Series
382
BAB 240
Malam masih menyelimuti Veyth.
Di dalam kamar Fiona—
suasana masih terasa tenang.
Namun ketenangan itu berbeda dari sebelumnya.
Fiona sudah terbangun.
Darrien masih duduk di samping tempat tidurnya.
Dan Elarion—
masih berdiri dengan sebuah buku tua di tangannya.
Buku itu sudah cukup lama.
Sampulnya terlihat usang.
Beberapa bagian bahkan tampak seperti pernah terkena air atau terbakar.
Namun satu hal masih terlihat jelas.
Simbol daun perak.
Elarion mengangkat buku itu sedikit.
“Simbol ini…”
Fiona langsung melihatnya.
“Benar-benar sama?”
Elarion mengangguk.
“Persis.”
Fiona perlahan mengangkat tangannya.
Gelang di pergelangan tangannya terlihat jelas di bawah cahaya bulan.
“Bahkan bentuk daunnya?”
“Ya.”
Elarion mendekat.
Ia membandingkan gambar di buku dengan gelang Fiona.
Tidak ada perbedaan yang berarti.
Fiona menghela napas.
“Berarti gelang ini memang bukan sesuatu yang muncul begitu saja.”
“Sepertinya tidak.”
Darrien menyandarkan tubuhnya sedikit.
“Seberapa tua catatan itu?”
Elarion melihat halaman.
“Sulit memastikan.”
“Sulit?”
“Buku ini sudah beberapa kali disalin.”
Ia membalik halaman.
“Jadi aku tidak bisa menentukan apakah simbol ini berasal dari catatan asli atau sudah dimodifikasi oleh penulis berikutnya.”
Fiona mengerutkan kening.
“Jadi kita masih belum tahu apa-apa?”
Elarion tersenyum tipis.
“Tidak.”
Fiona mengangkat alis.
Elarion melanjutkan,
“Kita sekarang tahu bahwa simbol ini pernah tercatat.”
Fiona terdiam.
“…”
“Dan itu lebih baik daripada tidak memiliki apa pun.”
Fiona menghela napas.
“Sedikit.”
Darrien tertawa kecil.
Fiona langsung menoleh.
“Kau tertawa?”
“Tidak.”
“Kau jelas tertawa.”
“Aku hanya tersenyum.”
“Kenapa?”
“Karena ekspresimu.”
Fiona mengembungkan pipinya.
“Aku sedang serius.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu jangan tertawa.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Ia mencoba memasang wajah serius.
Fiona menatapnya beberapa detik.
Kemudian—
“…”
Ia sendiri malah tertawa kecil.
Elarion menggeleng.
“Kalian benar-benar…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Fiona menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Elarion kembali melihat bukunya.
Namun ekspresinya perlahan menjadi serius lagi.
“Fiona.”
“Hm?”
“Aku ingin menanyakan sesuatu tentang mimpimu.”
Fiona mengangguk.
“Tanyakan saja.”
“Ketika kau menemukan kristal kecil itu…”
“Ya?”
“Apakah kau langsung tahu bahwa benda itu berhubungan dengan gelangmu?”
Fiona berpikir.
“Tidak.”
“Lalu kapan?”
“Setelah aku menyentuhnya.”
“Bagaimana rasanya?”
Fiona terdiam.
Ia mencoba mengingat.
“Hangat.”
Elarion mengangguk.
“Panas?”
“Tidak.”
“Seperti sihir?”
Fiona menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu?”
Fiona menatap tangannya.
“Lebih seperti…”
Ia berhenti.
Darrien menunggu.
Elarion juga.
Fiona akhirnya berkata,
“…seperti sesuatu yang sudah mengenalku.”
Elarion tidak langsung menjawab.
Darrien menatap Fiona.
“Sudah mengenalmu?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
“Seperti seseorang yang sudah lama mengenalmu?”
Fiona kembali berpikir.
“Bukan seseorang.”
Ia mengusap gelangnya.
“Lebih seperti…”
“Bagian dari diriku sendiri.”
Ruangan menjadi sunyi.
Elarion menatap gelang itu lebih lama.
Darrien juga.
Fiona sendiri terlihat sedikit bingung dengan kata-katanya.
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”
“Tidak apa-apa.”
Elarion mengangguk.
“Perasaan seperti itu justru penting.”
Fiona menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kalau benda itu hanya benda sihir biasa…”
Elarion menunjuk gelang.
“…kau mungkin hanya akan merasakan energinya.”
Ia kemudian menunjuk dada Fiona.
“Tapi kau mengatakan bahwa rasanya seperti bagian dari dirimu.”
Fiona mengangguk perlahan.
“Ya.”
Elarion menarik napas.
“Itu berarti hubungan kalian mungkin lebih dalam daripada sekadar pemilik dan benda.”
Darrien langsung bertanya,
“Jadi apa?”
Elarion menggeleng.
“Aku belum tahu.”
Fiona mendesah.
“Lagi.”
Elarion tertawa.
“Maaf.”
“Jawabanmu selalu ‘belum tahu’.”
“Karena memang aku belum tahu.”
Fiona memelototinya.
“Kalau begitu cari lebih cepat.”
Elarion tertawa kecil.
“Aku sedang berusaha.”
***
Beberapa detik kemudian—
Fiona tiba-tiba teringat sesuatu.
“Oh.”
Darrien menoleh.
“Apa?”
Fiona menatap Elarion.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Wanita itu.”
Elarion langsung fokus.
“Wanita di potret?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
“Dia muncul lagi?”
“Bukan tepat seperti sebelumnya.”
Fiona mengerutkan kening.
“Aku tidak melihat wajahnya.”
Elarion bertanya,
“Tapi kau yakin itu wanita yang sama?”
“Rasanya begitu.”
“Kenapa?”
“Kristalnya.”
Fiona menyentuh gelang.
“Dia memegang kristal yang sama.”
Elarion terdiam.
Darrien bertanya,
“Dan dia mengatakan sesuatu?”
Fiona menggeleng.
“Tidak banyak.”
“Apa yang dia katakan?”
Fiona menatap mereka.
“Pulang.”
Darrien mengerutkan kening.
“Sekali lagi?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Elarion perlahan menutup bukunya.
“Pulang…”
Ia mengulang kata itu.
Fiona mengangguk.
“Awalnya aku kira dia menyuruhku kembali ke Crystal Hall.”
“Namun sekarang?”
Fiona menatap gelangnya.
“Aku tidak yakin.”
Elarion mengangguk.
“Bagus.”
Fiona mengangkat alis.
“Bagus?”
“Karena kau tidak langsung menyimpulkan sesuatu.”
Ia berjalan beberapa langkah di dalam kamar.
“Kalau kata itu muncul berkali-kali…”
Elarion berhenti.
“…mungkin memang ada makna khusus.”
Darrien bertanya,
“Pulang ke mana?”
Elarion menggeleng.
“Itulah yang harus kita cari.”
Fiona menarik napas.
“Kalau begitu kita punya dua pertanyaan.”
Elarion menoleh.
“Dua?”
“Siapa wanita itu.”
Fiona mengangkat satu jari.
“Dan apa maksud ‘pulang’.”
Ia mengangkat jari kedua.
Darrien tersenyum kecil.
“Ditambah satu lagi.”
Fiona menatapnya.
“Apa?”
“Kenapa gelang itu mengikuti kau dari mimpi.”
Fiona terdiam.
“Oh.”
Elarion mengangguk.
“Benar.”
Fiona menghela napas.
“Sekarang jadi tiga.”
Darrien tertawa.
“Selamat.”
Fiona memelototinya.
“Ini bukan sesuatu yang harus kau rayakan.”
“Aku hanya mengatakan.”
“Tidak membantu.”
***
Tiba-tiba—
cahaya tipis muncul di gelang Fiona.
Ketiganya langsung terdiam.
Fiona melihat pergelangan tangannya.
“…”
Cahaya itu berdenyut.
Sekali.
Kemudian—
padam.
Fiona menggerakkan tangannya.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Darrien langsung berkata,
“Aku tahu.”
Elarion mendekat.
“Jangan sentuh dulu.”
Fiona menghentikan tangannya.
“Kenapa?”
“Aku ingin melihat apakah reaksinya muncul lagi.”
Mereka menunggu.
Beberapa detik.
Tidak ada apa-apa.
Elarion masih memperhatikan.
Kemudian—
cahaya itu muncul lagi.
Kali ini lebih kecil.
Namun tepat di tengah simbol daun—
muncul sebuah titik cahaya.
Elarion langsung membungkuk.
“…”
Fiona menahan napas.
“Apa itu?”
“Entahlah.”
Fiona menatapnya tajam.
“Elarion.”
“Benar-benar.”
Ia mengamati cahaya tersebut.
“Namun aku belum pernah melihat pola seperti ini pada sihir Light biasa.”
Darrien langsung menoleh.
“Jadi ini bukan Light Magic?”
Elarion tidak menjawab dengan cepat.
“Bukan berarti bukan.”
Ia memilih kata-katanya hati-hati.
“Mungkin lebih tepat…”
Ia menatap Fiona.
“…ini bukan bentuk Light Magic yang kita kenal.”
Fiona menghela napas.
“Jadi semakin aneh.”
“Ya.”
“Bagus.”
Fiona menjatuhkan tubuhnya ke bantal.
“Bagus sekali.”
Darrien tertawa kecil.
Elarion juga tersenyum.
Namun kemudian—
cahaya itu menghilang.
Fiona kembali melihat gelangnya.
“Sudah.”
Elarion mengangguk.
“Aku akan mencatat waktunya.”
“Untuk apa?”
“Untuk melihat apakah reaksinya memiliki pola.”
Fiona mengangkat alis.
“Kau benar-benar akan mencatat semuanya?”
“Ya.”
“Bahkan kalau menyala tengah malam?”
“Terutama kalau tengah malam.”
Fiona tertawa.
“Gila.”
Elarion mengangkat bahu.
“Penasaran.”
***
Beberapa saat kemudian—
Elarion akhirnya menutup bukunya.
“Aku akan kembali ke perpustakaan.”
Fiona menatapnya.
“Sekarang?”
“Ya.”
“Bukankah sudah malam?”
“Justru itu.”
Fiona mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena sebagian besar catatan lama yang belum aku periksa ada di bagian arsip malam.”
Darrien mengangkat alis.
“Arsip malam?”
Elarion tersenyum.
“Ruangan yang jarang dibuka.”
Fiona langsung tertarik.
“Boleh ikut?”
Darrien langsung menoleh kepadanya.
“Kau baru bangun.”
Fiona terdiam.
“…Benar.”
Darrien tersenyum.
“Besok.”
Fiona menghela napas.
“Baiklah.”
Elarion berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar—
Fiona memanggilnya.
“Elarion.”
Ia menoleh.
“Ya?”
“Kalau kau menemukan sesuatu…”
Fiona menunjuk gelangnya.
“…jangan simpan sendiri.”
Elarion tersenyum.
“Aku akan memberitahumu.”
“Janji?”
“Janji.”
Ia kemudian keluar.
Pintu tertutup.
***
Koridor istana terasa sepi.
Elarion berjalan sambil membawa buku tua tadi.
Namun setelah beberapa langkah—
ia berhenti.
Entah kenapa—
ada sesuatu yang mengganggunya.
Ia membuka buku itu lagi.
Simbol daun perak masih berada di sana.
Ia melihatnya.
Kemudian mengingat cerita Fiona.
Wanita dalam potret.
Kristal.
Gelang.
Kata—
**pulang.**
Elarion mengerutkan kening.
Ia membalik halaman.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian—
sebuah halaman yang sebelumnya tidak terlalu ia perhatikan terbuka.
Ada tulisan samar di bagian bawah.
Elarion mendekat.
“…”
Ia membersihkan debu dari halaman tersebut.
Tulisan menjadi sedikit lebih jelas.
Ia membaca perlahan.
**“Cahaya yang kembali…”**
Elarion mengerutkan kening.
Ia mengusap halaman.
Ada tulisan lain di bawahnya.
Lebih pudar.
Ia memiringkan buku agar terkena cahaya bulan dari jendela.
Dan akhirnya—
ia bisa membacanya.
**“Jangan biarkan…”**
Elarion berhenti.
Ia memperhatikan bagian berikutnya.
“…pulang.”
Matanya langsung melebar.
“…”
Ia membaca ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
**Jangan biarkan pulang.**
Namun bagian sebelum atau sesudahnya—
telah rusak.
Elarion menutup mata sebentar.
“Tidak mungkin…”
Ia membuka halaman lain.
Kosong.
Kembali ke halaman sebelumnya.
Masih sama.
Hanya empat kata itu.
Tidak lebih.
Elarion menatap lorong menuju kamar Fiona.
Wajahnya perlahan menjadi serius.
Tadi Fiona mengatakan—
seseorang di dalam mimpinya terus menyuruhnya **pulang**.
Dan sekarang—
ia menemukan catatan lama yang mengatakan:
**Jangan biarkan pulang.**
Dua kalimat.
Dua arah yang berlawanan.
Elarion menggenggam buku itu lebih erat.
“Kalau begitu…”
Ia menatap simbol daun perak.
“…siapa yang ingin dia pulang?”
Ia berhenti.
Kemudian pertanyaan lain muncul di pikirannya.
“Dan…”
Tatapannya menjadi semakin tajam.
“…siapa yang tidak ingin dia pulang?”
Untuk pertama kalinya malam itu—
Elarion tidak lagi merasa sedang mencari sekadar sejarah.
Ia merasa—
seseorang mungkin telah sengaja menyembunyikan sesuatu.
Dan Fiona—
mungkin bukan sekadar orang yang menemukan rahasia itu.
**Mungkin dia adalah bagian dari rahasia tersebut.**
Share this novel