Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 509 — JAWABAN YANG SAMPAI KE DALAM KEGELAPAN
Ruangan makan Veyth kembali sunyi.
Pertanyaan yang baru saja diajukan masih menggantung di udara.
Tentang Raizen.
Tidak ada seorang pun yang terburu-buru mengulanginya.
Fiona sendiri hanya menatap cangkir teh di hadapannya.
Uap tipis masih naik dari permukaannya.
Darrien duduk di sampingnya.
Tangannya masih menggenggam tangan Fiona di bawah meja.
Tidak erat.
Tidak memaksa.
Hanya ada.
Seolah-olah dia sedang mengatakan tanpa suara—
*Jawablah dengan apa yang benar-benar kau rasakan.*
Fiona menarik napas.
Kemudian perlahan mengangkat wajah.
“Apa yang ingin kalian ketahui?”
Elarion menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.
“Yang sebenarnya.”
Fiona tersenyum kecil.
“Jawaban seperti itu biasanya terlalu luas.”
Elyon menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kalau begitu...”
Dia memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Apa yang kau rasakan terhadap Raizen sekarang?”
Tidak ada yang bergerak.
Edward menatap Fiona.
Gloria menggenggam tangan suaminya.
Zeith dan Seraphine juga diam.
Sylvester menunggu.
Rowan berhenti menulis.
Kevin bahkan tidak lagi bersandar santai.
Dan Darrien...
tetap diam.
Fiona menundukkan pandangan.
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya dia menjawab.
“Aku tidak membencinya.”
Darrien menutup matanya sebentar.
Bukan karena sakit.
Dia sudah tahu jawaban itu mungkin akan datang.
Fiona melanjutkan.
“Apa yang terjadi antara aku dan Raizen... memang tidak bisa dibenarkan.”
Jarinya bergerak perlahan di atas meja.
“Dia mengambil sesuatu dariku tanpa izinku.”
“Ingatan.”
“Pilihan.”
“Dan pada akhirnya...”
Fiona terdiam.
Matanya sedikit meredup.
“...dia hampir membunuhku.”
Keheningan kembali turun.
Namun suaranya tidak mengandung kebencian.
Hanya kenyataan.
“Tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa semua yang terjadi bersamanya adalah kebohongan.”
Darrien membuka mata.
Fiona menatapnya.
“Aku mengingat semuanya.”
“Taman itu.”
“Danau.”
“Makanan.”
“Tarian.”
“Malam-malam ketika kami hanya duduk dan berbicara.”
Dia menarik napas.
“Cara dia menjagaku ketika aku sakit.”
“Cara dia tersenyum ketika aku tertawa.”
Fiona menundukkan kepala.
“Itu semua benar-benar terjadi.”
Seraphine menatap Fiona dengan lembut.
“Dan kau mencintainya?”
Fiona terdiam.
Lama.
Kemudian mengangguk.
“Ya.”
Tidak ada suara yang muncul setelahnya.
Darrien hanya menggenggam tangan Fiona sedikit lebih erat.
Fiona merasakan itu.
Dia menoleh kepadanya.
“Aku juga mencintaimu.”
Darrien tidak menjawab.
Namun matanya mengatakan cukup.
Fiona kembali menatap yang lain.
“Itulah yang membuat semuanya sulit.”
Dia tersenyum sedih.
“Aku tidak bisa menghapus perasaan yang pernah ada hanya karena sekarang aku mengingat Darrien.”
Elarion perlahan mengangguk.
“Jadi kau tidak menganggap kehidupanmu bersama Raizen sebagai sesuatu yang palsu.”
“Tidak.”
“Namun kau tetap memilih Darrien.”
Fiona menatap pria di sampingnya.
Tanpa ragu kali ini.
“Ya.”
Darrien menundukkan kepala.
Napas panjang keluar dari dadanya.
Fiona melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Karena sebelum semuanya berubah...”
Dia menatap Darrien.
“...aku sudah memilihnya.”
Tidak ada kesombongan dalam kata-katanya.
Tidak ada kemenangan.
Hanya keyakinan.
“Raizen memberiku beberapa bulan yang tidak akan pernah bisa kulupakan.”
Fiona mengusap ujung jarinya.
“Aku tidak menyesal pernah bahagia bersamanya.”
Namun matanya kemudian menjadi lebih serius.
“Tapi kebahagiaan itu tidak memberinya hak untuk menentukan siapa yang harus kuingat.”
Ruangan kembali sunyi.
“Dan aku tidak bisa kembali hanya karena dia mencintaiku.”
Darrien menatapnya.
Fiona mengangguk kecil.
“Aku tahu dia mencintaiku.”
“Dan mungkin...”
Dia menarik napas.
“...itulah sebabnya aku tidak membencinya.”
Elarion tidak lagi menulis.
Tidak ada yang menulis.
Karena jawaban itu terlalu manusiawi untuk dimasukkan ke dalam catatan.
Fiona mengangkat cangkirnya.
Namun sebelum meminumnya, dia berkata pelan,
“Aku hanya berharap suatu hari nanti dia mengerti...”
Semua orang menunggu.
“Bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti memilikinya.”
Darrien menatap Fiona.
Dan untuk sesaat...
dia tidak melihat wanita yang harus dia lindungi.
Dia hanya melihat Fiona.
Wanita yang akhirnya berani menentukan hidupnya sendiri.
***
Tidak ada seorang pun di meja itu yang menyadari...
bahwa jauh di sudut ruangan,
bayangan tipis bergerak.
Sangat kecil.
Hampir seperti bayangan biasa.
Namun sepasang mata merah samar terbuka di dalamnya.
Mendengarkan.
Mengingat.
Kemudian bayangan itu perlahan menghilang.
Tidak ada yang menyadarinya.
***
Shadowcresent.
Malam telah semakin dalam.
Raizen berdiri sendirian di taman mawar hitam.
Bulan merah menggantung di langit.
Cahayanya jatuh di atas rambut perak sang raja.
Tidak ada pengawal di dekatnya.
Tidak ada Mufasa.
Tidak ada pelayan.
Hanya dirinya.
Dan taman yang dulu pernah dipenuhi suara Fiona.
Sebuah bayangan muncul beberapa langkah di belakangnya.
Mufasa yang sedang berada tidak jauh dari sana melihatnya.
Dia tidak mendekat.
Dia hanya menunggu.
Bayangan itu menyampaikan seluruh informasi yang diterimanya.
Tidak ada satu pun kata yang terlewat.
Raizen mendengarkan.
Diam.
Tentang Fiona yang sudah sadar.
Tentang luka yang telah sembuh.
Tentang ingatannya yang telah kembali.
Tentang Darrien.
Tentang pilihan Fiona.
Dan akhirnya...
tentang satu kalimat terakhir.
*Mencintai seseorang tidak selalu berarti memilikinya.*
Bayangan itu menghilang.
Raizen tetap berdiri.
Tidak bergerak.
Mufasa memperhatikannya dari kejauhan.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Raizen mengangkat wajah.
Memandang bulan.
Angin malam melewati rambutnya.
Dan perlahan...
sangat perlahan...
sudut bibirnya terangkat.
Sebuah senyum kecil.
Hampir tidak terlihat.
Mufasa sedikit terkejut.
“Yang Mulia?”
Raizen tidak menoleh.
“Dia tidak membenciku.”
Hanya itu yang dia katakan.
Mufasa terdiam.
Raizen menatap bulan lebih lama.
“Setidaknya...”
Senyumnya tetap tipis.
“...aku masih memiliki kenangan yang tidak dia anggap sebagai kebohongan.”
Mufasa menundukkan kepala.
“Ya.”
Raizen menarik napas.
Untuk pertama kalinya...
tidak ada keinginan untuk mengejar.
Tidak ada perintah untuk membuka gerbang.
Tidak ada rencana untuk membawa Fiona kembali.
Dia hanya berdiri di sana.
Membiarkan kata-kata Fiona menetap di dalam dirinya.
Mencintai seseorang...
tidak selalu berarti memilikinya.
Raizen memejamkan mata.
“Kalau begitu...”
Suaranya hampir hilang tertiup angin.
“...aku akan belajar.”
Mufasa menatapnya.
“Belajar apa?”
Raizen membuka mata.
Menatap taman mawar hitam.
“Belajar mencintainya...”
Dia berhenti sejenak.
“...tanpa memaksanya kembali.”
Mufasa tidak menjawab.
Karena untuk seorang raja yang telah hidup selama ribuan tahun...
mungkin itulah pelajaran paling sulit yang pernah diberikan kehidupan kepadanya.
Raizen kembali menatap bulan.
Senyumnya masih ada.
Sangat tipis.
Sangat sedih.
Namun kali ini...
tidak ada penyesalan di dalamnya.
Hanya penerimaan.
“Selamat malam, Fiona.”
Dan di bawah bulan merah Shadowcresent...
untuk pertama kalinya sejak Fiona pergi,
Raizen tidak berharap dia kembali.
Dia hanya berharap...
Fiona bahagia.
