251. Persiapan Yang Belum Dimulai

Romance Series 382

BAB 251

Malam semakin dalam.

Namun Crystal Hall masih dipenuhi cahaya.

Kristal-kristal yang menghiasi dinding memancarkan cahaya lembut, membuat aula terlihat semakin indah setelah matahari benar-benar tenggelam.

Musik masih dimainkan.

Para tamu masih berbincang.

Dan—

Fiona kembali duduk di meja.

Di depannya—

makanan.

Darrien duduk di sampingnya.

Ia menatap piring Fiona.

Kemudian menatap Fiona.

Kemudian kembali menatap piring.

“Bukankah kau tadi sudah kenyang?”

Fiona mengambil satu potong makanan.

“Itu tadi.”

Darrien menghela napas.

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku lapar lagi.”

Ace langsung tertawa.

“Masuk akal.”

Rowan mengangguk.

“Jangan pernah mempertanyakan logika Fiona.”

Elarion duduk dengan tenang.

“Karena tidak ada jawabannya.”

Fiona menatapnya.

“Kalian terlalu banyak bicara.”

Ia kembali makan.

***

Darrien bersandar pada kursinya.

Pikirannya mulai kembali kepada pembicaraan sebelumnya.

Lunaris.

Mereka akan pergi ke Lunaris.

Bukan hanya dirinya.

Fiona juga.

Elarion.

Ace.

Rowan.

Mungkin—

perjalanan itu akan menjadi pengalaman yang menarik.

Namun kemudian sebuah pertanyaan muncul di pikirannya.

“Apa yang harus kubawa?”

Fiona berhenti makan.

“Apa?”

“Barang.”

Darrien mengerutkan kening.

“Kalau kita pergi ke Lunaris.”

Ace langsung menjawab,

“Bawa pakaian.”

Rowan mengangguk.

“Dan makanan.”

Fiona menoleh.

“Makanan?”

Ace menunjuknya.

“Untukmu.”

Fiona mengangguk puas.

“Bagus.”

Darrien tertawa.

“Aku serius.”

Elarion akhirnya berbicara.

“Tidak banyak yang perlu dipersiapkan.”

Darrien menoleh.

“Benarkah?”

“Lunaris bukan daerah terpencil.”

Elarion tersenyum.

“Dan kalian datang sebagai tamu kerajaan.”

Darrien mengangguk.

“Benar.”

Kemudian ia diam.

“Tapi…”

Elarion menatapnya.

“Apa?”

Darrien terlihat sedikit bingung.

“Aku belum pernah menjadi pangeran sebelumnya.”

Ace terdiam.

Rowan juga.

Fiona berhenti makan.

Elarion menatap Darrien beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Tidak ada seorang pun yang lahir langsung tahu bagaimana menjadi seorang pangeran.”

Darrien tersenyum tipis.

“Benar.”

Elarion mengangguk.

“Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri.”

Darrien menatapnya.

Kemudian tersenyum.

“Terima kasih.”

***

Di sisi lain meja—

Fiona memperhatikan Darrien.

“Kau gugup?”

Darrien menggeleng.

“Tidak.”

Fiona menyipitkan mata.

“Benarkah?”

“Ya.”

“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?”

Darrien menyentuh wajahnya.

“Seperti apa?”

Fiona menahan tawa.

“Seperti sedang memikirkan ujian.”

Ace langsung tertawa.

Rowan ikut.

Darrien menatap mereka.

“Aku hanya berpikir.”

Fiona tersenyum.

“Jangan terlalu banyak berpikir.”

Darrien mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena kalau terlalu banyak berpikir…”

Fiona mengambil makanan lagi.

“…kau bisa kehilangan waktu makan.”

Darrien tertawa.

“Baiklah.”

***

Tidak jauh dari mereka—

King Edward dan Queen Gloria memperhatikan putra mereka.

Gloria tersenyum.

“Dia terlihat jauh lebih santai sekarang.”

Edward mengangguk.

“Ya.”

Mereka kemudian melihat Fiona.

Edward tersenyum kecil.

“Aku rasa kehadirannya membuat Darrien lebih mudah beradaptasi.”

Gloria mengangguk.

“Mungkin.”

Kemudian ia tertawa kecil.

“Atau mungkin karena Fiona terus membuatnya sibuk.”

Edward ikut tertawa.

“Bisa jadi.”

***

Di sisi Lunaris—

King Zeith dan Queen Seraphine juga masih belum meninggalkan pesta.

Seraphine melihat ke arah Fiona.

“Dia menarik.”

Zeith mengangguk.

“Benar.”

“Tidak seperti yang kubayangkan.”

Zeith tersenyum.

“Aku juga.”

Seraphine kemudian menoleh kepada Elyon.

“Bagaimana menurutmu?”

Elyon berdiri tidak jauh dari mereka.

Ia mengangkat pandangan.

“Fiona?”

Seraphine mengangguk.

“Ya.”

Elyon terdiam sejenak.

Kemudian menjawab,

“Dia tidak berubah.”

Seraphine mengangkat alis.

“Tidak berubah?”

Elyon menyadari ucapannya.

Ia tersenyum tipis.

“Maksudku…”

Ia melihat ke arah Fiona.

“Dia masih memiliki sifat yang sama seperti yang kulihat selama perjalanan.”

Zeith memperhatikan Elyon.

Namun tidak mengatakan apa-apa.

Seraphine juga hanya tersenyum.

***

Tiba-tiba—

Fiona bersin.

“Ach—!”

Darrien menoleh.

“Kau baik-baik saja?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Ace tertawa.

“Mungkin ada yang membicarakanmu.”

Fiona mengerutkan kening.

“Siapa?”

Ace melihat ke seluruh aula.

“Entahlah.”

Fiona kembali makan.

“Kalau begitu biarkan.”

Darrien tersenyum.

***

Malam terus berjalan.

Satu demi satu tamu mulai menikmati pesta tanpa terburu-buru.

Tidak ada pertarungan.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada kekacauan.

Hanya perayaan.

Namun bagi beberapa orang—

malam itu merupakan awal dari perjalanan baru.

Darrien akan segera mengunjungi Lunaris.

Fiona akan menjadi tamu kerajaan.

Elarion akan kembali ke tempat yang mungkin memiliki banyak jawaban tentang masa lalu.

Dan Elyon—

akan menunggu mereka di sana.

Sementara itu—

Fiona masih makan.

Darrien menatapnya.

“Berapa banyak lagi?”

Fiona menghitung sebentar.

“…Dua.”

Darrien tersenyum.

“Baik.”

Fiona kemudian menambahkan,

“Mungkin tiga.”

Darrien tertawa.

“Aku tahu.”

Di bawah cahaya Crystal Hall—

untuk malam ini,

mereka hanya menikmati pesta.

Tanpa menyadari bahwa perjalanan menuju Lunaris—

mungkin akan mengubah jauh lebih banyak hal daripada yang mereka bayangkan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience