Series
94
BAB 28
CAHAYA DAN BAYANGAN
Beberapa minggu berlalu.
Latihan mereka semakin berat.
Namun Darrien dan Fiona juga semakin terbiasa.
Hari itu, Elarion membawa mereka ke sebuah lapangan kecil di tengah hutan.
Ia berdiri di depan mereka sambil membawa dua batu kristal.
“Pelajaran hari ini bukan tentang menyerang.”
Darrien menatap kristal itu.
“Bertahan?”
“Benar.”
Elarion meletakkan kedua kristal di tanah.
“Cobalah membuat penghalang.”
Fiona berkedip.
“Dengan cahaya?”
“Dengan apa pun yang kalian miliki.”
Darrien memandang Fiona.
“Bagaimana caranya?”
Elarion menggeleng.
“Aku tidak akan memberitahunya.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena penghalang bukan sekadar mantra.”
Elarion menunjuk dada mereka.
“Kalian harus memahami apa yang ingin kalian lindungi.”
Fiona terdiam.
Darrien juga.
Mereka berdiri di depan kristal.
Fiona mengangkat tangannya.
Cahaya keemasan muncul.
Namun ketika ia mencoba membentuknya menjadi dinding, cahaya itu pecah menjadi percikan kecil.
“Tidak bisa…”
“Jangan dipaksa.”
Fiona menarik napas.
Ia memikirkan sesuatu.
Bukan kekuatan.
Bukan kemenangan.
Ia memikirkan Darrien.
Tentang masa kecil mereka.
Tentang janji di bawah pohon akasia.
Tentang tangan kecil yang selalu menggenggam tangannya ketika ia takut.
Cahaya di tangannya berubah.
Perlahan membentuk lapisan tipis di depan tubuhnya.
Elarion tersenyum.
“Bagus.”
Fiona membuka mata.
Di hadapannya berdiri sebuah penghalang transparan berwarna keemasan.
“Aku berhasil!”
Darrien tersenyum.
“Bagus.”
Elarion mengangkat tangannya.
Sebuah hembusan angin kuat menghantam penghalang itu.
Fiona terkejut.
Namun penghalang tersebut tetap bertahan.
“Jangan kehilangan fokus.”
Fiona menggertakkan gigi.
Cahayanya bergetar.
Namun ia mempertahankannya.
Setelah beberapa detik, Elarion menghentikan angin.
Fiona menghela napas lega.
Kemudian Elarion menoleh kepada Darrien.
“Sekarang kau.”
Darrien maju.
Ia memejamkan mata.
Hawa dingin muncul di tubuhnya.
Namun kali ini ia tidak membiarkannya menyebar sembarangan.
Ia mengingat apa yang diajarkan Elarion.
Kendalikan.
Arahkan.
Jangan paksa.
Kabut hitam perlahan muncul di sekeliling tubuhnya.
Bukan seperti serangan.
Melainkan seperti lapisan tipis yang menyelimuti tubuhnya.
Elarion mengangkat alis.
“Menarik.”
Darrien membuka mata.
“Ini benar?”
“Ya.”
Sebuah batu kecil melayang di udara.
Elarion menggerakkannya dengan sihir.
Batu itu melesat ke arah Darrien.
**Tak!**
Batu tersebut menghantam lapisan bayangan dan jatuh ke tanah.
Darrien menatapnya.
“Aku berhasil menahannya.”
Elarion mengangguk.
“Kau mulai memahami sifat kekuatanmu.”
Fiona tersenyum.
“Sekarang kita sama-sama bisa melindungi diri.”
Darrien menatapnya.
“Dan satu sama lain.”
Elarion memperhatikan mereka.
Cahaya dan bayangan.
Dua kekuatan yang berbeda.
Namun semakin lama, semakin jelas bahwa keduanya memiliki satu kesamaan.
Mereka muncul paling kuat ketika digunakan untuk melindungi.
Hari itu, Elarion menyadari sesuatu.
Darrien dan Fiona mungkin belum tahu siapa mereka sebenarnya.
Namun kekuatan mereka sudah mulai memilih jalan mereka sendiri.
Bukan kehancuran.
Bukan kekuasaan.
Melainkan perlindungan.
Setidaknya…
untuk saat ini.
Share this novel