Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 391 — SURAT DARI KLAN VAMPIRE
Ruang pertemuan Veyth kembali dipenuhi oleh semua anggota kelompok.
Edward dan Gloria duduk di sisi depan.
Darrien dan Fiona berada tidak jauh dari mereka.
Ace, Rowan, Kevin, Elyon, dan Elarion juga telah berkumpul.
Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi serius ketika Edward meletakkan sebuah surat bersegel hitam di atas meja.
Segel merah gelap dengan lambang Klan Vampire terlihat jelas pada bagian depan surat tersebut.
Edward menatap semuanya.
“Surat ini datang dari Klan Vampire.”
Ace langsung mengangkat alis.
“Klan Vampire?”
Rowan ikut mendekat.
“Mereka mengirim surat kepada Veyth?”
Gloria mengangguk.
“Mereka menuntut Darrien dan Fiona menyerahkan diri kepada pemimpin mereka.”
Ruangan langsung hening.
Elarion menyilangkan tangannya.
“Raizen.”
Darrien mengangguk.
“Namanya tertulis di surat.”
Elyon melihat surat tersebut.
“Dan alasannya?”
Edward menjawab,
“Kematian dua saudaranya.”
Ace langsung memahami.
“Koga dan Kaguya.”
Darrien mengangguk.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Kemudian Rowan bertanya,
“Tapi…”
Ia melihat surat tersebut.
“Siapa yang mengirimnya?”
Pertanyaan sederhana itu membuat semua orang kembali diam.
Elarion mengerutkan kening.
“Benar.”
“Kalau Raizen tidak berada di sana ketika kedua saudaranya mati…”
Elyon melanjutkan,
“Berarti seseorang harus memberikan laporan kepadanya.”
Darrien menatap surat tersebut.
Pikirannya langsung tertuju kepada satu nama.
“Mufasa.”
Fiona menoleh.
“Dia?”
Darrien mengangguk perlahan.
“Dia pernah bersama Kaguya.”
“Dia adalah asisten dan orang kepercayaannya.”
Darrien berhenti sejenak.
“Dan dia selamat dari pertempuran.”
Tatapan beberapa orang langsung berubah.
Ace menyandarkan tubuhnya.
“Jadi…”
“Vampire itu masih hidup.”
Rowan mengangguk pelan.
“Dan kalau dia kembali ke Shadowcresent…”
Ia menatap surat di atas meja.
“…dia pasti sudah menceritakan apa yang terjadi kepada Raizen.”
Tidak ada seorang pun yang membantah.
***
Jauh dari Veyth—
di wilayah kekuasaan Klan Vampire—
sebuah istana besar berdiri dalam keheningan malam.
Cahaya bulan menembus jendela-jendela tinggi.
Di salah satu ruangan—
Raizen berdiri di dekat jendela.
Rambut silver-gray panjangnya jatuh melewati bahunya.
Tatapannya tertuju pada langit malam.
Di belakangnya berdiri seorang vampire.
Mufasa.
Raizen akhirnya berbicara.
“Apakah surat itu sudah dikirim?”
Mufasa menundukkan kepala.
“Ya, Tuanku.”
“Surat tersebut telah dikirim ke Kerajaan Veyth.”
Raizen mengangguk.
Namun keheningan kembali memenuhi ruangan.
Tatapan Raizen tetap tertuju ke luar jendela.
Tidak ada kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya.
Namun sesuatu yang lebih dalam tersembunyi di balik tatapannya.
Kehilangan.
***
Beberapa waktu sebelumnya—
Raizen baru saja kembali ke wilayah klannya setelah perjalanan panjang.
Ia bahkan belum sempat beristirahat ketika seorang penjaga berlari menghampirinya.
“Tuanku!”
Raizen berhenti.
“Apa?”
Penjaga itu terlihat pucat.
“Kami menerima kabar…”
Raizen mengerutkan kening.
“Kabar apa?”
Penjaga tersebut menundukkan kepala.
“Pangeran Koga…”
Ia berhenti.
“…telah gugur dalam sebuah pertempuran.”
Raizen membeku.
Untuk beberapa detik—
tidak ada reaksi.
Kemudian suaranya terdengar rendah.
“Ulangi.”
“Koga telah meninggal dalam sebuah pertempuran.”
Raizen menatap penjaga tersebut.
“Dan Kaguya?”
Penjaga itu menelan ludah.
“…Kaguya juga.”
Hening.
Dua saudaranya.
Keduanya telah gugur.
Dan Raizen bahkan tidak berada di sana.
Raizen perlahan bangkit.
“Siapa yang mengetahui apa yang terjadi?”
Penjaga itu menjawab,
“Ada seorang vampire yang kembali bersama rombongan Kaguya.”
“Namanya Mufasa.”
Raizen langsung berkata,
“Panggil dia.”
***
Beberapa saat kemudian—
Mufasa berdiri di hadapan Raizen.
Raizen menatapnya lama.
“Kau berada bersama mereka?”
Mufasa menundukkan kepala.
“Ya, Tuanku.”
“Katakan semuanya.”
Mufasa kemudian menceritakan apa yang ia ketahui.
Tentang Koga.
Tentang pertempuran.
Tentang Kaguya.
Tentang perjalanan mereka.
Dan akhirnya—
tentang Fiona.
Raizen mendengarkan tanpa menyela.
Semakin banyak yang ia dengar—
semakin dingin ekspresinya.
Ketika Mufasa selesai—
Raizen bertanya,
“Dan kau?”
Mufasa terdiam.
“Aku berhasil kembali.”
Raizen menatapnya.
“Bagaimana?”
Mufasa menarik napas.
“Aku berhasil bertahan dan kembali ke Shadowcresent.”
Raizen tidak langsung menjawab.
Kemudian Mufasa menundukkan kepalanya lebih dalam.
“Aku tidak mampu melindungi mereka.”
Hening.
Raizen berjalan mendekatinya.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di depan Mufasa.
Kemudian—
ia berkata pelan,
“Dua saudaraku mati.”
Mufasa tidak menjawab.
“Dan kau adalah salah satu orang terakhir yang berada bersama Kaguya.”
Mufasa mengangguk.
“Ya, Tuanku.”
Raizen berbalik.
Tatapannya kembali kepada jendela.
“Aku pergi terlalu lama.”
Suaranya terdengar lebih berat.
“Ketika aku kembali…”
Ia mengepalkan tangannya.
“…dua saudaraku sudah tidak ada.”
Mufasa tetap diam.
Namun Raizen tidak langsung memerintahkan balas dendam.
Ia hanya berkata,
“Cari tahu semuanya.”
“Siapa mereka.”
“Bagaimana mereka membunuh Koga.”
“Bagaimana Kaguya mati.”
“Dan siapa perempuan bernama Fiona itu.”
Mufasa menundukkan kepala.
“Baik, Tuanku.”
***
Kembali ke masa sekarang—
Raizen masih berdiri di dekat jendela.
Mufasa masih berada di belakangnya.
Raizen akhirnya bertanya,
“Apakah kita sudah menerima jawaban dari Veyth?”
“Belum, Tuanku.”
Mufasa kemudian menambahkan,
“Mereka mungkin masih membahas surat tersebut.”
Raizen tersenyum tipis.
“Biarkan mereka.”
Mufasa mengangkat pandangan.
Raizen kembali menatap langit.
“Aku ingin melihat bagaimana Veyth akan menjawab.”
Mufasa menundukkan kepala.
“Dimengerti.”
Raizen terdiam sejenak.
Kemudian berkata,
“Jika mereka menolak…”
Mufasa menunggu.
Namun Raizen tidak melanjutkan.
Ia hanya kembali menatap bulan di luar jendela.
Malam terus berjalan.
Sementara di Veyth—
Darrien dan Fiona bahkan belum mengetahui bahwa seseorang yang pernah melihat mereka dalam pertempuran telah kembali ke Shadowcresent.
Seseorang yang mengetahui kekuatan mereka.
Seseorang yang mengetahui apa yang terjadi kepada Kaguya.
Dan sekarang—
orang itu berdiri di sisi Raja Vampire.
Menunggu jawaban Veyth.
Mufasa.
