263. Mimpi Yang Kubawa Sendiri

Romance Series 382

BAB 263 — MIMPI YANG KUBAWA SENDIRI

Fiona masih terdiam di atas tempat tidurnya.

Napasnya perlahan kembali normal.

Namun jantungnya—

masih berdetak terlalu cepat.

Ia menatap ruangan yang gelap.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada suara.

Tidak ada sosok yang mengejarnya.

Tidak ada darah.

Tidak ada Darrien yang terbaring dalam pelukannya.

Hanya kamarnya.

Hanya malam.

Namun—

rasa sakit itu masih terasa nyata.

Fiona mengangkat tangannya dan menyentuh dadanya sendiri.

“Kenapa…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia menelan ludah.

“Mengapa rasanya begitu nyata?”

Ia memejamkan mata.

Namun begitu matanya tertutup—

pemandangan itu kembali muncul.

Tubuh Darrien yang penuh darah.

Wajahnya yang tidak bergerak.

Tangannya yang dingin.

Dan suaranya sendiri—

memohon agar Darrien tidak meninggalkannya.

Fiona membuka mata kembali.

Ia tidak sanggup tidur.

Bukan karena takut pada kegelapan.

Tetapi karena setiap kali mencoba memejamkan mata—

ia takut akan melihat pemandangan yang sama lagi.

Akhirnya Fiona bangkit dari tempat tidur.

Ia berjalan perlahan menuju balkon.

Pintu kaca dibuka.

Angin malam langsung menyentuh wajahnya.

Lembut.

Dingin.

Menenangkan.

Fiona berdiri di sana.

Rambutnya bergerak perlahan tertiup angin.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian mengembuskannya.

Sedikit demi sedikit—

ketegangan di tubuhnya mulai berkurang.

***

Langit perlahan berubah.

Bulan yang sejak tadi menggantung tinggi mulai turun menuju garis cakrawala.

Cahayanya tidak lagi seterang sebelumnya.

Di kejauhan—

warna gelap malam mulai perlahan memudar.

Fiona menatap langit.

“Hampir fajar…”

Ia bersandar pada pagar balkon.

Matanya masih terasa berat.

Namun ia tidak ingin kembali tidur.

Tidak sekarang.

Ia menatap bulan yang perlahan menghilang.

Kemudian—

air mata kembali jatuh.

Satu tetes.

Lalu satu lagi.

Fiona segera mengusap pipinya.

“Ini hanya mimpi.”

Ia mencoba tersenyum.

“Hanya mimpi…”

Namun suaranya bergetar.

Ia tahu itu hanya mimpi.

Ia tahu Darrien masih hidup.

Darrien bahkan mungkin sedang tidur dengan tenang setelah latihan beratnya kemarin.

Tidak ada yang terjadi.

Tidak ada alasan untuk menangis.

Namun—

hatinya tidak peduli pada logika.

Karena rasa kehilangan yang ia rasakan dalam mimpi itu—

terlalu dalam.

Terlalu nyata.

Seolah-olah untuk sesaat—

ia benar-benar telah kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya.

Fiona memegang dadanya.

“Rasanya sakit…”

Ia menundukkan kepala.

Air mata terus mengalir.

“Aku bahkan tidak tahu kenapa.”

***

Fiona kemudian terdiam.

Pikirannya kembali kepada Darrien.

Latihan.

Kevin.

Semua yang telah dilakukan Darrien selama beberapa hari terakhir.

Ia tahu Darrien sedang berusaha keras.

Ia tahu Darrien ingin menjadi lebih kuat.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri—

tetapi juga demi melindunginya.

Fiona tersenyum kecil meskipun matanya masih basah.

“Darrien…”

Ia menatap ke arah bagian istana tempat kamar Darrien berada.

Jarak mereka tidak terlalu jauh.

Hanya beberapa bagian koridor yang memisahkan.

Untuk sesaat—

Fiona ingin pergi ke sana.

Ingin memastikan Darrien benar-benar baik-baik saja.

Ingin melihatnya.

Ingin mendengar suaranya.

Namun langkahnya tidak bergerak.

Ia menggeleng perlahan.

“Tidak.”

Fiona mengusap air matanya.

“Aku tidak boleh mengganggunya.”

Darrien harus fokus.

Latihan Kevin tidak mudah.

Ia sudah melihat sendiri seberapa keras Darrien berlatih.

Jika ia menceritakan mimpi aneh itu sekarang—

Darrien pasti akan khawatir.

Dan Fiona tidak ingin itu.

Ia tidak ingin membuat Darrien kehilangan konsentrasi.

Terlebih lagi—

mimpi itu bahkan tidak memiliki jawaban.

Ia sendiri tidak tahu apa artinya.

Bagaimana mungkin ia meminta Darrien memikirkan sesuatu yang bahkan tidak ia pahami?

Fiona menarik napas.

“Ini hanya mimpi.”

Ia mengulanginya lagi.

Kali ini lebih pelan.

“Tidak ada yang terjadi.”

Ia memegang kalung di lehernya tanpa sadar.

Jarinya kemudian menyentuh Silver Leaf Bracelet di pergelangan tangannya.

Ia tidak menyadari bahwa keduanya sudah kembali normal.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada tanda aneh.

Hanya benda-benda yang selama ini selalu menemaninya.

Fiona menatap gelang itu.

Kemudian tersenyum tipis.

“Aku akan menyimpannya sendiri.”

Ia menatap langit.

“Aku tidak akan membuatmu khawatir, Darrien.”

Angin kembali berembus.

Rambut Fiona bergerak lembut.

Bulan semakin rendah.

Dan cahaya pertama fajar mulai muncul di kejauhan.

Fiona berdiri di balkon—

sendirian.

Membawa sebuah mimpi yang tidak ia mengerti.

Sebuah mimpi yang terasa seperti peringatan.

Namun ia belum tahu—

apakah itu benar-benar hanya mimpi.

Atau—

sesuatu yang sedang mencoba mengingatkannya tentang masa depan yang belum terjadi.

Fiona menutup matanya sejenak.

Kemudian berbisik,

“Semoga aku tidak pernah melihatnya lagi…”

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun—

ia berharap sebuah mimpi bisa benar-benar menjadi—

hanya mimpi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience