Series
94
BAB 72
LARI!
“Lari!”
Suara Marcus terdengar dari belakang.
Fiona tidak perlu diberitahu dua kali.
Darrien menggenggam tangannya dan menariknya keluar dari gerbang belakang.
Mereka berlari.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Fiona benar-benar berlari menuju kebebasan.
“Darrien!”
“Aku di sini!”
Mereka melewati jalan kecil di belakang kediaman.
Fiona hampir tersandung.
Darrien langsung menariknya kembali.
“Hati-hati!”
“Aku tidak apa-apa!”
Mereka terus berlari.
Di belakang—
teriakan mulai terdengar.
“Cari mereka!”
“Mereka menuju jalan belakang!”
Darrien menoleh.
Beberapa penjaga mulai mengejar.
“Lebih cepat.”
Fiona mengangguk.
Namun gaunnya menghambat langkah.
Darrien melihatnya.
“Tunggu.”
Ia berhenti sebentar.
Fiona menatapnya bingung.
Darrien berlutut dan merobek bagian bawah kain gaunnya yang panjang.
**Srek!**
Fiona membelalak.
“Darrien!”
“Sekarang lebih mudah.”
Ia berdiri.
Fiona melihat bagian gaunnya yang telah dipotong.
Kemudian…
ia tertawa kecil.
“Kau benar-benar gila.”
“Berlari dulu. Marah nanti.”
Fiona tertawa sambil berlari lagi.
***
Di belakang mereka, Kevin dan Elarion muncul dari sisi jalan.
Kevin mengangkat tangannya.
Sebuah penghalang tipis terbentuk di antara dua gang.
Para penjaga yang mengejar langsung menghantamnya.
**BOOM!**
“Di mana mereka?!”
Kevin tersenyum tipis.
“Jalan yang salah.”
Elarion menatapnya.
“Jangan terlalu menikmati ini.”
“Aku hanya membantu muridku.”
***
Darrien dan Fiona akhirnya mencapai jalan utama.
Namun mereka berhenti.
Terlalu banyak orang.
Terlalu banyak kereta.
Dan—
mereka tidak bisa begitu saja berlari di tengah kota.
Fiona menarik napas.
“Kita ke mana?”
Darrien memejamkan mata.
Menggunakan sensing.
Aura Kevin.
Elarion.
Ace.
Kemudian—
ia merasakan sesuatu dari arah utara.
Sebuah jalur kecil.
“Ke sana.”
Mereka kembali berlari.
Fiona menggenggam tangan Darrien erat.
“Darrien…”
“Hm?”
“Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.”
Darrien tidak menjawab selama beberapa detik.
Kemudian ia berkata,
“Aku sudah bilang.”
Fiona menatapnya.
“Apa?”
“Aku akan datang.”
Fiona tersenyum.
Namun kemudian—
sebuah suara terdengar dari belakang.
“BERHENTI!”
Fiona menoleh.
Para penjaga sudah keluar dari gang.
Darrien langsung menariknya.
“Jangan lihat belakang.”
“Tapi—”
“Percaya padaku.”
Fiona mengangguk.
Mereka terus berlari.
***
Di atas sebuah bukit kecil, Ace akhirnya muncul.
“Ke sini!”
Darrien melihatnya.
Mereka berlari menuju Ace.
Begitu sampai, Ace langsung menunjukkan jalan setapak di belakangnya.
“Lewat sini.”
Darrien dan Fiona masuk.
Ace berbalik.
Beberapa detik kemudian, Kevin dan Elarion juga muncul.
“Semua?”
Ace bertanya.
“Ya,” jawab Elarion.
Kevin menatap Darrien.
“Kau baik-baik saja?”
Darrien mengangguk.
Kemudian ia melihat Fiona.
Fiona juga melihatnya.
Mereka saling tersenyum.
Namun Ace tiba-tiba berkata,
“Kita belum aman.”
Semua orang terdiam.
Dari kejauhan…
suara terompet terdengar.
Satu kali.
Kemudian dua kali.
Ace mengerutkan kening.
“Alarm.”
Darrien menggenggam tangan Fiona lagi.
“Kalau begitu kita terus bergerak.”
Fiona mengangguk.
Mereka berlari kembali ke dalam kegelapan.
Di belakang mereka—
kediaman Ardika mulai kacau.
Dan di tengah kekacauan itu…
Marcus berdiri di gerbang belakang.
Ia melihat jejak kaki yang semakin jauh.
Kemudian tersenyum tipis.
“Pergilah.”
Ia menatap langit malam.
“Semoga kau menemukan jalan pulang.”
Namun Marcus belum mengetahui satu hal.
Pria yang datang menjemput Fiona…
bukan anak biasa.
Dan ketika rahasia itu akhirnya terbuka—
seluruh keluarga Ardika mungkin akan berharap mereka tidak pernah mengambil gadis itu sejak awal.
Share this novel