Series
94
BAB 52
KEPUTUSAN YANG PUTUS ASA
Setahun penundaan akhirnya menjadi terlalu lama.
Di kediaman keluarga Ardika, suasana berubah menjadi tegang.
Surya berdiri di ruang kerjanya.
Di atas meja terdapat beberapa surat.
Semua berasal dari keluarga Varian.
Surat pertama berisi permintaan penjelasan.
Surat kedua berisi peringatan.
Surat ketiga jauh lebih tegas.
Pernikahan harus segera dilaksanakan.
Surya membaca surat terakhir untuk kedua kalinya.
Tangannya mengepal.
“Mereka tidak memberi kita pilihan.”
Susanti berdiri di dekat jendela.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?”
Surya tidak langsung menjawab.
Ia menatap potret Lola yang berada di atas meja.
Putrinya.
Gadis yang sejak awal menolak pernikahan itu.
“Kita sudah mencoba menunda.”
Susanti mengangguk.
“Dan mereka mulai curiga.”
“Jika pernikahan dibatalkan sekarang…”
Surya berhenti.
“Kita akan kehilangan kerja sama dengan keluarga Varian.”
Susanti menunduk.
“Aku tahu.”
Beberapa saat kemudian, Marcus masuk.
“Tuan.”
Surya menoleh.
“Bagaimana hasil penyelidikan?”
Marcus membawa sebuah berkas.
“Gadis itu masih tinggal di tempat yang sama.”
“Dan kau yakin dia cocok?”
“Secara fisik, sangat mirip dengan Nona Lola.”
Surya membuka berkas tersebut.
Ada beberapa catatan.
Usia.
Ciri fisik.
Tempat gadis itu terlihat.
Orang-orang yang bersamanya.
Surya membaca semuanya.
“Tidak ada nama keluarga?”
“Belum.”
“Orang tuanya?”
“Tidak diketahui.”
Surya terdiam.
“Siapa yang tinggal bersamanya?”
“Seorang Elf bernama Elarion.”
“Dan anak laki-laki itu?”
“Darrien.”
Surya mengangguk perlahan.
“Apakah mereka bangsawan?”
“Tidak ada tanda-tanda.”
“Bagus.”
Susanti langsung menatap suaminya.
“Surya…”
“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”
“Ini salah.”
Surya menutup berkas.
“Aku juga tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena kita sudah kehabisan waktu.”
Susanti menggenggam tangannya.
“Bagaimana kalau gadis itu menolak?”
Surya terdiam.
Tatapannya menjadi dingin.
“Kita akan membawanya.”
Susanti terkejut.
“Surya.”
“Aku tidak mengatakan kita akan menyakitinya.”
“Namun…”
“Kita hanya membutuhkan seseorang yang dapat menggantikan Lola untuk sementara.”
Marcus menundukkan kepala.
“Tuan.”
Surya menatapnya.
“Siapkan kereta.”
“Berapa orang?”
“Tidak banyak.”
Ia berhenti.
“Namun cukup untuk memastikan dia tidak bisa melarikan diri.”
Susanti memejamkan mata.
Ia tidak menyukai keputusan itu.
Namun tekanan keluarga Varian semakin berat.
Dan mereka tidak memiliki solusi lain.
Setidaknya…
begitulah yang mereka yakini.
***
Beberapa hari kemudian, sebuah kereta keluarga Ardika tiba di kota tempat Fiona sering datang bersama Elarion.
Surya turun lebih dahulu.
Susanti mengikuti.
Marcus berdiri di belakang mereka.
Mereka tidak mengenakan lambang keluarga secara mencolok.
Tidak ada alasan untuk membuat keributan.
Surya melihat jalan kota.
“Di mana dia biasanya muncul?”
Marcus menunjuk ke arah jalan utama.
“Biasanya sekitar sini.”
“Dan kapan?”
“Tidak selalu.”
Surya mengerutkan kening.
“Kalau begitu kita menunggu.”
Mereka menyewa sebuah kediaman kecil untuk sementara.
Tidak jauh dari pusat kota.
Marcus menempatkan beberapa orang untuk mengawasi jalan.
Tidak ada yang mendekati Fiona.
Belum.
Surya ingin melihatnya sendiri terlebih dahulu.
Ia ingin memastikan kemiripan itu benar-benar cukup.
***
Sore berikutnya…
Fiona datang ke kota bersama Darrien dan Elarion.
Mereka berjalan seperti biasa.
Fiona sedang berbicara tentang sesuatu yang membuat Darrien tertawa.
Mereka tidak mengetahui bahwa beberapa pasang mata sedang mengawasi dari kejauhan.
Marcus melihatnya lebih dahulu.
“Itu dia.”
Surya berdiri.
Tatapannya langsung tertuju pada Fiona.
Untuk sesaat…
ia terdiam.
Kemiripan itu jauh lebih kuat jika dilihat secara langsung.
Bukan hanya wajah.
Cara berjalan.
Postur.
Bahkan ekspresi ketika tersenyum.
Semuanya mengingatkannya pada Lola.
Susanti berdiri di samping suaminya.
“Benar…”
Suaranya pelan.
“Dia sangat mirip.”
Marcus mengangguk.
Surya menarik napas panjang.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Fiona.
“Kita sudah menemukannya.”
Susanti menatap suaminya.
“Surya…”
“Kita akan membawanya pulang.”
“Dan kalau dia menolak?”
Surya tidak menjawab selama beberapa detik.
Kemudian ia berkata,
“Marcus.”
“Ya, Tuan.”
“Jangan biarkan dia pergi.”
Marcus menundukkan kepala.
“Dipahami.”
Surya kembali menatap Fiona.
Gadis itu masih tidak menyadari keberadaan mereka.
Ia hanya berjalan bersama Darrien dan Elarion.
Tertawa.
Berbicara.
Menikmati sore seperti biasa.
Surya menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Ada rasa bersalah.
Ada keputusasaan.
Namun di atas semuanya…
ada kebutuhan untuk menyelamatkan keluarganya sendiri.
Dan keputusan yang dibuat karena keputusasaan…
sering kali menjadi keputusan yang paling sulit untuk diperbaiki.
Di sisi lain jalan, Fiona tiba-tiba berhenti.
Darrien menoleh.
“Ada apa?”
Fiona melihat sekeliling.
“Entahlah.”
“Apa kau merasakan sesuatu?”
Fiona menggeleng.
“Mungkin hanya perasaanku.”
Darrien memperhatikan sekeliling.
Tidak ada yang terlihat aneh.
Elarion juga tidak mengatakan apa-apa.
Mereka kembali berjalan.
Sementara di kejauhan…
Surya, Susanti, dan Marcus tetap berdiri.
Menunggu kesempatan.
Dan untuk pertama kalinya…
Fiona telah masuk ke dalam permainan keluarga bangsawan manusia tanpa pernah menyadarinya.
Share this novel