146. Satu Kecupan

Romance Series 382

BAB 146
SATU KECUPAN

Aku masih berdiri di depan pintu kamar.

Diam.

Tidak bergerak.

Tanganku masih menyentuh pipiku.

Bagian yang baru saja dicium Fiona.

Aku menatap pintu di depanku.

Pintu itu sudah tertutup.

Fiona sudah masuk ke kamarnya.

Namun entah kenapa—

aku masih belum bisa bergerak.

“…”

Aku menghela napas.

Apa yang baru saja terjadi?

Sebuah kecupan.

Hanya kecupan singkat.

Di pipi.

Tidak lebih.

Lalu kenapa jantungku berdetak seperti orang bodoh?

Aku menggeleng.

“Tenang.”

Aku berbicara kepada diriku sendiri.

“Itu hanya Fiona.”

Aku terdiam.

Justru kalimat itu membuatku semakin sadar.

**Hanya Fiona.**

Seseorang yang sudah bersamaku selama enam tahun.

Seseorang yang selalu menggenggam tanganku ketika kami masih kecil.

Seseorang yang pernah membuatku hampir kehilangan akal ketika keluarga Greig memisahkan kami.

Dan sekarang—

dia baru saja mencium pipiku.

Aku mengusap wajah.

“Kenapa aku memikirkan ini terlalu banyak?”

Aku berjalan menuju kamarku.

Kemudian berhenti lagi.

Aku menoleh ke pintu kamar Fiona.

Tidak ada suara.

Mungkin dia sudah tidur.

Aku tersenyum kecil.

Ternyata dia juga bisa membuatku terkejut.

Aku masuk ke kamar.

Menutup pintu.

Kemudian bersandar di belakangnya.

Aku memejamkan mata.

Masih terasa.

Kecupan singkat itu.

Aku tertawa kecil.

“Fiona…”

Aku menggeleng.

“Dia benar-benar…”

Aku tidak melanjutkan.

Aku berjalan menuju tempat tidur.

Namun ketika berbaring—

aku kembali mengingat kejadian tadi.

Cara dia menarik tanganku.

Wajahnya yang memerah.

Kemudian kecupan singkat itu.

Dan setelahnya—

dia langsung melarikan diri ke kamarnya.

Aku tertawa.

“Pengecut.”

Aku tahu dia mungkin mendengar jika aku mengatakannya terlalu keras.

Jadi aku hanya tersenyum.

Namun kemudian senyumku perlahan menghilang.

Pikiranku kembali kepada kejadian di hutan.

Ketika dia ditarik menjauh dariku.

Ketika aku tidak bisa menjangkaunya.

Ketika aku hampir kehilangan kendali.

Aku mengepalkan tangan.

Aku tidak ingin merasakan itu lagi.

Aku tidak ingin kehilangan Fiona.

Tidak sekarang.

Tidak setelah enam tahun.

Aku memejamkan mata.

“Aku akan melindungimu.”

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan masa laluku.

Tidak tahu siapa diriku sebenarnya.

Tidak tahu mengapa kekuatanku disegel.

Tidak tahu kenapa sihirku memiliki kemiripan dengan kerajaan Veyth.

Namun satu hal—

aku tahu.

Selama Fiona masih berada di sisiku…

aku akan terus berjalan bersamanya.

Aku membuka mata.

Kemudian tersenyum kecil.

“Dan mungkin…”

Aku menyentuh pipiku sekali lagi.

“…aku harus membalas kecupan itu suatu hari nanti.”

Aku langsung tertawa pelan.

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Jangan terburu-buru.”

Untuk pertama kalinya malam itu—

aku benar-benar merasa tenang.

Aku menarik selimut.

Memejamkan mata.

Dan sebelum tidur—

aku masih sempat tersenyum.

Satu kecupan kecil.

Namun entah kenapa—

rasanya jauh lebih berharga daripada yang seharusnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience