420. Jejak Di Balik Pergunungan

Romance Completed 594

BAB 420 — JEJAK DI BALIK PEGUNUNGAN

VEYTH.

Pagi berikutnya—

istana Veyth telah dipenuhi kesibukan.

Setelah berhari-hari hanya memiliki sedikit petunjuk mengenai keberadaan Shadowcresent, akhirnya Darrien dan kelompoknya memiliki arah yang dapat diikuti.

Mereka tidak ingin membuang waktu.

Perbekalan dipersiapkan.

Peta dibawa.

Senjata dan perlengkapan magicure diperiksa kembali.

Edward berdiri di depan meja besar, memeriksa jalur yang telah ditandai pada peta.

Gloria berdiri di sampingnya.

Kevin memeriksa perlengkapannya untuk terakhir kali.

Sementara Darrien—

hanya berdiri di depan peta.

Tatapannya tertuju pada pegunungan yang berada jauh di utara.

Shadowcresent berada di balik wilayah tersebut.

Akhirnya—

mereka memiliki tempat untuk dituju.

Edward menatap semua orang.

“Kita berangkat sekarang.”

Tidak ada yang keberatan.

Darrien langsung mengangguk.

“Aku siap.”

Kevin menepuk bahunya.

“Jangan terlalu terburu-buru.”

Darrien meliriknya.

“Aku tahu.”

Kevin tersenyum kecil.

“Aku hanya mengingatkan.”

Darrien mendengus.

“Kau terdengar seperti ayahku.”

Edward yang mendengar dari belakang langsung berkata,

“Aku tidak keberatan.”

Darrien:

“…”

Kevin tertawa.

“Bagus.”

***

Beberapa waktu kemudian—

rombongan meninggalkan Veyth.

Perjalanan pertama berjalan dengan tenang.

Namun mereka tidak menggunakan jalur biasa.

Mereka ingin menghemat waktu sebanyak mungkin.

Setelah mencapai batas jarak teleportasi yang dapat mereka gunakan dengan aman—

Darrien dan yang lainnya berhenti.

Di hadapan mereka—

pegunungan menjulang tinggi.

Kabut tipis menggantung di antara lembah.

Hutan tua memenuhi lereng.

Darrien melihat ke depan.

“Mulai dari sini…”

Ia menghela napas.

“…kita berjalan.”

Edward mengangguk.

“Jangan gunakan terlalu banyak magicure.”

Elyon menatap peta.

“Wilayah di balik pegunungan ini belum banyak dipetakan.”

Elarion menambahkan,

“Jadi kita harus berhati-hati.”

Ace memandang gunung di hadapannya.

“Bagus.”

Ia mengangkat bahu.

“Jalan kaki.”

Rowan menatapnya.

“Kau tidak suka berjalan?”

“Aku tidak suka gunung.”

“Kenapa?”

Ace melihat ke atas.

“Karena gunung tidak punya lift.”

Rowan menatapnya datar.

“…”

Elyon menutup matanya.

“Jangan mulai.”

Ace tersenyum.

“Baik.”

Mereka mulai berjalan.

***

Beberapa kilometer dari sana—

Shadowcresent.

Sebuah perubahan magicure tiba-tiba terasa di wilayah perbatasan.

Salah satu penjaga vampire langsung mengangkat kepalanya.

“Ada sesuatu.”

Penjaga di sebelahnya menoleh.

“Apa?”

“Teleportasi.”

Ia memejamkan mata.

“Mereka baru saja menggunakan teleportasi.”

“Dari mana?”

Penjaga tersebut mencoba merasakan jejaknya.

“Dekat pegunungan.”

Beberapa penjaga saling berpandangan.

Kemudian—

salah satu dari mereka berlutut.

“Kita harus melaporkannya kepada Lord Mufasa.”

***

Tidak lama kemudian—

Mufasa tiba di wilayah tersebut.

Ia berdiri di atas salah satu cabang pohon tua.

Tatapannya mengarah jauh ke depan.

Ia dapat melihat beberapa sosok berjalan di antara pepohonan.

Mufasa mempersempit matanya.

“…”

Ia mengenali mereka.

Darrien.

Kevin.

Edward.

Gloria.

Dan kelompok yang lain.

Mufasa terdiam beberapa saat.

*Jadi mereka benar-benar menemukan jalan ke sini.*

Ia memperhatikan Darrien.

Pemuda itu berjalan paling depan.

Tatapannya tajam.

Jelas sedang mencari seseorang.

Mufasa kemudian melihat Kevin.

Ia masih dapat mengingat kekuatan Grandmaster tersebut.

Mufasa tidak turun.

Ia tetap bersembunyi di antara dedaunan.

Tidak perlu.

Belum.

Mereka belum memasuki pusat Shadowcresent.

Dan selama mereka belum tahu jalan yang sebenarnya—

mereka masih dapat dihentikan tanpa pertarungan.

Mufasa mengangkat satu tangan.

Salah satu penjaga muncul di dekatnya.

“Tuan Mufasa?”

“Jangan serang.”

Penjaga itu terkejut.

“Tidak menyerang?”

Mufasa menggeleng.

“Tidak.”

Ia menunjuk ke arah kelompok Veyth.

“Mereka akan memasuki wilayah kita.”

Penjaga itu melihat ke bawah.

“Apa yang harus kami lakukan?”

Mufasa menatap jalur pegunungan.

“Ubah jalurnya.”

Penjaga itu mengerutkan kening.

“Bagaimana?”

“Gunakan magicure untuk memindahkan penanda jalan.”

Mufasa menunjuk beberapa titik.

“Buat mereka mengikuti jalur timur.”

Penjaga itu memahami.

“Jalur timur…”

“Ya.”

Mufasa tersenyum tipis.

“Biarkan mereka berpikir mereka sedang menuju Shadowcresent.”

Ia melihat ke arah lain.

“Padahal jalur itu akan membawa mereka semakin jauh.”

Penjaga itu menundukkan kepala.

“Baik.”

Beberapa penjaga segera bergerak.

Mufasa masih berdiri di atas cabang pohon.

Tatapannya kembali kepada Darrien.

Pemuda itu tiba-tiba berhenti.

Mufasa membeku.

Darrien menoleh sedikit.

Seolah-olah—

ia merasakan sesuatu.

Mufasa langsung menahan auranya.

Beberapa detik kemudian—

Darrien kembali berjalan.

Mufasa menghela napas lega.

*Hampir saja.*

Ia kemudian mengeluarkan magicure komunikasi.

“Buka jalur komunikasi ke istana.”

Sebuah lingkaran kecil muncul di telapak tangannya.

Mufasa menatapnya.

“Yang Mulia.”

Suara Raizen terdengar dari sisi lain.

“Ada apa?”

Mufasa melihat kembali kelompok Veyth.

“Mereka telah tiba.”

Hening.

Raizen tidak langsung menjawab.

Mufasa melanjutkan,

“Darrien dan kelompoknya.”

Beberapa detik berlalu.

Kemudian suara Raizen terdengar lagi.

“Seberapa dekat?”

“Belum memasuki wilayah dalam.”

Mufasa berhenti.

“Mereka masih berada di pegunungan.”

Raizen terdiam.

Mufasa menunggu.

Akhirnya—

“Biarkan mereka datang.”

Mufasa mengangkat alis.

“Tuanku?”

“Jangan hentikan mereka.”

Suara Raizen tetap tenang.

“Biarkan mereka mengikuti jalur yang telah kau ubah.”

Mufasa menundukkan kepala.

“Baik.”

Komunikasi terputus.

Mufasa melihat ke arah kelompok Veyth.

Kemudian—

ia tersenyum tipis.

“Kalau begitu…”

Ia melompat turun dari cabang pohon.

“…mari kita lihat seberapa jauh mereka bisa berjalan.”

Di belakangnya—

para penjaga mulai memanipulasi jalur pegunungan.

Penanda-penanda kuno dipindahkan.

Jalur magicure diubah.

Dan tanpa menyadarinya—

Darrien dan kelompoknya mulai berjalan menuju jalan yang telah disiapkan Shadowcresent.

Sementara jauh di depan—

pegunungan semakin gelap.

Dan kerajaan vampire kuno itu—

perlahan menunggu kedatangan mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience