Series
382
BAB 319 — SIMBOL YANG TERBANGUN
Waktu terus berjalan.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar menyadari berapa lama mereka telah berada di dalam Crystal Hall.
Namun satu hal berubah perlahan.
Setiap kali suara detak itu terdengar—
cahaya kristal menjadi semakin besar.
**…duk.**
Cahaya menyebar di sepanjang dinding.
**…duk.**
Kristal-kristal di sekitar ruangan ikut berpendar.
**…duk.**
Kali ini—
seluruh ruangan menjadi lebih terang.
Sylvester menatap kristal utama dengan wajah serius.
“Ini semakin kuat.”
Elyon berdiri di sampingnya.
“Aku tahu.”
“Apakah kau sudah menemukan penyebabnya?”
Elyon menggeleng.
“Belum.”
Elarion mengamati pola cahaya.
“Tidak ada pola energi yang pernah kulihat sebelumnya.”
Ace menatap kristal tersebut.
“Jadi kita masih tidak tahu apa yang terjadi?”
Rowan menjawab,
“Sepertinya begitu.”
Kevin tetap diam.
Ia hanya memperhatikan kristal utama.
Detak itu terdengar lagi.
**…duk.**
Dan kali ini—
lantai Crystal Hall ikut bergetar sangat lembut.
***
Di koridor lain—
Fiona masih berjalan.
Perlahan.
Tanpa suara.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
Darrien mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
“Fiona…”
Tidak ada jawaban.
Ia kembali memanggil.
“Fiona.”
Tetap tidak ada reaksi.
Darrien mulai merasa tidak nyaman.
Koridor yang mereka lewati—
bukan lagi bagian istana yang biasa mereka kenal.
Ukiran dinding berubah.
Pilar-pilar menjadi semakin tua.
Kristal kecil mulai muncul di sepanjang lantai.
Bahkan cahaya di sekitar mereka terasa berbeda.
Darrien berhenti sebentar.
Ia melihat sekeliling.
“Kita belum pernah ke sini.”
Fiona tetap berjalan.
Darrien langsung menyusul.
“Fiona, tunggu.”
Ia mencoba menghentikannya sekali lagi.
Namun Fiona tidak berhenti.
Darrien semakin khawatir.
Ia tidak tahu apa yang sedang menarik Fiona.
Dan ia tidak tahu apa yang menunggu di ujung jalan itu.
Namun ia juga tidak berani memaksanya berhenti.
Jadi—
ia hanya mengikuti.
Tetap dekat.
Tetap waspada.
Sampai akhirnya—
mereka tiba di depan sebuah pintu besar.
Darrien berhenti.
Pintu itu sangat besar.
Lebih tua daripada bagian istana yang pernah ia lihat.
Ukiran kristal memenuhi seluruh permukaannya.
Fiona berdiri tepat di depannya.
Kemudian—
pintu itu perlahan terbuka.
**KREEEKK…**
Darrien langsung menegang.
Di balik pintu—
cahaya Crystal Hall terlihat.
Fiona melangkah masuk.
Darrien segera mengikutinya.
***
Di dalam Crystal Hall—
Elyon dan yang lainnya masih berbicara.
“Kalau kita tidak menemukan jawabannya dari catatan kerajaan…”
Elarion berkata,
“…mungkin kita harus mencari sumber energinya secara langsung.”
Sylvester mengangguk.
Namun sebelum mereka sempat melanjutkan—
**KREEEKK…**
Pintu besar di belakang mereka terbuka.
Semua langsung terdiam.
Elyon berbalik.
Sylvester juga.
Ace, Rowan, Kevin, dan Elarion ikut menoleh.
Dan—
Fiona berdiri di sana.
Darrien berada beberapa langkah di belakangnya.
Wajah Darrien terlihat berbeda.
Cemas.
Waspada.
Seolah-olah ia sendiri tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Elyon langsung mendekat.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
“Fiona!”
Tetap tidak ada reaksi.
Darrien menatap Elyon.
“Aku sudah memanggilnya beberapa kali.”
Elyon melihat Fiona.
“Apa yang terjadi?”
“Aku tidak tahu.”
Darrien menggeleng.
“Dia hanya terus berjalan.”
Fiona kembali melangkah.
Perlahan.
Satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Semua orang hanya bisa memperhatikannya.
Tidak ada yang berani menghalangi.
Fiona berjalan menuju bagian tengah Crystal Hall.
Menuju kristal utama.
Kristal yang sejak tadi mengeluarkan suara detak.
**…duk.**
Fiona berhenti.
Tepat di depannya—
kristal besar itu berdenyut.
**…DUK.**
Cahayanya menyebar.
Fiona berdiri diam.
Matanya masih terlihat kosong.
Elyon kembali memanggil.
“Fiona.”
Tidak ada jawaban.
Elarion mencoba.
“Fiona, dengarkan aku.”
Tetap tidak ada.
Ace mulai merasa tidak nyaman.
“Ini mulai aneh.”
Rowan mengangguk.
“Sangat.”
Kevin memperhatikan Fiona.
Kemudian—
matanya berpindah kepada sesuatu yang berada di leher dan pergelangan tangan Fiona.
“Lihat.”
Semua mengikuti arah pandangannya.
Kalung daun perak.
Dan gelang daun perak.
Keduanya mulai bersinar.
Bukan cahaya samar seperti sebelumnya.
Kali ini—
**terang.**
Cahaya dari keduanya berdenyut bersamaan dengan Crystal Hall.
**…duk.**
**…duk.**
Sylvester membeku.
“…”
Elyon menyipitkan mata.
“Jadi…”
Elarion tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena sesuatu mulai terjadi di bawah kaki Fiona.
Cahaya muncul dari lantai.
Perlahan membentuk garis.
Satu garis.
Kemudian garis kedua.
Kemudian lingkaran besar.
Semakin banyak simbol muncul.
Seluruh lantai di bawah Fiona mulai menyala.
Darrien langsung bergerak maju.
“Fiona!”
Namun—
ia berhenti.
Karena lingkaran sihir itu semakin membesar.
**WHOOM!**
Energi memenuhi Crystal Hall.
Semua orang mundur beberapa langkah.
Ace membelalakkan mata.
“Apa itu?!”
Rowan tidak menjawab.
Kevin menatap lantai dengan serius.
Elyon juga terdiam.
Elarion bahkan lupa membuka catatan yang masih berada di tangannya.
Di tengah lingkaran sihir itu—
muncul sebuah simbol.
Daun.
Satu tangkai.
Beberapa helai daun yang tersusun dalam pola kuno.
**Silver Leaf.**
Simbol itu bersinar tepat di bawah kaki Fiona.
Semua orang terdiam.
Darrien menatap simbol tersebut.
Ia kemudian melihat Fiona.
“…”
Fiona masih tidak bergerak.
Cahaya dari kalung dan gelangnya semakin terang.
Crystal Hall kembali berdetak.
**…DUK.**
Lingkaran sihir semakin kuat.
Dan untuk pertama kalinya—
simbol yang selama ini hanya tersembunyi di balik sihir Fiona, kalungnya, dan gelangnya—
terlihat jelas oleh semua orang.
**Simbol Silver Leaf.**
Simbol milik Sang Saintess.
Namun tidak seorang pun di ruangan itu—
kecuali Fiona—
benar-benar memahami apa yang baru saja mereka lihat.
Dan bahkan Fiona sendiri—
masih berdiri dalam keadaan tidak sadar.
Share this novel