459. Kenangan Di Mata Air Panas

Romance Completed 594

BAB 459 — KENANGAN DI MATA AIR PANAS

Beberapa minggu telah berlalu sejak kedatangan Veyth.

Shadowcresent kembali tenang, memberi Raizen kesempatan untuk menikmati waktu bersama Fiona tanpa gangguan.

Pagi itu, Fiona sedang sarapan di taman ketika Raizen menghampirinya.

"Fiona."

Ia mendongak. "Hm?"

"Maukah kau ikut denganku?"

"Ke mana?"

"Tempat yang ingin kutunjukkan."

Fiona langsung berdiri, rasa penasarannya mengalahkan keinginannya untuk menghabiskan sarapan.

"Tempat baru lagi?"

Raizen mengulurkan tangan.

"Tempat baru untukmu."

Fiona menyambut tangannya sambil tersenyum lebar.

"Kalau begitu, ayo!"

---

Mereka berjalan cukup jauh dari istana. Pepohonan semakin lebat, sementara udara yang semula dingin perlahan berubah hangat. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, membawa aroma mineral dan tanah basah.

Tak lama kemudian, suara gemericik air terdengar di antara pepohonan.

Fiona menyingkap beberapa ranting dan langsung terdiam.

Di baliknya terbentang sebuah mata air alami yang luas. Uap putih mengepul dari permukaannya, berpilin perlahan seperti tirai tipis di udara malam. Batu-batu hitam mengilap karena basah, sementara tanaman bercahaya tumbuh di sepanjang tepian, memancarkan sinar kebiruan. Riak air memantulkan cahaya itu dalam garis-garis berkilau, menyembunyikan tempat tersebut dari segala kesibukan.

Matanya berbinar.

"Hot spring?"

Raizen mengangguk.

"Aku menemukannya dahulu."

Fiona menoleh dengan senyum lebar.

"Kau membawaku ke sini untuk berendam?"

"Ya."

Jawaban tenangnya membuat Fiona tertawa.

"Kau mengatakannya seolah-olah ini hal biasa."

"Bagiku memang begitu."

"Kalau begitu, hari ini kau harus berbagi tempat biasamu denganku."

Raizen memandangnya sejenak, lalu mengulurkan tangan.

"Dengan senang hati."

---

Tak lama kemudian, Fiona telah berendam di dalam air hingga sebatas bahu.

Suhu mata air mengusir sisa dingin dari perjalanan. Uap menyentuh wajahnya, sementara suara aliran air di antara bebatuan menciptakan irama yang membuat pikirannya perlahan kosong.

"Ahhh... ini surga."

Raizen, yang duduk di sampingnya, melirik wajah puas itu.

"Kalau begitu, kau boleh tinggal lebih lama."

Fiona membuka sebelah mata.

"Dan siapa yang akan membawaku pulang kalau aku tertidur di sini?"

"Aku."

"Bagaimana kalau aku tidak mau bangun?"

"Aku akan menunggumu."

Fiona terdiam sesaat sebelum terkekeh.

"Kau benar-benar memanjakanku."

Raizen tidak membantah.

Ia hanya bergeser sedikit mendekat hingga bahu mereka bersentuhan. Fiona menyandarkan kepalanya pada bahunya, menikmati air dan kehadiran pria itu. Dari tempatnya bersandar, ia dapat mendengar napas Raizen yang tenang.

Beberapa saat kemudian, ia mencipratkan sedikit air ke arah Raizen.

Raizen menoleh perlahan.

Fiona segera memasang wajah polos.

"Apa?"

"Kau baru saja menyerangku."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."

Raizen mengangkat alis.

Fiona menahan tawanya, tetapi ekspresinya sudah membocorkan segalanya.

Raizen membalas dengan cipratan kecil.

"RAIZEN!"

Tawa Fiona memenuhi sudut tersembunyi itu. Suaranya memantul di antara pepohonan dan kabut, menghidupkan tempat yang sunyi tersebut. Ia membalas, sementara Raizen dengan mudah menghindari serangannya.

Namun, ketika Fiona hendak mencipratkan air sekali lagi, Raizen menangkap tangannya dengan lembut.

Tawa Fiona perlahan mereda.

Jemari mereka saling bertaut di antara riak air. Pantulan tanaman di tepian bergetar di permukaan, mengiringi momen yang tercipta di antara keduanya.

Raizen menatapnya.

Fiona balas menatap, lalu tersenyum kecil.

"Kau curang."

"Kau yang memulai."

"Dan kau seharusnya membiarkanku menang."

Raizen mendekat sedikit.

"Kalau begitu, anggap saja kau menang."

Fiona menyipitkan mata.

"Kau sengaja mengalah?"

"Mungkin."

Ia hendak menarik tangannya, tetapi Raizen belum melepaskannya. Tatapan pria itu bertahan sedikit lebih lama, membuat Fiona tiba-tiba lupa akan protes yang sudah disiapkannya.

Raizen tersenyum tipis.

Kali ini, Fiona tidak memalingkan wajah.

Sebaliknya, ia sedikit memiringkan kepala, seolah menantangnya untuk melanjutkan godaannya.

Senyum Raizen berubah lebih lembut.

Ia mengangkat tangan Fiona dan mengecup punggung jemarinya.

Fiona langsung membeku.

Pipinya memerah.

Raizen mengamati reaksinya dengan ketenangan yang nyaris keterlaluan.

Fiona menarik tangannya, lalu memercikkan sedikit air ke wajahnya.

Raizen berkedip.

Fiona tertawa puas.

Namun, sebelum ia sempat merayakan kemenangannya, Raizen mendekat dan menyelipkan sehelai rambut basah ke belakang telinganya.

Tawanya terhenti.

Jarak di antara mereka kini begitu dekat hingga Fiona dapat merasakan napas Raizen bercampur dengan uap mata air. Di atas pepohonan, bulan crimson perlahan naik, cahayanya menembus sela-sela daun dan jatuh di permukaan air sebagai bayangan merah keperakan.

Fiona dapat melihat pantulan bulan itu di mata Raizen, berkilau di antara tatapan tenang yang hanya ia tunjukkan kepadanya.

Ia menelan ludah.

Raizen tidak langsung menciumnya.

Ia menunggu, membiarkan Fiona menentukan apakah ia ingin mendekat atau menjauh. Tangannya tetap berada di pipi Fiona, menyentuhnya dengan hati-hati, seolah memberi ruang bagi setiap keraguan untuk menghilang dengan sendirinya.

Fiona memandang bibirnya sesaat.

Kemudian, dengan senyum malu-malu, ia sendiri yang memperpendek jarak di antara mereka.

Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman lembut.

Dunia seakan menyusut menjadi air, suara gemericik yang samar, dan keberadaan mereka berdua. Tangan Fiona terangkat dan bertumpu di bahu Raizen, sementara tangan pria itu menyentuh pipinya dengan hati-hati. Uap putih berputar di sekitar mereka, menyamarkan tepian mata air dan menjadikan momen itu rahasia yang hanya diketahui malam.

Ketika mereka berpisah, Fiona tetap berada dekat dengannya.

Raizen menatap wajahnya yang memerah.

Sudut bibirnya terangkat.

Fiona langsung menunjuknya dengan wajah serius.

"Jangan."

Raizen mengangkat alis.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tapi wajahmu sudah mengatakan semuanya."

Kali ini, Raizen benar-benar tertawa.

Fiona menyembunyikan wajahnya di bahunya, tetapi senyum yang terukir di bibirnya tidak dapat disembunyikan.

Raizen membiarkannya bersandar, mengusap lembut rambutnya sambil menikmati suasana yang kini terasa jauh lebih manis daripada sebelumnya. Di sekeliling mereka, air terus mengalir perlahan, dan cahaya bulan menari di antara riak-riak kecil yang mereka ciptakan.

---

Malam mulai turun.

Bulan crimson muncul di antara pepohonan, memantulkan sinar merah di permukaan mata air. Pantulannya menyelimuti kabut dengan warna kemerahan, membuat uap putih tampak seperti selubung tipis. Bayangan mereka berdua memanjang di atas air, berdampingan dan nyaris tak terpisahkan.

Fiona masih bersandar pada Raizen ketika tiba-tiba ia mengangkat wajah.

"Raizen."

"Hm?"

"Aku ingin datang ke sini lagi."

Raizen menatapnya.

"Kapan pun kau mau."

Fiona tersenyum.

"Kalau begitu, kita masih punya banyak tempat untuk dikunjungi, bukan?"

"Tentu."

"Tamanmu, air terjun, mata air ini..." Ia berpikir sebentar. "Aku yakin masih ada tempat lain yang belum kau tunjukkan."

Raizen memperhatikan wajahnya yang begitu bersemangat.

"Masih banyak."

"Bagus."

Fiona kembali menggenggam tangannya.

"Berarti kau harus terus mengajakku."

Raizen membalas genggamannya.

"Selama kau ingin pergi bersamaku."

Fiona menatapnya beberapa saat, lalu menyandarkan kepalanya kembali di bahunya.

"Kalau begitu, bersiaplah. Aku punya banyak tempat yang ingin kukunjungi."

Raizen tersenyum dan mengecup lembut puncak kepalanya.

"Aku akan mengingatnya."

Di bawah bulan crimson, mereka tetap berdekatan, membiarkan malam berlalu tanpa terburu-buru. Aroma pepohonan basah dan sinar merah yang jatuh di sekitar mereka mengiringi keheningan yang tak perlu diisi kata-kata.

Bagi Raizen, kebahagiaan tidak lagi hanya berarti menemukan seseorang yang ingin ia lindungi.

Kebahagiaan juga berarti memiliki seseorang yang ingin kembali ke tempat-tempat itu bersamanya.

Dan malam itu, di sebuah mata air tersembunyi di Shadowcresent, di bawah bulan crimson, mereka mendapatkan satu lagi kenangan yang hanya menjadi milik mereka berdua.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience