507. Kabar Dari Veyth

Romance Completed 594

BAB 507 — KABAR DARI VEYTH

Shadowcresent kembali diselimuti malam.

Bulan merah menggantung tinggi di atas kerajaan vampire itu.

Istana kuno yang biasanya dipenuhi aktivitas kini terasa lebih tenang daripada biasanya.

Sudah berhari-hari sejak Fiona dikirim kembali ke Veyth.

Dan selama hari-hari itu...

Raizen tidak banyak berbicara.

Dia tetap menjalankan urusan kerajaan.

Tetap menerima laporan.

Tetap memberikan perintah.

Tetap menjadi Raja Vampire yang sama seperti sebelumnya.

Namun semua orang yang cukup lama berada di dekatnya tahu satu hal.

Ada sesuatu yang berubah.

Raizen lebih sering diam.

Lebih sering berada di taman mawar hitam.

Dan lebih sering menatap tempat kosong di mana Fiona dulu biasa duduk.

Mufasa bahkan sudah terbiasa membawa laporan kepadanya dengan perasaan seperti sedang berjalan menuju hukuman mati.

Bukan karena Raizen akan menghukumnya.

Justru sebaliknya.

Raizen tidak pernah marah kepadanya.

Itulah yang membuat suasananya lebih aneh.

Karena Mufasa lebih mudah menghadapi raja yang marah daripada raja yang hanya diam.

Malam itu...

Mufasa sedang berada di ruang pertahanan ketika seorang penjaga datang dengan langkah terburu-buru.

“Lord Mufasa.”

Mufasa mengangkat kepala dari laporan.

“Ada apa?”

Penjaga itu terlihat ragu.

“Kami menerima kabar dari jaringan pengintai.”

Mufasa langsung memperhatikan.

“Dari Veyth?”

Penjaga mengangguk.

“Ya.”

Mufasa berdiri.

“Apa yang terjadi?”

Penjaga itu menarik napas.

“Fiona...”

Mufasa membeku.

“...sudah sadar.”

Beberapa detik...

tidak ada yang berbicara.

Mufasa hanya menatap penjaga itu.

Kemudian perlahan mengembuskan napas.

“Ulangi.”

“Lady Fiona sudah sadar.”

Mufasa menutup matanya sebentar.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari...

bahunya terlihat sedikit lebih ringan.

“Bagaimana kondisinya?”

“Stabil.”

“Lukanya?”

“Sudah sembuh.”

Mufasa terdiam.

“Sepenuhnya?”

“Menurut laporan Veyth, ya.”

Mufasa menatap penjaga itu lama.

Kemudian bertanya,

“Bagaimana?”

Penjaga itu terlihat semakin bingung.

“Maksud Lord?”

“Bagaimana mereka menyembuhkannya?”

Penjaga menggeleng.

“Itu... justru bagian yang aneh.”

Mufasa mengangkat alis.

“Aneh?”

“Tidak ada satu pun teknik penyembuhan dari Veyth atau Lunaris yang berhasil sepenuhnya.”

Mufasa menunggu.

“Lalu?”

“Fiona menyembuhkan dirinya sendiri.”

Mufasa:

“...”

Penjaga:

“...”

Mufasa akhirnya mengusap wajahnya.

“Tentu saja.”

Penjaga itu menunduk.

“Lord?”

“Tidak ada apa-apa.”

Mufasa menarik napas panjang.

“Setelah membuat seluruh Veyth dan Lunaris hampir membongkar perpustakaan mereka... ternyata dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri.”

Penjaga itu menundukkan kepala lebih dalam.

“Sepertinya begitu.”

Mufasa terdiam sebentar.

Kemudian...

dia tersenyum tipis.

“Setidaknya dia hidup.”

“Ya.”

Mufasa memandang jendela.

Bulan merah masih berada di tempatnya.

Namun sekarang ada sedikit rasa lega di dalam dadanya.

Kemudian dia teringat seseorang.

“Yang Mulia.”

Penjaga itu langsung terlihat tegang.

Mufasa menatapnya.

“Kau ikut denganku.”

Penjaga itu langsung pucat.

“Kenapa saya?”

“Karena aku tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang harus menyampaikan berita ini.”

Penjaga itu menelan ludah.

“Apakah... Yang Mulia sedang dalam suasana hati yang buruk?”

Mufasa berpikir sebentar.

“Tidak.”

Penjaga itu terlihat lega.

“Bagus.”

Mufasa menambahkan,

“Justru itu yang membuatku khawatir.”

Penjaga:

“...”

Mereka berdua berjalan menuju ruangan Raizen.

***

Raizen berada di balkon.

Seperti biasa.

Tidak ada pengawal di dalam.

Tidak ada pelayan.

Hanya dirinya sendiri.

Tatapannya tertuju pada taman mawar hitam.

Mufasa berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Yang Mulia.”

Raizen tidak menoleh.

“Ada apa?”

Mufasa terdiam sebentar.

Kemudian berkata,

“Kami menerima kabar dari Veyth.”

Tangan Raizen yang berada di sisi tubuhnya berhenti bergerak.

“Fiona?”

Hanya satu kata.

Namun Mufasa bisa merasakan perubahan kecil pada auranya.

“Ya.”

Mufasa menarik napas.

“Lady Fiona sudah sadar.”

Raizen membeku.

Benar-benar membeku.

Untuk beberapa detik...

bahkan angin malam seolah menjadi terlalu sunyi.

Kemudian Raizen menutup matanya.

Satu tarikan napas.

Panjang.

Dalam.

Dan perlahan...

bahunya turun.

Seolah-olah beban yang telah menempel selama berhari-hari akhirnya terangkat sedikit.

“Dia hidup.”

“Ya.”

“Dia sadar.”

“Ya.”

Raizen membuka matanya.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari...

ada sesuatu yang hampir menyerupai senyum di wajahnya.

“Bagaimana kondisinya?”

“Stabil.”

“Lukanya?”

“Sudah sembuh.”

Raizen menoleh.

“Dengan bantuan mereka?”

Mufasa menggaruk pelipisnya.

“Tidak sepenuhnya.”

Raizen menatapnya.

Mufasa melanjutkan.

“Lady Fiona menyembuhkan dirinya sendiri.”

Hening.

Raizen berkedip.

“Dengan Pure Light?”

“Ya.”

Raizen terdiam.

Kemudian...

sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Tentu saja.”

Mufasa memandang rajanya.

“Yang Mulia tidak terkejut?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Raizen kembali menatap taman.

“Karena dia selalu melakukan sesuatu yang tidak bisa diprediksi.”

Mufasa tersenyum tipis.

“Itu memang benar.”

Kemudian keheningan kembali turun.

Namun kali ini...

keheningan itu berbeda.

Raizen bahagia.

Fiona hidup.

Fiona sadar.

Dia tidak lagi berada di ambang kematian.

Namun setelah beberapa detik...

senyum kecil di wajah Raizen perlahan menghilang.

Karena satu kenyataan kembali datang.

Fiona telah mendapatkan kembali seluruh ingatannya.

Termasuk Darrien.

Mufasa melihat perubahan itu.

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Raizen sendiri akhirnya berbicara.

“Apakah dia...”

Dia berhenti.

Seolah-olah pertanyaan berikutnya terlalu sulit untuk diucapkan.

Mufasa menunggu.

“Apakah dia sudah menanyakan tentang Shadowcresent?”

“Belum ada laporan mengenai itu.”

“Darrien?”

Mufasa diam sesaat.

“Kami belum menerima laporan apakah mereka sudah membicarakannya.”

Raizen menundukkan kepala.

“Tentu.”

Tangannya perlahan mengepal.

Kemudian terbuka lagi.

Dia tidak marah.

Tidak ada alasan untuk marah.

Fiona berhak memilih.

Dan Raizen tahu itu.

Dia sudah mengetahui jawabannya sejak hari Fiona berdiri di depan Darrien dan menerima serangannya.

Namun mengetahui sesuatu...

tidak berarti seseorang mampu menerimanya dengan mudah.

Mufasa akhirnya berbicara.

“Yang Mulia.”

Raizen menatapnya.

“Ya?”

“Setidaknya sekarang dia hidup.”

Raizen terdiam.

Kemudian mengangguk.

“Ya.”

Dia menatap bulan merah.

“Itu sudah cukup.”

Mufasa tidak yakin apakah Raizen benar-benar percaya pada kata-katanya sendiri.

Namun dia tidak membantah.

Karena untuk sekarang...

memang hanya itu yang bisa mereka miliki.

***

Di luar balkon...

beberapa penjaga yang sedang berjaga saling berpandangan.

Salah satu dari mereka berbisik,

“Jadi... Lady Fiona sudah bangun?”

Yang lain mengangguk.

“Ya.”

“Berarti Yang Mulia akan pergi ke Veyth?”

Penjaga ketiga langsung menyela.

“Jangan bodoh.”

“Kenapa?”

“Kalau Yang Mulia pergi ke sana sekarang, itu bisa dianggap sebagai invasi.”

Penjaga pertama mengangguk serius.

“Benar.”

Mereka terdiam.

Kemudian penjaga kedua berkata,

“Tapi... kalau dia tidak pergi?”

“Lebih aman.”

“Untuk kerajaan?”

“Untuk semua orang.”

Mereka bertiga mengangguk.

Beberapa detik kemudian salah satu dari mereka berbisik lagi.

“Menurutmu Fiona akan kembali ke sini?”

Tidak ada jawaban.

Mereka semua menatap balkon.

Raizen masih berdiri sendirian.

Mufasa berada beberapa langkah di belakangnya.

Akhirnya salah satu penjaga berkata pelan,

“Entahlah.”

Kemudian mereka kembali berjaga.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun satu hal sudah pasti.

Fiona telah bangun.

Dan sejak malam itu...

Shadowcresent tidak lagi menunggu kabar tentang apakah Fiona akan hidup.

Sekarang mereka menunggu kabar yang jauh lebih sulit.

**Apa yang akan dipilih Fiona setelah dia mengingat semuanya?**

Raizen menatap taman mawar hitam sekali lagi.

Tangannya menyentuh salah satu kelopak bunga.

Lembut.

Kemudian dia berbisik,

“Selamat pagi... Fiona.”

Padahal malam masih panjang.

Mufasa yang mendengarnya hanya diam.

Dan untuk pertama kalinya...

dia tidak memperbaiki kesalahan rajanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience