Series
382
BAB 227
Setelah makan siang selesai—
Darrien, Fiona, Elarion, Rowan, dan Ace kembali menuju battlefield.
Langkah mereka tidak terlalu cepat.
Untuk sesaat, suasana terasa cukup santai.
Namun semakin dekat mereka dengan arena—
langkah Darrien mulai melambat.
Fiona yang berjalan di sampingnya memperhatikan hal itu.
“Kenapa?”
Darrien menghela napas.
“Aku sedang mempersiapkan diri.”
“Untuk apa?”
Darrien menatap lurus ke depan.
“Untuk penderitaan berikutnya.”
Fiona langsung tertawa.
Elarion tersenyum kecil.
Ace dan Rowan saling berpandangan.
“Dia sudah mulai takut.”
“Bukan takut.”
Darrien menoleh.
“Pengalaman.”
Rowan mengangguk dengan wajah serius.
“Ah…”
“Pengalaman.”
Ace langsung menambahkan,
“Pengalaman dihajar Kevin.”
Darrien berhenti berjalan.
Ia menatap keduanya.
“Apakah kalian ingin masuk ke battlefield bersamaku?”
Ace langsung menggeleng.
“Tidak.”
Rowan juga menggeleng.
“Kami masih menyayangi hidup kami.”
Fiona tertawa.
Darrien hanya menghela napas.
***
Begitu mereka tiba di battlefield—
Kevin sudah berada di tengah arena.
Ia berdiri dengan tenang.
Kedua tangannya terlipat di depan dada.
Seolah-olah dia memang sudah menunggu mereka.
Darrien menatapnya.
“…”
Kevin membuka matanya.
“Lama.”
Darrien menghela napas.
“Kami baru selesai makan.”
“Aku tahu.”
Tatapan Kevin kemudian berpindah kepada Fiona.
“Sudah bangun?”
Fiona tersenyum.
“Sudah.”
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Darrien langsung merasa tidak nyaman.
“Apa hubungannya?”
Kevin menatapnya datar.
“Sekarang tidak ada alasan lagi untuk kehilangan konsentrasi.”
Ace langsung menutup mulutnya.
Rowan memalingkan wajah.
Keduanya berusaha keras menahan tawa.
Fiona juga mulai tersenyum.
Darrien memijat pelipisnya.
“Kau masih memikirkan kejadian tadi pagi?”
“Ya.”
“…”
Darrien menghela napas.
“Tentu saja.”
Kevin berbalik menuju tengah arena.
“Masuk.”
Darrien mengambil napas panjang.
Kemudian berjalan ke dalam battlefield.
***
Begitu Darrien mencapai bagian tengah—
Kevin mengangkat satu tangan.
Cahaya sihir langsung menyebar.
**BOOM!**
Sebuah barrier besar muncul mengelilingi seluruh arena.
Dinding energi transparan berdiri di sekeliling battlefield.
Fiona, Elarion, Rowan, dan Ace otomatis berhenti di luar.
Fiona melihat barrier itu.
“Masih menggunakan barrier yang sama.”
Elarion mengangguk.
“Kevin tidak pernah mengambil risiko ketika melatih orang.”
Rowan tersenyum.
“Dia bisa saja menghancurkan seluruh battlefield kalau mau.”
Ace menoleh.
“Jangan bilang begitu di depan Darrien.”
Fiona tertawa kecil.
Darrien dari dalam barrier bisa mendengar mereka.
“Terima kasih atas dukungannya.”
Ace mengangkat tangan.
“Sama-sama.”
Kevin melirik mereka sebentar.
“Sudah selesai?”
Mereka langsung diam.
Kevin kembali menatap Darrien.
“Hari ini kita melanjutkan dari kesalahanmu tadi pagi.”
Darrien mengangguk.
“Aku tahu.”
“Bagus.”
Kevin berjalan perlahan.
“Jelaskan kesalahanmu.”
Darrien berpikir.
“Aku kehilangan fokus.”
“Kenapa?”
Darrien terdiam sebentar.
Kemudian menjawab jujur.
“Karena kondisi di sekitarku berubah.”
Kevin mengangguk.
“Dan?”
“Aku terlalu terbiasa melihat Fiona di luar barrier.”
Fiona sedikit terkejut.
Darrien melanjutkan.
“Ketika dia tidak ada…”
“Aku menyadari sesuatu terasa berbeda.”
Kevin menatapnya beberapa detik.
“Jadi?”
Darrien menarik napas.
“Aku tidak boleh bergantung pada keberadaan seseorang untuk mempertahankan fokus.”
Kevin tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Elarion yang mendengar dari luar barrier mengangguk kecil.
Nasihatnya mulai diterapkan.
Kevin kemudian menatap Darrien.
“Namun jangan salah memahami pelajaran ini.”
Darrien mengangkat alis.
“Apa maksudmu?”
“Keberadaan Fiona bukan masalah.”
Kevin menunjuk dadanya.
“Masalahnya adalah jika pikiranmu kehilangan kendali hanya karena keadaan berubah.”
Darrien terdiam.
Kalimat itu membuatnya berpikir.
Kevin mundur beberapa langkah.
“Orang yang kau lindungi mungkin tidak selalu ada di sampingmu.”
“Musuh bisa memisahkan kalian.”
“Lingkungan bisa berubah.”
“Dan situasi bisa menjadi jauh lebih buruk daripada yang kau bayangkan.”
Darrien mengepalkan tangannya.
Ia langsung teringat lembah.
Fiona yang terpisah darinya.
Rasa panik.
Kemarahan.
Ketidakmampuan untuk bergerak.
Namun kali ini—
ia tidak membiarkan ingatan itu mengambil alih.
Ia menarik napas.
Perlahan.
Kemudian mengembuskannya.
“Aku mengerti.”
Kevin memperhatikannya.
“Bagus.”
***
Di luar barrier—
Fiona memperhatikan Darrien dengan tenang.
Ia tidak merasa bersalah lagi.
Ia justru memahami apa yang sedang Kevin ajarkan.
Elarion berdiri di sampingnya.
“Dia mulai mengendalikan pikirannya.”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
“Dan itu lebih sulit daripada sekadar menjadi kuat.”
Fiona menatap arena.
“Dia masih punya banyak hal untuk dipelajari.”
Elarion tersenyum.
“Begitu juga kau.”
Fiona menoleh.
“Aku?”
“Ya.”
Fiona tersenyum.
“Kalau begitu aku akan belajar sambil menonton.”
Elarion mengangguk.
“Itu salah satu cara.”
***
Di dalam arena—
Kevin mengangkat tangannya.
“Sekarang.”
Darrien mengambil posisi.
“Mulai.”
Tidak ada ledakan besar.
Tidak ada serangan langsung.
Kevin hanya berjalan maju.
Darrien tidak bergerak.
Ia mengingat pelajaran Elarion.
**Amati.**
Kevin berhenti.
Kemudian melangkah ke kiri.
Darrien mengikuti dengan matanya.
Kevin bergerak ke kanan.
Darrien tidak terpancing.
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Kemudian—
dalam sekejap—
tubuh Kevin menghilang dari pandangannya.
Darrien langsung berbalik.
**BAM!**
Serangan Kevin hampir mengenai bahunya.
Darrien melompat mundur.
Ia berhasil menghindar.
Kevin tidak mengejar.
Ia hanya berdiri di tempat.
Darrien menarik napas.
“…”
Kevin mengangguk.
“Lebih baik.”
Darrien tersenyum kecil.
“Benarkah?”
“Ya.”
Darrien mengambil posisi lagi.
Kali ini—
ia tidak terburu-buru.
Kevin menyerang.
Darrien menghindar.
Kevin mengubah arah.
Darrien juga mengubah ritmenya.
Satu serangan.
Dua serangan.
Tiga.
Darrien mulai membaca pola gerakan Kevin.
Bukan dengan sempurna.
Namun cukup untuk bertahan lebih lama.
Di luar barrier—
Ace bersiul kecil.
“Dia jauh lebih baik.”
Rowan mengangguk.
“Nasihat Elarion benar-benar berguna.”
Fiona tersenyum.
“Dia belajar.”
Elarion tidak menjawab.
Matanya masih tertuju pada arena.
Karena ia tahu—
Kevin belum menunjukkan seluruh kemampuannya.
Dan Darrien juga tahu.
Namun kali ini—
Darrien tidak merasa takut.
Ia justru merasa tertantang.
Setiap serangan yang berhasil ia hindari membuat kepercayaan dirinya bertambah.
Setiap celah yang berhasil ia lihat membuatnya semakin memahami cara bertarung Kevin.
Kemudian—
Darrien melihat sebuah celah.
Ia bergerak.
**WHOOSH!**
Tangannya melesat.
Kevin mengangkat lengannya.
**BAM!**
Serangan Darrien berhasil menyentuh pertahanan Kevin.
Tidak cukup kuat untuk melukainya.
Namun cukup untuk membuat Kevin mundur setengah langkah.
Darrien membeku.
Matanya membesar.
Kevin melihat posisi kakinya.
Kemudian tersenyum tipis.
“Lumayan.”
Darrien langsung tersenyum.
“Aku berhasil membuatmu mundur.”
“Jangan terlalu bangga.”
Kevin kembali mengambil posisi.
“Tapi…”
Ia menatap Darrien.
“Setidaknya sekarang kau mulai membuatku memperhatikanmu.”
Darrien mengepalkan tangan.
Semangatnya meningkat.
Di luar barrier, Fiona tersenyum lebar.
“Dia berhasil!”
Ace dan Rowan ikut bersorak kecil.
Elarion hanya mengangguk puas.
Namun Kevin—
masih terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Darrien menyadarinya.
“Kau masih belum serius, kan?”
Kevin tersenyum.
“Belum.”
Darrien menghela napas.
“Sudah kuduga.”
Kevin mengambil posisi.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Darrien.
“Buktikan bahwa kau siap melihat tahap berikutnya.”
Darrien menguatkan kakinya.
“Baik.”
Tekanan di sekitar arena mulai berubah.
Fiona berhenti tersenyum.
Elarion menyipitkan mata.
Rowan dan Ace saling berpandangan.
Mereka semua tahu—
latihan yang sebenarnya mungkin baru saja dimulai.
Share this novel