Series
94
BAB 54
SEORANG ANAK YANG TERLALU TERDIAM
Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.
Darrien berjalan di samping Elarion.
Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Sejak mereka meninggalkan kota, ia tidak pernah bertanya.
Tidak pernah menangis.
Tidak pernah berteriak.
Ia hanya berjalan.
Elarion beberapa kali meliriknya.
Namun tidak memaksanya berbicara.
Ketika mereka akhirnya sampai di rumah, Darrien berhenti di depan pintu.
Ia menatap halaman tempat dirinya dan Fiona biasa berlatih.
Kosong.
Tidak ada suara Fiona.
Tidak ada tawa.
Tidak ada seseorang yang akan menyuruhnya beristirahat ketika Kevin terlalu keras melatihnya.
Darrien menundukkan kepala.
“Dia pergi…”
Itulah kata pertama yang keluar dari mulutnya.
Elarion menatapnya.
“Ya.”
Darrien mengepalkan tangan.
“Aku tidak bisa menghentikan mereka.”
Elarion diam.
“Mereka bahkan tidak menggunakan kekuatan penuh.”
Darrien menatap tangannya sendiri.
“Aku sudah belajar selama setahun.”
Suaranya semakin pelan.
“Tapi bahkan penghalang itu…”
Ia terdiam.
Ia masih mengingat penghalang yang dibuat para penjaga.
Sihirnya bahkan tidak mampu menembusnya.
Ia tidak cukup kuat.
Bukan untuk melindungi Fiona.
Bukan untuk membawanya kembali.
Darrien menutup tangannya.
“Aku terlalu lemah.”
Elarion mendekat.
“Darrien.”
“Aku tahu.”
Darrien menggeleng.
“Aku tahu kau akan mengatakan aku masih muda.”
“Bukan itu yang ingin kukatakan.”
Darrien menatapnya.
Elarion berkata perlahan,
“Kau tidak gagal karena kau lemah.”
Darrien terdiam.
“Kau gagal karena kau belum cukup kuat.”
Kata-kata itu membuat Darrien membeku.
Elarion melanjutkan,
“Dan itu sesuatu yang bisa diperbaiki.”
Darrien menatapnya cukup lama.
Kemudian bertanya,
“Bagaimana?”
Elarion tahu apa yang akan terjadi.
“Dengan belajar.”
Darrien mengangguk.
“Kalau begitu aku akan belajar.”
Ia berbalik.
Namun sebelum masuk rumah, ia berhenti.
“Lebih keras.”
Elarion memandang punggungnya.
“Darrien.”
“Aku ingin belajar lebih keras.”
Kemudian ia masuk.
***
Keesokan paginya, Kevin datang seperti biasa.
Ia membawa beberapa kristal latihan.
Namun sebelum ia sempat berbicara—
“Aku siap.”
Kevin berhenti.
Darrien sudah berdiri di tengah halaman.
“Mulai.”
Kevin mengamati wajah anak itu.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada candaan.
Tidak ada tatapan malas.
Hanya fokus.
Kevin meletakkan kristal.
“Baik.”
Latihan dimulai.
Darrien gagal.
“Ulangi.”
Ia mengulang.
Gagal lagi.
“Ulangi.”
Ia mengulang.
Lagi.
Dan lagi.
Tangannya mulai gemetar.
Napasnya berat.
Namun ia tidak berhenti.
Kevin akhirnya berkata,
“Cukup.”
“Belum.”
“Tubuhmu sudah mencapai batas.”
“Aku bisa lanjut.”
“Tidak.”
Darrien menatapnya.
“Aku harus menjadi lebih kuat.”
Kevin terdiam.
Ia sudah tahu alasan di balik perubahan itu.
Namun melihatnya secara langsung tetap berbeda.
Darrien tidak sedang berlatih karena ingin menjadi hebat.
Ia sedang berlatih karena seseorang telah diambil darinya.
Kevin mendekat.
“Kalau kau memaksakan tubuhmu seperti ini, kau justru akan menjadi lebih lemah.”
Darrien mengepalkan tangan.
“Kalau begitu ajari aku cara menjadi lebih kuat tanpa menghancurkan diriku sendiri.”
Kevin terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Baik.”
Untuk pertama kalinya sejak menjadi gurunya…
Kevin melihat Darrien meminta pelajaran tambahan tanpa perlu dipaksa.
Dan latihan itu menjadi jauh lebih berat.
***
Namun Darrien tidak mengetahui bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari balik pepohonan.
Ace.
Ia berdiri dalam diam.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan Darrien.
Beberapa saat kemudian, ia melihat anak itu jatuh berlutut.
Namun Darrien segera bangkit.
Ace menghela napas.
“Ini bukan sekadar latihan.”
Ia tahu perubahan itu terlalu besar.
Malam itu, Ace menulis sebuah laporan.
> Yang Mulia,
>
> Ada perubahan besar pada dirinya.
>
> Setelah gadis itu dibawa pergi, Darrien menjadi jauh lebih tertutup.
>
> Ia berlatih tanpa henti.
>
> Ia merasa dirinya gagal melindunginya.
>
> Saya khawatir jika keadaan ini terus berlanjut, ia akan memaksakan dirinya melampaui batas.
Ace berhenti menulis.
Kemudian menambahkan satu kalimat.
> Namun keinginannya untuk menjadi lebih kuat sangat kuat.
Ia melipat surat tersebut.
Besok, laporan itu akan sampai ke Istana Veyth.
***
Sementara itu…
Kereta keluarga Ardika telah meninggalkan kota.
Fiona duduk di dalamnya bersama Susanti.
Ia masih memegang erat bunga kecil yang tadi dibelinya.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku ingin kembali.”
Susanti menatapnya.
“Fiona…”
“Namaku Fiona.”
Susanti terdiam.
“Bukan Lola.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kalian membawaku?”
Susanti tidak mampu menjawab.
Di depan mereka, Surya mendengar pertanyaan itu.
Ia menutup matanya.
Marcus yang duduk di luar kereta juga mendengar.
Tidak seorang pun merasa nyaman.
Namun keputusan telah dibuat.
Ketika mereka tiba di kediaman Ardika, Fiona dibawa masuk ke sebuah kamar.
Di sana sudah tersedia pakaian.
Perhiasan.
Dan sebuah potret Lola.
Fiona menatap semuanya.
Kemudian menggeleng.
“Aku tidak mau memakai itu.”
Susanti berdiri di ambang pintu.
“Fiona…”
“Aku bukan putri kalian.”
Suaranya bergetar.
“Aku tidak akan menjadi dia.”
Susanti tidak menjawab.
Pintu akhirnya tertutup.
Fiona duduk di tepi tempat tidur.
Ia memandang bunga kecil di tangannya.
Kemudian mengingat wajah Darrien.
Senyumnya.
Suaranya.
Janji kecilnya di tepi danau.
*“Aku tidak akan pergi.”*
Air mata akhirnya jatuh.
“Darrien…”
Ia memeluk lututnya.
Di luar kamar, Marcus berdiri diam.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri…
apakah keputusan keluarga Ardika telah menjadi sebuah kesalahan yang tidak dapat diperbaiki.
Dan jauh di tempat lain—
Darrien sedang berdiri sendirian di halaman.
Tangannya kembali mengeluarkan hawa dingin.
Ia menatap kristal latihan di depannya.
“Sekali lagi.”
Kevin mengangguk.
“Sekali lagi.”
Share this novel