337. Dua Kerajaan , Satu Kebenaran

Romance Series 390

BAB 337 — DUA KERAJAAN, SATU KEBENARAN

Setelah semua yang terjadi di Crystal Hall—

dua kerajaan akhirnya tidak bisa lagi menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang sederhana.

Di satu sisi—

Lunaris.

Di sisi lain—

Veyth.

Dua kerajaan Elf yang selama ini memiliki sejarah dan urusan mereka sendiri, kini harus menghadapi satu kenyataan yang sama.

Fiona.

Dan Darrien.

***

DI LUNARIS

Zeith duduk di kursi kerajaannya.

Seraphine berada di sampingnya.

Di hadapan mereka—

Elyon, Elarion, dan Sylvester.

Tidak jauh dari sana, beberapa catatan kuno yang berhasil dikumpulkan dari Crystal Hall terbuka di atas meja.

Namun sebagian besar masih kosong.

Tidak ada jawaban.

Hanya pertanyaan.

Zeith menatap salah satu dokumen.

“Jadi… semua catatan tentang era itu benar-benar telah hilang.”

Sylvester mengangguk.

“Bukan hanya hilang.”

Ia menunjuk beberapa bagian dokumen.

“Beberapa catatan tampaknya sengaja dihapus.”

Seraphine mengerutkan kening.

“Dan Fiona berasal dari zaman itu.”

“Ya.”

Elyon menjawab.

“Lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lalu.”

Zeith terdiam.

Ia masih sulit menerima kenyataan tersebut.

Seorang wanita yang selama ini mereka kenal sebagai Fiona—

ternyata pernah hidup jauh sebelum kerajaan Lunaris berdiri seperti sekarang.

Dan ia bukan hanya seseorang dari masa lalu.

Ia adalah—

Saintess dari Light Elf.

Seraphine menghela napas.

“Berarti gelar Saintess yang selama ini kita kenal…”

“Berasal dari zaman yang jauh lebih tua.”

Elyon mengangguk.

“Dan Fiona adalah salah satu pemilik gelar itu.”

***

Zeith kemudian melihat Seraphine.

“Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?”

Seraphine berpikir sejenak.

“Kita tidak boleh memaksanya.”

Ia mengingat ekspresi Fiona.

“Dia sudah membawa beban itu sendirian selama ribuan tahun.”

Elyon mengangguk.

“Setuju.”

Sylvester menambahkan,

“Namun kita juga tidak bisa membiarkan sejarah itu tetap menjadi misteri.”

Zeith menatapnya.

“Crystal Hall?”

“Crystal Hall.”

Sylvester menjawab.

“Jika tempat itu memang lebih tua daripada Lunaris…”

Ia berhenti.

“…maka mungkin masih ada sesuatu yang tertinggal di sana.”

Elarion mengangguk.

“Dan sekarang kristal utamanya sudah menjadi bagian dari Fiona.”

Seraphine menatap kosong ke depan.

“Berarti…”

Ia tersenyum tipis.

“…jawaban itu sekarang berada di dalam dirinya.”

***

ZEITH akhirnya membuat keputusan.

“Kita tidak akan mengejar Fiona.”

Semua mengangguk.

“Namun kita akan mempersiapkan diri.”

Elyon menatapnya.

“Untuk apa?”

“Untuk saat dia siap menceritakan semuanya.”

Zeith berdiri.

“Dan jika sejarah lama itu ternyata memiliki dampak terhadap dunia sekarang…”

Tatapannya menjadi serius.

“…Lunaris harus siap.”

Seraphine mengangguk.

“Dan kita juga harus berbicara dengan Veyth.”

***

DI VEYTH

Sementara itu—

Edward dan Gloria telah kembali ke kerajaan mereka.

Namun sejak tiba—

keduanya hampir tidak berbicara.

Mereka masih memikirkan apa yang telah mereka lihat.

Tentang Darrien.

Tentang Fiona.

Tentang anak mereka yang ternyata memiliki kehidupan jauh sebelum mereka mengenalnya sebagai putra mereka.

Gloria duduk diam.

Tangannya masih menggenggam satu bagian kecil dari kain yang biasa ia simpan sejak Darrien kecil.

Edward berdiri di dekat jendela.

“Selama ini…”

Ia menarik napas.

“…kita mengira Darrien hilang.”

Gloria menundukkan kepala.

“Ternyata dia hidup.”

“Ya.”

“Dan seseorang membawanya pergi.”

Edward diam.

Ia tidak langsung marah.

Karena ia juga melihat kenangan itu.

Ia melihat Fiona.

Ia melihat bagaimana wanita itu menjaga jiwa Darrien.

Ia melihat kesepiannya.

Dan ia melihat bagaimana Darrien akhirnya hidup kembali.

Gloria perlahan berkata,

“Aku masih ingin marah.”

Edward menatapnya.

“Begitu juga aku.”

“Tapi…”

Gloria menggenggam tangannya.

“…aku juga tidak bisa membencinya.”

Edward menghela napas.

“Karena dia mencintai anak kita.”

Gloria mengangguk.

“Dan dia menunggunya selama ribuan tahun.”

Keduanya terdiam.

***

Edward kemudian berdiri tegak.

“Kita perlu kembali ke Lunaris.”

Gloria menatapnya.

“Untuk menemui Fiona?”

Edward menggeleng.

“Untuk menemui Darrien.”

Gloria tersenyum tipis.

“Dan Fiona.”

Edward mengangguk.

“Kita perlu mendengar semuanya langsung darinya.”

“Bukan hanya dari kenangan.”

***

Keputusan akhirnya dibuat.

Veyth akan bekerja sama dengan Lunaris.

Bukan untuk menghakimi Fiona.

Bukan untuk mengambil Darrien kembali.

Namun untuk mencari kebenaran tentang masa lalu yang telah dihapus dari sejarah.

Dan yang paling penting—

untuk memastikan bahwa tragedi yang pernah memisahkan Fiona dan Darrien tidak akan terulang kembali.

***

KEMBALI KE LUNARIS

Di area latihan kerajaan—

suara benturan terdengar.

**BOOM!**

Darrien melompat mundur.

Kevin berdiri di hadapannya.

“Sekali lagi.”

Darrien menarik napas.

“Baik.”

Kevin menunjuk jalur di depan mereka.

“Kali ini jangan hanya mengandalkan kekuatan.”

Darrien mengangguk.

“Perhatikan langkah.”

Kevin bergerak.

Cepat.

Darrien langsung mengejarnya.

**WHOOSH!**

Kevin berbelok tajam.

Darrien mengikuti.

Kevin berhenti mendadak.

Darrien hampir melewatinya.

Kevin tersenyum.

“Kontrol.”

Darrien segera menghentikan tubuhnya.

Kemudian kembali berdiri.

“Lagi.”

Kevin menghela napas.

“Baik.”

Mereka kembali bergerak.

Satu putaran.

Dua.

Tiga.

Darrien semakin cepat.

Namun Kevin terus menaikkan tingkat kesulitannya.

Tidak ada belas kasihan.

Tidak ada istirahat panjang.

Setiap kesalahan langsung diulang.

Darrien mulai memahami sesuatu.

Fiona bukan hanya cepat.

Ia memiliki kontrol sempurna atas tubuh dan sihirnya.

Itulah yang membuat pergerakannya hampir mustahil diikuti.

Darrien menghapus keringat di dahinya.

“Sekali lagi.”

Kevin menatapnya.

“Kau benar-benar tidak akan berhenti?”

Darrien tersenyum.

“Tidak.”

Kevin menghela napas.

“Baiklah.”

Ia kembali mengambil posisi.

“Kalau begitu…”

Senyumnya berubah sedikit.

“…kita naik ke tahap berikutnya.”

Darrien mengangkat alis.

“Tahap berikutnya?”

Kevin mengangguk.

“Kali ini…”

Ia menunjuk seluruh area latihan.

“…kau tidak mengejarku.”

Darrien menatapnya.

“Lalu?”

Kevin tersenyum.

“Aku yang akan mengejarmu.”

Darrien terdiam.

Kevin melangkah maju.

“Kalau kau ingin bisa menangkap Fiona…”

Ia menurunkan tubuhnya sedikit.

“…kau harus belajar bagaimana rasanya dikejar oleh seseorang yang jauh lebih cepat darimu.”

Darrien tersenyum.

“Baik.”

Kevin langsung menyesal.

Ia tahu—

latihan hari ini baru saja menjadi jauh lebih merepotkan.

Dan entah di mana Fiona berada—

ia mungkin sama sekali tidak menyadari bahwa satu pertanyaan kecilnya tentang monster telah membuat Darrien memulai latihan neraka bersama Kevin.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience