76. Mendekati Pergunungan

Romance Series 94

BAB 76
MENDEKATI PEGUNUNGAN

Mereka terus berjalan sepanjang malam.

Pegunungan semakin dekat.

Di belakang mereka, suara pengejar sudah tidak terdengar.

Namun Darrien tetap menggunakan sensing secara berkala.

Ardika.

Varian.

Masih mengejar.

“Mereka tidak menyerah,” kata Ace.

Darrien menatap jalan di depan.

“Aku juga tidak.”

Fiona yang berjalan di sampingnya tersenyum kecil.

“Aku mulai lelah.”

Darrien langsung berhenti.

“Kita istirahat.”

Ace hendak membantah, tetapi Kevin lebih dulu berkata,

“Lima belas menit.”

Fiona duduk di sebuah batu.

Darrien ikut duduk di sampingnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Mereka hanya mendengarkan suara angin gunung.

Fiona akhirnya berkata pelan,

“Aku masih tidak percaya kau benar-benar datang.”

Darrien menatapnya.

“Aku sudah bilang aku akan datang.”

“Ya…”

Fiona tersenyum.

“Tapi aku tetap takut.”

Darrien terdiam.

Kemudian ia mengulurkan tangannya.

Fiona menggenggamnya.

“Aku juga takut,” katanya.

Fiona menatapnya terkejut.

“Kau?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Darrien menatap tangan mereka.

“Takut terlambat.”

Fiona tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangannya lebih erat.

***

Beberapa saat kemudian, Kevin berdiri.

“Waktu habis.”

Darrien bangkit.

Mereka kembali berjalan.

Namun baru beberapa ratus meter—

Darrien berhenti.

“Datang.”

Ace langsung melihat ke belakang.

“Berapa banyak?”

“Banyak.”

Kevin mengangkat tangan.

Ia merasakan energi dari kejauhan.

“Ardika dan Varian.”

Elarion menghela napas.

“Mereka akhirnya menyusul.”

Fiona menatap pegunungan di depan.

“Kalau kita masuk lebih dalam?”

Ace mengangguk.

“Kita punya peluang lebih besar untuk menghilangkan jejak.”

Darrien menatapnya.

“Kalau begitu jangan berhenti.”

Mereka bergerak lebih cepat.

***

Matahari mulai muncul di balik pegunungan.

Mereka akhirnya mencapai sebuah lembah sempit.

Darrien menatap ke depan.

“Di sini.”

Kevin mengangguk.

“Tempat yang bagus untuk bertahan.”

Elarion melihat sekeliling.

“Dan tempat yang buruk kalau dikepung.”

Darrien menatap jalan masuk.

“Berarti kita tidak boleh membiarkan mereka mengelilingi kita.”

Ace mengeluarkan pedangnya.

“Sekarang kau mulai berpikir seperti seorang komandan.”

Darrien tersenyum tipis.

“Aku hanya tidak ingin kehilangan Fiona lagi.”

Fiona menatapnya.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa—

suara kuda terdengar.

Banyak.

Darrien menutup matanya.

Sensing-nya menyebar.

Puluhan aura.

Kemudian lebih banyak lagi.

Ia membuka mata.

“Mereka sudah tiba.”

Dari ujung jalan—

rombongan Ardika muncul.

Di belakang mereka…

keluarga Varian.

Keith turun dari kudanya.

Surya juga.

Clark berdiri di samping ayahnya.

Semua mata langsung tertuju kepada Fiona.

Surya melangkah maju.

“Fiona.”

Fiona menggenggam tangan Darrien.

Surya menatap tangan mereka.

Ekspresinya mengeras.

“Pulanglah.”

Fiona menggeleng.

“Aku sudah pulang.”

Surya terdiam.

Fiona menatapnya.

“Rumahku bukan di Ardika.”

Keith Varian maju.

“Dan kau tahu apa akibatnya jika kau menolak pernikahan ini.”

Fiona tidak menjawab.

Clark menatapnya.

Ia tidak terlihat marah.

Hanya bingung.

“Fiona…”

Ia berhenti.

“Apa kau benar-benar tidak ingin menikah denganku?”

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

Clark menundukkan kepala.

Ia menerima jawaban itu.

Namun Keith langsung berkata,

“Kalau begitu keluarga Ardika harus menyerahkannya.”

Darrien melangkah maju.

“Tidak.”

Semua mata beralih kepadanya.

Surya memperhatikan anak laki-laki itu.

Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

Namun Marcus yang berdiri di belakang rombongan Ardika…

langsung mengenalinya.

Darrien.

Marcus menyipitkan mata.

Ada sesuatu yang tidak masuk akal tentang aura anak itu.

Namun sebelum ia dapat berpikir lebih jauh—

Surya berkata,

“Siapa kau?”

Darrien tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di depan Fiona.

Melindunginya.

Keith memberi isyarat.

Para penjaga mulai bergerak.

Kevin mengangkat tangannya.

Elarion berdiri di sisi lain.

Ace menarik senjatanya.

Fiona menatap Darrien.

“Jangan tinggalkan aku.”

Darrien menoleh.

“Tidak akan.”

Kemudian—

sihir mulai memenuhi lembah.

Pertempuran yang selama ini mereka hindari…

akhirnya tidak dapat dihindari lagi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience