Series
94
BAB 101
YANG TERTINGGAL
Pagi itu terasa tenang.
Fiona duduk di taman sambil memainkan daun perak yang tergantung di lehernya.
Darrien sedang berbicara dengan Kevin tidak jauh dari sana.
Namun pikiran Fiona tiba-tiba melayang kepada seseorang.
Lola.
Ia menundukkan kepala.
“Aku bertanya-tanya bagaimana keadaan Lola…”
Darrien menoleh.
“Lola?”
Fiona mengangguk.
“Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya.”
Darrien terdiam.
Ia tahu betapa pentingnya Lola bagi Fiona.
“Kita bisa mencari tahu.”
Fiona menatapnya.
“Benarkah?”
“Ya.”
Fiona tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Ia menyentuh daun peraknya.
“Aku hanya ingin tahu apakah dia baik-baik saja.”
Darrien mengangguk.
“Kita akan cari tahu.”
Fiona tersenyum.
Namun di dalam hatinya, rasa khawatir itu belum sepenuhnya hilang.
***
Di tempat lain—
wilayah Ardika.
Suasana di kediaman utama jauh lebih tegang.
Ardika berdiri di depan jendela.
Sebuah laporan baru saja diletakkan di atas meja.
Utusan yang sebelumnya dikirim untuk mengikuti Fiona telah kembali.
Namun mereka tidak membawa Fiona.
Tidak membawa Darrien.
Dan tidak membawa jawaban.
Marcus berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Semua utusan sudah dipanggil kembali.”
Ardika mengangguk.
“Aku tahu.”
“Perintah dari klan juga sudah jelas.”
“Tidak ada pengejaran lagi.”
Ardika tidak menjawab.
Tatapannya masih tertuju ke luar.
“Dan Varian?”
Marcus menjawab,
“Mereka menerima perintah yang sama.”
Ardika akhirnya berbalik.
“Jadi sekarang semua orang berhenti mengejar?”
“Untuk sementara.”
Ardika menghela napas.
Ia tidak menyukai keputusan itu.
Namun ia juga tahu bahwa mengejar Fiona sekarang hanya akan memperburuk keadaan.
Terutama setelah kejadian di pegunungan.
Ia masih mengingat bagaimana Darrien berdiri di antara Fiona dan semua orang.
Dan bagaimana suasana berubah ketika pemuda itu mengira Fiona telah mati.
Marcus menunduk.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Laporan dari pihak Varian.”
Ardika mengangkat alis.
“Clark menolak melanjutkan rencana pernikahan.”
Ardika terdiam.
“Bagus.”
Marcus sedikit terkejut.
“Bagus?”
“Tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan yang sudah ditolak oleh kedua pihak.”
Ia menatap meja.
“Fiona sudah membuat pilihannya.”
Marcus tidak menjawab.
Ardika sendiri terlihat tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya.
Namun kali ini—
ia tidak mengejar.
***
Di wilayah Varian—
Clark berdiri di ruang pertemuan bersama ayahnya.
Keith Varian sedang membaca laporan yang sama.
“Jadi pencarian dihentikan.”
“Ya.”
Clark mengangguk.
“Lebih baik begitu.”
Keith menatap putranya.
“Kau masih memikirkan Fiona?”
Clark diam beberapa saat.
“Ya.”
“Kenapa?”
Clark menghela napas.
“Karena aku ingin memastikan dia aman.”
Keith tidak menjawab.
Clark melanjutkan,
“Bukan untuk membawanya kembali.”
Ia menatap ayahnya.
“Aku hanya ingin tahu apakah dia baik-baik saja.”
Keith memperhatikan putranya cukup lama.
Kemudian mengangguk.
“Itu lebih masuk akal.”
***
Kembali di Ardika—
Ardika menerima satu laporan tambahan.
Ia membukanya.
Matanya bergerak membaca beberapa baris.
Kemudian berhenti.
“Darrien…”
Marcus memperhatikan.
“Apa?”
Ardika menutup laporan itu.
“Tidak ada.”
Ia menyimpan surat tersebut.
Untuk pertama kalinya, Ardika tidak mengirim siapa pun.
Tidak ada pasukan.
Tidak ada utusan.
Tidak ada pengejaran.
Namun itu bukan berarti semuanya selesai.
Karena di balik keputusan untuk berhenti mengejar—
masih ada terlalu banyak pertanyaan.
Siapa Darrien?
Mengapa Fiona memilihnya?
Dan mengapa semakin banyak pihak mulai menunjukkan ketertarikan kepada mereka?
***
Di Veyra—
Fiona masih memikirkan Lola.
Ia menatap Darrien.
“Jangan lupa.”
Darrien tersenyum.
“Aku tidak akan lupa.”
Fiona mengangguk.
“Bagus.”
Ia kembali memegang kalungnya.
Hari itu tetap tenang.
Namun dua wilayah jauh di luar Veyra…
mulai menunggu.
Bukan lagi untuk mengejar.
Melainkan untuk melihat—
apa yang akan terjadi selanjutnya.
Share this novel