151. Jika Terulang Lagi

Romance Series 382

BAB 151
JIKA TERULANG LAGI

Fiona masih berada di taman belakang.

Cahaya keemasan yang sebelumnya mengelilingi tubuhnya telah padam.

Ia berdiri diam beberapa saat.

Tatapannya jatuh pada kedua tangannya.

Bayangan kejadian malam itu kembali muncul.

Mata merah.

Tawa yang menyeramkan.

Sihir yang mengikat tangan dan kakinya.

Dan tubuhnya yang tidak bisa bergerak.

Fiona menarik napas panjang.

“Kalau itu terjadi lagi…”

Ia terdiam.

Kemudian menggeleng.

“Aku tidak mau.”

Bukan karena ia takut menggunakan sihir.

Ia tahu kemampuannya.

Ia sudah berlatih cukup lama.

Namun malam itu mengajarinya satu hal.

Memiliki kekuatan tidak selalu berarti ia bisa menggunakannya tepat ketika dibutuhkan.

Fiona kembali mengangkat tangannya.

Cahaya muncul.

Kali ini ia membuat sebuah penghalang kecil di samping tubuhnya.

Kemudian—

ia membiarkannya menghilang.

“Kalau aku tidak bisa bergerak…”

Ia mencoba lagi.

Cahaya muncul tanpa banyak gerakan tangannya.

Sebuah lapisan tipis terbentuk di sekitar tubuhnya.

Fiona mengangguk.

“Lebih baik.”

Ia kemudian mencoba memusatkan cahaya pada kedua pergelangan tangannya.

Cahaya berdenyut.

Ia membayangkan ada sesuatu yang mengikat tangannya.

Kemudian mencoba mengganggu aliran sihir tersebut dengan Light Magic miliknya.

Cahaya bergetar.

Namun tidak cukup kuat.

Fiona mengerutkan kening.

“Belum bisa.”

Ia tidak menyerah.

Ia mencoba lagi.

Kali ini lebih perlahan.

Ia tidak memaksakan kekuatan.

Ia mencari celah.

Bagaimana jika ikatan itu tidak bisa dihancurkan?

Bagaimana jika ia hanya bisa melemahkannya?

Bagaimana jika ia hanya memiliki beberapa detik?

Fiona membuka matanya.

“Kalau tidak bisa menghancurkannya…”

Ia mengubah aliran cahayanya.

“…aku harus membuat celah.”

Cahaya terkumpul pada satu titik.

Kemudian—

**PRAK!**

Sebuah kilatan kecil muncul.

Fiona tersentak.

Ikatan imajiner yang ia bayangkan seolah kehilangan kestabilannya.

Matanya membesar.

“Berhasil sedikit.”

Ia tersenyum.

Tidak sempurna.

Namun cukup.

Kemudian ia mencoba sesuatu yang lain.

Fiona memusatkan Light Magic pada kedua kakinya.

Cahaya menyelimuti telapak kakinya.

Ia bergerak cepat ke samping.

Tubuhnya terdorong beberapa langkah.

Fiona hampir kehilangan keseimbangan.

“Whoa!”

Ia tertawa kecil.

Kemudian berdiri kembali.

“Kalau aku harus melarikan diri…”

Ia mengangguk puas.

“Ini bisa membantu.”

Fiona terus mencoba.

Penghalang.

Kilatan cahaya.

Pemutusan aliran sihir.

Gerakan cepat.

Kemudian ia mencoba menggabungkannya.

Tidak semuanya berhasil.

Beberapa kali ia hampir terjatuh.

Beberapa kali cahayanya padam terlalu cepat.

Namun Fiona terus mencoba.

Karena kali ini ia tidak berlatih untuk menang.

Ia berlatih agar tidak kembali menjadi seseorang yang hanya bisa menunggu diselamatkan.

***

Jauh di balik pepohonan—

Elyon masih berada di sana.

Ia tidak mengganggunya.

Tatapannya mengikuti setiap gerakan Fiona.

Ia melihat bagaimana gadis itu menggunakan Light Magic.

Bukan sekadar untuk menyerang.

Ia menggunakan cahaya untuk bertahan.

Untuk bergerak.

Untuk mencari celah.

Untuk memutuskan pengaruh sihir lain.

Elyon menyipitkan mata.

“Dia belajar dari kejadian itu.”

Ia memperhatikan ketika Fiona gagal.

Namun gadis itu hanya mengulanginya.

Sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Tidak menyerah.

Elyon terdiam.

Awalnya ia mengira Fiona hanya memiliki kemampuan Light Magic yang aneh.

Sekarang—

ia mulai melihat sesuatu yang lebih penting.

Fiona memiliki cara berpikir yang berbeda ketika menggunakan sihir.

Ia tidak berusaha mengalahkan lawannya.

Ia berusaha menemukan cara untuk **tetap hidup.**

Elyon kembali mengingat kejadian di hutan.

Cara Fiona terjebak.

Cara Darrien kehilangan kendali.

Dan sekarang—

cara Fiona mempersiapkan dirinya agar kejadian seperti itu tidak terulang.

“Menarik…”

Elyon bergumam.

Namun ia tidak mendekat.

Ia hanya terus mengamati.

***

Fiona akhirnya berhenti.

Napasnya sedikit berat.

Keringat membasahi dahinya.

Ia menatap kedua tangannya.

Cahaya kecil muncul sekali lagi.

Kemudian—

padam.

Fiona tersenyum.

“Setidaknya sekarang aku punya beberapa cara.”

Ia menatap tempat latihan di depannya.

Jika suatu hari nanti ia kembali dikelilingi musuh—

ia tidak ingin membeku karena takut.

Ia tidak ingin hanya memanggil Darrien.

Ia ingin bisa bergerak.

Melawan.

Melindungi dirinya sendiri.

Dan jika perlu—

melindungi orang yang ia cintai.

Fiona menarik napas.

Kemudian tersenyum kecil.

“Aku akan lebih siap lain kali.”

Di balik pepohonan—

Elyon mendengar kalimat itu.

Tatapannya menjadi lebih serius.

Gadis ini…

semakin sulit dipahami.

Dan sekali lagi—

pertanyaan yang sama muncul dalam pikirannya.

**Jika Fiona benar-benar manusia biasa…**

**mengapa Light Magic miliknya terasa begitu tua?**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience