339. Cerita Yang Membawa Mata Air

Romance Series 390

BAB 339 — CERITA YANG MEMBAWA AIR MATA

DI VEYTH

Percakapan antara Fiona, Edward, dan Gloria masih berlanjut.

Tidak ada lagi cermin sihir.

Tidak ada lagi gambaran masa lalu.

Kali ini—

Fiona menceritakannya sendiri.

Dengan kata-katanya sendiri.

Ia menceritakan bagaimana dirinya pertama kali bertemu Darrien.

Bagaimana mereka yang seharusnya menjadi musuh justru perlahan menjadi dekat.

Bagaimana Darrien yang dingin di depan semua orang ternyata memiliki sisi yang berbeda ketika hanya bersamanya.

Gloria beberapa kali tersenyum.

“Jadi… dia memang seperti itu sejak dulu?”

Fiona tertawa kecil.

“Ya.”

Ia menggeleng.

“Bahkan dulu dia juga keras kepala.”

Edward ikut tertawa.

“Setidaknya bagian itu tidak berubah.”

Fiona tersenyum.

Untuk beberapa saat—

ruangan itu dipenuhi tawa kecil.

Namun ketika cerita berlanjut—

senyum mereka perlahan menghilang.

Fiona mulai menceritakan pengkhianatan.

Tentang bagaimana Darrien terluka.

Tentang bagaimana ia berusaha mencapainya.

Tentang saat terakhir ketika Darrien menatapnya.

Dan tentang dua kata yang masih ia ingat sampai sekarang.

“Aku mencintaimu.”

Suara Fiona bergetar ketika mengucapkannya.

Gloria menundukkan kepala.

Tangannya menutup mulut.

Edward menghela napas panjang.

Tidak ada yang tertawa lagi.

Fiona melanjutkan.

Ia menceritakan bagaimana Darrien meninggal dalam pelukannya.

Bagaimana dunia seakan berhenti.

Bagaimana ia menolak menerima kenyataan.

Dan bagaimana Forbidden Magic menjadi satu-satunya hal yang terpikir olehnya.

“Aku tahu itu salah.”

Fiona menundukkan kepala.

“Aku tahu aku seharusnya melepaskannya.”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Tapi aku tidak mampu.”

Gloria perlahan mengulurkan tangannya.

Ia menggenggam tangan Fiona.

“Kau sangat mencintainya.”

Fiona terdiam.

Kemudian mengangguk.

“Ya.”

Satu air mata jatuh.

“Aku terlalu mencintainya.”

Edward yang sejak tadi diam akhirnya berkata,

“Dan kau menunggunya selama ribuan tahun.”

Fiona tersenyum sedih.

“Ya.”

“Tidak pernah menyerah?”

“Tidak.”

Edward menghela napas.

“Kalau begitu…”

Ia menatap Fiona.

“…aku tidak tahu apakah aku harus marah atau berterima kasih.”

Fiona mengangkat kepalanya.

Edward tersenyum tipis.

“Karena kau mengambil anak kami.”

Ia berhenti.

“Tapi kau juga membawanya kembali kepada kami.”

Fiona tidak mampu menjawab.

Gloria kemudian berkata pelan,

“Dan sekarang dia kembali.”

Fiona tersenyum.

“Ya.”

“Dia bukan Darrien yang dulu.”

“Tidak.”

Fiona menatap meja.

“Tapi dia tetap Darrien.”

Gloria mengangguk.

“Benar.”

Percakapan kembali berlanjut.

Tentang masa kecil Darrien.

Tentang Akasia.

Tentang bagaimana Fiona dan Darrien tumbuh sebagai anak biasa.

Tentang kejadian-kejadian yang membawa mereka kembali ke dunia sihir.

Tentang semua luka yang mereka alami.

Ada saat ketika Edward tertawa.

Ada saat ketika Gloria menangis.

Ada saat ketika Fiona sendiri tertawa sambil menghapus air matanya.

Dan untuk pertama kalinya—

cerita tentang masa lalu tidak terasa seperti sebuah kutukan.

Melainkan—

sebuah kisah yang akhirnya bisa diceritakan kepada orang lain.

***

DI LUNARIS

Sementara itu—

di area latihan kerajaan—

suara langkah kaki terus terdengar.

**WHOOSH!**

Darrien bergerak cepat.

Kevin langsung berbelok.

Darrien mengejarnya.

**WHOOSH!**

Kevin tiba-tiba berhenti.

Darrien ikut berhenti.

Namun kali ini—

ia berhasil menjaga keseimbangannya.

Kevin mengangguk.

“Lebih baik.”

Darrien menarik napas.

“Lagi.”

Kevin menghela napas.

“Kau benar-benar tidak mengenal kata istirahat.”

Darrien menggeleng.

“Aku perlu mengejar kecepatannya.”

Kevin tahu siapa yang dimaksud.

“Fiona.”

Darrien mengangguk.

Kevin kemudian melihat tiga orang yang berdiri di sisi lapangan.

Elarion.

Ace.

Rowan.

Mereka telah menyaksikan latihan itu sejak tadi.

Ace bersiul.

“Darrien benar-benar serius.”

Rowan mengangguk.

“Dia tidak berhenti sejak pagi.”

Elarion memperhatikan gerakan Darrien.

“Kecepatannya meningkat.”

Ace menatap Kevin.

“Kevin juga terlihat semakin kejam.”

Kevin menoleh.

“Aku mendengarnya.”

Ace langsung diam.

“…Aku hanya memberikan pujian.”

Kevin mendengus.

“Bagus.”

Kemudian—

suara langkah lain terdengar.

Elyon datang.

Ia berdiri di samping yang lainnya.

“Aku dengar latihan ini sudah berlangsung sejak pagi.”

Ace menunjuk Kevin.

“Dia tidak membiarkannya istirahat.”

Kevin langsung membalas,

“Dia sendiri yang meminta.”

Darrien mengangkat tangannya.

“Benar.”

Elyon tersenyum.

“Kalau begitu, lanjutkan.”

Ace menatap Elyon.

“Bukannya kita harus menghentikannya?”

Elyon menggeleng.

“Tidak.”

Ia melihat Darrien.

“Jika dia ingin mengejar kecepatan Fiona…”

Elyon tersenyum tipis.

“…maka dia harus tahu seberapa jauh kemampuannya sekarang.”

Kevin mengangguk.

“Itu yang sedang kami lakukan.”

Ia kemudian kembali berdiri di depan Darrien.

“Sekarang…”

Kevin menunjuk seluruh lapangan.

“Kita naik satu tingkat.”

Darrien langsung bersiap.

“Apa?”

Kevin tersenyum.

“Kali ini aku tidak akan memberi tanda.”

Darrien mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Kau harus membaca gerakanku sendiri.”

Kevin tiba-tiba menghilang.

**WHOOSH!**

Darrien langsung bergerak.

Ia mengikuti.

Kevin muncul di sisi kanan.

Darrien berbelok.

Kevin berpindah ke kiri.

Darrien mengikuti lagi.

Gerakan mereka semakin cepat.

Ace mulai bersorak.

“Darrien mulai bisa mengikuti!”

Rowan mengangguk.

“Jauh lebih cepat dari sebelumnya.”

Elarion memperhatikan dengan serius.

“Bukan hanya kecepatannya.”

Elyon menoleh.

“Apa maksudmu?”

“Kontrolnya.”

Elarion menunjuk Darrien.

“Dia mulai belajar bagaimana menggunakan kecepatannya tanpa kehilangan keseimbangan.”

Elyon mengangguk.

“Itu yang dia butuhkan.”

Kevin kembali berhenti.

Darrien berhenti beberapa langkah di belakangnya.

Keduanya sama-sama menarik napas.

Kevin tersenyum.

“Lumayan.”

Darrien mengangkat alis.

“Lumayan?”

Kevin mengangguk.

“Untuk seseorang yang sedang mencoba mengejar Saintess.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu…”

Ia kembali mengambil posisi.

“Sekali lagi.”

Kevin menatapnya.

Kemudian tersenyum lebar.

“Baiklah.”

Ace langsung menghela napas.

“Dia akan melakukannya lagi.”

Rowan tertawa kecil.

“Sudah pasti.”

Elarion menggeleng.

“Dan Kevin akan membuatnya lebih sulit.”

Kevin menoleh.

“Benar.”

Ace membeku.

“…Kenapa aku merasa dia sengaja mendengar kita?”

Kevin tersenyum.

“Karena aku memang mendengar.”

Ace langsung mundur.

“Baik. Aku diam.”

Dan latihan kembali dimulai.

**WHOOSH!**

Sementara di Veyth—

kisah masa lalu masih terus diceritakan.

Dan di Lunaris—

masa depan sedang dilatih.

Tanpa disadari oleh siapa pun—

dua kehidupan Fiona dan Darrien yang dahulu terpisah oleh ribuan tahun…

kini perlahan sedang berjalan menuju satu masa depan yang sama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience