109. Menghadap Raja Dan Ratu

Romance Series 382

BAB 109
MENGHADAP RAJA DAN RATU

Pagi berikutnya, suasana di kediaman Rowan sudah mulai sibuk sejak matahari belum terlalu tinggi.

Kevin, Ace, dan Rowan telah bersiap untuk pergi.

Mereka membawa dokumen penelitian yang telah disusun sejak malam sebelumnya.

Elarion berdiri di dekat pintu sambil memeriksa kembali isi tas mereka.

“Jangan sampai dokumennya tertinggal.”

Rowan mengangkat map di tangannya.

“Sudah.”

Kevin memeriksa segel pada surat permohonan.

“Lengkap.”

Ace mengangguk.

“Kalau begitu kita berangkat.”

Fiona yang berdiri di samping Darrien melambaikan tangan.

“Semoga berhasil.”

Kevin tersenyum.

“Kami akan berusaha.”

Ace menunjuk Darrien.

“Jaga dia.”

Darrien langsung mengangkat alis.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Ace tertawa.

“Aku tidak mengatakan kau tidak bisa.”

Ia kemudian melirik Fiona.

“Yang kumaksud, jangan sampai dia membawa kalian kembali ke pasar lagi sebelum kami pulang.”

Fiona langsung tertawa.

“Itu bukan salahku.”

Elarion menghela napas.

“Pergilah sebelum percakapan ini semakin panjang.”

Ketiganya akhirnya meninggalkan kediaman Rowan.

Tujuan mereka adalah istana.

Kali ini mereka tidak pergi sebagai peneliti.

Mereka pergi sebagai pengawal kerajaan yang membawa permohonan resmi.

***

Perjalanan menuju istana tidak memakan waktu lama.

Begitu memasuki area dalam kerajaan, suasana berubah menjadi lebih tenang.

Bangunan-bangunan di sekitar istana memiliki arsitektur yang jauh lebih megah dibandingkan kawasan Veyra yang mereka kunjungi sebelumnya.

Penjaga berdiri di sepanjang jalan.

Begitu melihat tanda pengawal kerajaan yang mereka bawa, mereka langsung memberi jalan.

Tidak lama kemudian—

Kevin, Ace, dan Rowan tiba di aula kerajaan.

Seorang penjaga memberi tahu bahwa Raja Edward dan Ratu Gloria telah menunggu.

Ketiganya saling memandang.

Kemudian masuk.

***

Raja Edward Veyth duduk di singgasana.

Ratu Gloria berada di sampingnya.

Keduanya langsung memperhatikan dokumen yang dibawa Rowan.

Edward mengangguk.

“Kalian sudah menemukan sesuatu?”

Rowan membungkuk hormat.

“Belum, Yang Mulia.”

Jawaban itu membuat Edward sedikit mengernyit.

“Belum?”

Kevin maju.

“Kami telah mencoba berbagai teori mengenai sihir yang menyegel wajah Darrien.”

Gloria langsung memperhatikan namanya.

“Darrien.”

Kevin mengangguk.

“Ya, Yang Mulia.”

Ia menjelaskan seluruh perkembangan penelitian.

Berbagai jenis sihir telah dicoba.

Beberapa catatan telah diperiksa.

Bahkan teori dari sekitar tiga ratus tahun terakhir telah dibandingkan.

Namun tidak satu pun yang memberikan hasil.

Gloria bertanya,

“Dan kesimpulan kalian?”

Rowan menjawab,

“Segelnya terlalu berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

“Strukturnya tidak cocok dengan sihir penyegelan yang tercatat dalam sejarah yang masih dapat kami akses.”

Edward menyandarkan tubuhnya.

“Jadi kalian membutuhkan catatan yang lebih tua.”

“Benar.”

Rowan membuka dokumen.

“Kami ingin meminta izin untuk mengakses bagian terdalam Perpustakaan Kerajaan.”

Ruangan menjadi hening sejenak.

Edward menatap Rowan.

“Arsip terdalam memiliki banyak catatan yang bahkan tidak dibuka untuk sebagian besar pejabat kerajaan.”

“Kami memahami itu, Yang Mulia.”

Kevin melanjutkan,

“Namun jika ada kemungkinan catatan lama dapat membantu kami memahami segel Darrien, kami ingin mencarinya.”

Gloria bertanya,

“Apakah kalian yakin penelitian itu akan membantu?”

Kevin menggeleng.

“Tidak ada jaminan.”

“Tapi kami tahu bahwa catatan yang kami miliki sekarang tidak cukup.”

Gloria tersenyum tipis.

“Setidaknya kalian jujur.”

Edward mengambil dokumen tersebut.

Ia membacanya beberapa saat.

Kemudian bertanya,

“Bagaimana keadaan Darrien?”

Ketiganya terdiam sejenak.

Rowan menjawab,

“Baik, Yang Mulia.”

“Dan Fiona?”

“Juga baik.”

Gloria terlihat sedikit lega.

“Apakah mereka tahu?”

Kevin memahami maksudnya.

“Darrien sudah mengetahui kemungkinan bahwa dirinya adalah pewaris yang hilang.”

Edward dan Gloria saling memandang.

Gloria akhirnya bertanya,

“Bagaimana reaksinya?”

Ace menjawab,

“Tenang.”

“Tidak marah?”

“Tidak.”

“Tidak takut?”

Ace mengangkat bahu.

“Dia hanya ingin mengetahui kebenarannya.”

Edward terdiam.

Ada sesuatu dalam jawaban itu yang membuat ekspresinya berubah sedikit.

“Dia memang begitu?”

Rowan mengangguk.

“Setidaknya dari apa yang kami lihat.”

Gloria tersenyum kecil.

“Dan Fiona?”

Ace tersenyum.

“Dia tetap berada di sisinya.”

Gloria menundukkan pandangan sebentar.

“Begitu…”

Edward kembali melihat dokumen.

“Kalau begitu, berikan mereka apa yang mereka butuhkan.”

Ketiga pengawal itu sedikit terkejut.

“Yang Mulia?”

“Aku memberikan izin.”

Edward menyerahkan dokumen tersebut kepada Rowan.

“Buka akses ke arsip yang diperlukan.”

Rowan membungkuk.

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Gloria kemudian menambahkan,

“Namun jangan mengambil catatan asli dari perpustakaan.”

“Tentu, Yang Mulia.”

“Dan jika kalian menemukan sesuatu yang berhubungan dengan identitas Darrien…”

Ia berhenti sejenak.

“Laporkan kepada kami terlebih dahulu.”

Rowan mengangguk.

“Kami akan melakukannya.”

Edward menatap ketiganya.

“Dan satu hal lagi.”

Mereka menunggu.

“Jangan beri Darrien gelar apa pun sebelum kita memiliki bukti.”

Kevin mengangguk.

“Kami memahami.”

Edward bersandar kembali.

“Dia telah hidup bertahun-tahun tanpa mengetahui siapa dirinya.”

Suaranya menjadi lebih lembut.

“Biarkan dia tetap menjadi Darrien sampai kita benar-benar tahu kebenarannya.”

Ketiga pengawal itu saling memandang.

Ace kemudian mengangguk.

“Baik, Yang Mulia.”

Gloria tersenyum kecil.

“Kalau begitu, pergilah.”

Rowan kembali membungkuk.

“Terima kasih atas kepercayaan Anda.”

Mereka bertiga berbalik.

Namun sebelum keluar, Gloria memanggil mereka.

“Kevin.”

Kevin berhenti.

“Ya, Yang Mulia?”

“Jaga mereka.”

Kevin mengangguk.

“Selalu.”

Pintu aula kemudian tertutup.

Edward menatap Gloria.

“Kau lega?”

Gloria tersenyum samar.

“Sedikit.”

“Karena mereka menemukan Darrien?”

Gloria menggeleng.

“Karena dia masih baik-baik saja.”

Edward terdiam.

Untuk sesaat, keduanya tidak berbicara.

Di luar sana—

seorang pemuda yang mungkin merupakan putra mereka sedang menjalani hidupnya tanpa mengetahui seluruh kebenaran.

Dan sekarang, mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk mencari jawabannya.

Tanpa memaksanya.

Tanpa terburu-buru.

Hanya dengan membiarkan kebenaran ditemukan pada waktunya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience