat catatan itu.
"Berapa halaman sekarang?"
Kevin menjawab santai.
"Empat puluh dua."
Ace terdiam.
"...Untuk Darrien?"
"Ya."
Ace menatap Darrien.
Kemudian Kevin.
Kemudian Darrien lagi.
"Kasihan."
Darrien mendengar itu.
"Terima kasih."
Ace menggeleng.
"Bukan kau."
Darrien:
"..."
Ace menunjuk Kevin.
"Kasihan Kevin kalau kau berhenti berkembang."
Kevin tersenyum.
"Itu tidak akan terjadi."
Darrien mengusap wajahnya.
"Kenapa aku merasa aku sedang membantu menciptakan monster?"
Rowan menjawab dari belakang.
"Karena memang begitu."
---
Minggu ketiga.
Versi kelima.
Darrien melihat lima magical dummy baru berdiri di hadapannya.
Ia diam.
Kemudian menoleh kepada Kevin.
"...Lima?"
Kevin mengangguk.
"Ya."
"Kenapa mereka lebih besar?"
"Lebih tahan terhadap serangan."
"Kenapa inti sihirnya lebih padat?"
"Supaya tidak hancur terlalu cepat."
"Kenapa mereka memiliki tiga lapisan pertahanan?"
"Supaya kau tidak menyelesaikan latihan terlalu cepat."
Darrien menatap Kevin.
"...Kau sengaja."
Kevin tersenyum.
"Tentu."
Darrien menghela napas.
"Monster."
Kevin mengangkat bahu.
"Terima kasih."
"Aku tidak sedang memuji."
"Aku tetap menerimanya."
Ace yang mendengar percakapan itu langsung tertawa.
"HAHAHAHA!"
Darrien menunjuknya.
"Kau diam."
Ace langsung menutup mulut.
Namun bahunya masih bergerak karena menahan tawa.
Rowan bahkan tidak berusaha menyembunyikan senyumnya.
Elyon dan Elarion yang sedang memeriksa catatan penelitian di sisi lain hanya menggeleng.
Mereka sudah terlalu terbiasa.
Darrien menarik napas.
Kemudian—
"Mulai."
Kelima dummy bergerak.
WHOOOSH!
Darrien langsung menghilang.
Satu serangan datang dari kanan.
Ia menunduk.
Serangan kedua dari kiri.
Ia memutar tubuh.
Serangan ketiga dari belakang.
Darrien mengangkat tangan.
DUK!
Magicure menahan serangan.
Namun dummy keempat muncul dari atas.
Darrien melihat bayangannya.
Ia melompat.
Dummy menghantam tanah.
BRAAK!
Retakan menyebar.
Darrien berputar di udara.
Magicure terkumpul di kakinya.
"Jangan terlalu lambat."
BOOM!
Tendangannya menghantam dummy.
Tubuh itu terpental.
Namun tiga lainnya mengejar.
Darrien menarik napas.
Magicure di dalam tubuhnya semakin padat.
Kali ini...
ia tidak memaksa kekuatan itu.
Ia membiarkannya mengalir.
Cepat.
Ringan.
Stabil.
WHOOSH!
Darrien bergerak.
Satu.
Dua.
Tiga.
Serangan demi serangan berhasil dihindari.
Kemudian—
DUARR!
Satu pukulan menghancurkan lapisan pertama pertahanan dummy.
BAM!
Serangan kedua menghancurkan lapisan kedua.
Dan—
BOOM!
Serangan ketiga menghantam inti.
Dummy jatuh.
Darrien mendarat.
Napasnya terengah.
Keringat membasahi wajahnya.
Namun ia masih berdiri.
Kevin melihat catatannya.
Untuk beberapa detik...
ia hanya diam.
Kemudian tersenyum puas.
"Data lengkap."
Darrien menatapnya.
"...Selesai?"
Kevin mengangguk.
"Untuk hari ini."
Darrien hampir jatuh karena lega.
"Syukurlah..."
Kevin menambahkan,
"Besok kita bisa mulai variasi baru."
Darrien langsung berdiri lagi.
"...Apa?"
Ace meledak tertawa.
"HAHAHAHAHAHA!"
Rowan menutup wajahnya.
Elyon bahkan sampai tertawa kecil.
Elarion menggeleng.
Darrien menatap Kevin dengan tatapan kosong.
"...Aku membencimu."
Kevin tersenyum.
"Aku tahu."
---
Satu bulan berlalu.
Sejak menerima kekuatan Grandmaster Darrien—
Darrien tidak langsung menjadi penguasa kekuatan baru itu.
Ia belajar.
Hari demi hari.
Ia menjaga aliran magicure tetap stabil.
Menyesuaikan tubuhnya dengan kepadatan energi baru.
Belajar membedakan kekuatan miliknya sendiri dengan warisan yang diberikan Grandmaster Darrien.
Dan yang paling penting—
ia belajar mengendalikan kekuatan itu tanpa membiarkannya menguasai dirinya.
Kecepatannya meningkat.
Refleksnya menjadi jauh lebih tajam.
Magicure di dalam tubuhnya terasa lebih dalam dan padat.
Namun kekuatan itu sekarang tidak lagi terasa asing.
Ia mulai menjadi bagian dari dirinya.
Darrien berdiri di medan latihan setelah sesi terakhir.
Ia menatap lima magical dummy yang sudah rusak.
Kemudian menatap Kevin.
Kevin sedang memeriksa data.
Wajahnya...
puas.
Sangat puas.
Darrien menghela napas.
"...Aku benci mengakuinya."
Kevin mengangkat kepala.
"Hm?"
Darrien menatap tangannya.
"...Tapi semua ini berhasil karena latihanmu."
Kevin tersenyum.
"Aku tahu."
Darrien langsung menatapnya.
"Jangan terlalu bangga."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Ekspresimu mengatakan semuanya."
Ace tertawa dari kejauhan.
"Dia benar!"
Rowan mengangguk.
"Kevin memang terlihat bahagia."
Darrien menghela napas.
"Monster guru."
Kevin kembali membaca catatan.
"Kalau kau masih bisa mengeluh..."
Ia tersenyum tipis.
"...berarti latihanmu belum cukup."
Darrien membeku.
Ace langsung berbisik kepada Rowan.
"Dia kena lagi."
Rowan mengangguk.
"Kasihan."
---
Beberapa hari kemudian—
Veyth akhirnya mendapatkan sesuatu yang selama ini mereka cari.
Relasi antara rune.
Pola ruang.
Dan mekanisme perubahan jalur di pegunungan Shadowcresent.
Mereka belum memahami seluruh sistem.
Namun mereka menemukan sesuatu yang cukup penting.
Sebuah pola.
Sebuah mekanisme yang dapat mereka gunakan untuk membaca perubahan jalur.
Bukan untuk langsung membuka jalan ke istana.
Tetapi cukup untuk memberi mereka kesempatan mempertahankan arah.
Dan setelah satu bulan penuh penelitian...
mereka akhirnya mengambil keputusan.
Mereka akan pergi lagi.
Ke Shadowcresent.
Kali ini—
bukan sekadar mencoba masuk.
Mereka akan menguji semua yang telah mereka pelajari.
Tiga hari kemudian.
Pagi masih dingin ketika rombongan Veyth berkumpul di luar istana.
Darrien berdiri paling depan.
Elyon memeriksa perlengkapan.
Elarion memastikan gulungan penelitian tersimpan aman.
Rowan membawa catatan.
Ace memeriksa persediaan.
Dan Kevin...
membawa satu gulungan tambahan.
Darrien melihatnya.
"...Itu apa?"
Kevin tersenyum.
"Versi baru."
Darrien langsung memejamkan mata.
Ace tertawa.
"HAHAHA! Bahkan sebelum berangkat!"
Rowan menepuk bahu Darrien.
"Selamat."
Darrien menghela napas panjang.
Kemudian ia menatap jauh ke arah pegunungan.
Shadowcresent.
Tempat Fiona berada.
Sudah terlalu lama.
Tangannya mengepal.
Magicure di dalam tubuhnya bergerak tenang.
Padat.
Stabil.
Kali ini...
ia merasa jauh lebih siap daripada sebelumnya.
Darrien menarik napas.
Kemudian melangkah maju.
Tatapannya menjadi tajam.
"Fiona..."
Ia menggenggam tangannya.
"...tunggu aku."
Suaranya rendah.
Namun penuh keyakinan.
"Kali ini..."
Ia menatap ke arah langit.
"...tunggu aku, Fiona."
Rombongan Veyth mulai bergerak.
Menuju perjalanan ketiga mereka ke Shadowcresent.
Dan kali ini—
Darrien tidak datang sebagai pria yang hanya mengejar kekuatan.
Ia datang sebagai seseorang yang telah belajar mengendalikan warisan masa lalunya.
Seseorang yang telah mempersiapkan dirinya selama satu bulan.
Seseorang yang akhirnya mulai mendekati batas baru kekuatannya.
Dan di kejauhan...
pegunungan Shadowcresent menunggu.
Tanpa mengetahui bahwa kali ini—
Veyth datang dengan sesuatu yang berbeda.
Share this novel