343. Sejarah Yang Akan Ditulis Lagi

Romance Completed 594

BAB 343 — SEJARAH YANG AKAN DITULIS KEMBALI

Ruang diskusi masih terasa tenang.

Fiona tetap berdiri di dekat jendela.

Tatapannya mengarah ke luar—

ke halaman Istana Lunaris yang terkena cahaya matahari.

Ia tidak ikut duduk bersama yang lainnya.

Bukan karena ingin menjaga jarak.

Ia hanya merasa lebih nyaman berdiri di sana.

Mendengarkan.

Elyon perlahan membuka salah satu dokumen yang berada di atas meja.

“Kalau begitu…”

Ia melihat Zeith dan Seraphine.

“Menurutku, kita harus mengambil keputusan.”

Zeith mengangguk.

“Lanjutkan.”

Elyon meletakkan dokumen itu di atas meja.

“Sejarah Light Elf dan Dark Elf tidak bisa dibiarkan tetap seperti sekarang.”

Seraphine mengangguk perlahan.

“Kita tidak bisa terus mengajarkan sejarah yang tidak lengkap kepada generasi berikutnya.”

Edward juga setuju.

“Terutama jika sebagian besar sejarah itu sengaja dihapus.”

Gloria menatap Fiona.

Kemudian berkata,

“Anak-anak mereka berhak mengetahui kebenaran.”

Fiona yang berdiri di dekat jendela tidak mengatakan apa-apa.

Namun matanya sedikit berubah.

Ia mendengar setiap kata.

Elyon melanjutkan,

“Kita tidak harus langsung membuka seluruh sejarah kepada semua orang.”

Ia menunjuk dokumen.

“Namun kita bisa mulai dengan mengembalikan catatan yang telah dihapus.”

Zeith mengangguk.

“Secara bertahap.”

“Ya.”

Elyon mengangguk.

“Kita perlu memastikan bahwa apa yang kita tulis adalah fakta.”

“Bukan cerita yang telah berubah karena kebencian.”

Seraphine menatap Fiona.

“Dan mungkin…”

Ia tersenyum kecil.

“…kita membutuhkan bantuan orang yang benar-benar hidup pada masa itu.”

Semua mata langsung mengarah kepada Fiona.

Fiona berkedip.

“Kenapa semuanya melihatku?”

Zeith tertawa kecil.

“Karena kau adalah salah satu saksi terakhir dari era itu.”

Fiona menghela napas.

“Aku tahu.”

Ia kembali melihat ke luar jendela.

“Baiklah.”

“Aku akan membantu.”

Elyon tersenyum.

“Kalau begitu, kita akan mulai menyusun kembali sejarah.”

***

Untuk beberapa saat—

semuanya terasa tenang.

Namun tiba-tiba—

Fiona sedikit mengerutkan kening.

Ia merasakan sesuatu.

Jauh.

Sangat jauh.

Energi Darrien.

Dan—

energi Kevin.

Fiona memejamkan mata sebentar.

Kemudian terdengar suara samar dari arah halaman latihan.

**BOOM!**

Fiona:

“….”

Ia tidak perlu melihat.

Ia tahu.

Darrien baru saja jatuh lagi.

Fiona menghela napas panjang.

“Dia masih berlatih…”

Elyon menoleh.

“Apa?”

Fiona langsung menggeleng.

“Tidak ada.”

Namun beberapa detik kemudian—

**BOOM!**

Fiona kembali menghela napas.

“…”

Edward memperhatikan ekspresinya.

“Kau bisa merasakan Darrien?”

Fiona terdiam.

“…Ya.”

Gloria tersenyum kecil.

“Dan Kevin masih melatihnya?”

Fiona mengangguk.

“Sepertinya.”

Ia menatap ke arah jendela.

Kemudian bergumam,

“Kasihan.”

Zeith tertawa kecil.

“Sepertinya kau khawatir.”

Fiona langsung menjawab,

“Aku tidak khawatir.”

Seraphine mengangkat alis.

“Benarkah?”

Fiona diam.

Kemudian menambahkan,

“…sedikit.”

***

Fiona bisa merasakan setiap perubahan energi Darrien.

Setiap kali ia bergerak.

Setiap kali ia berhenti.

Setiap kali tubuhnya menerima benturan.

Dan setiap kali Kevin memaksanya bangkit lagi.

Fiona bahkan bisa membayangkan wajah Darrien sekarang.

Serius.

Keras kepala.

Dan mungkin—

masih meminta Kevin mengulanginya.

Fiona menghela napas.

“Dia memang tidak akan menyerah.”

Namun kemudian—

ia menyadari sesuatu.

Jika Darrien datang ke sini sekarang…

apa yang harus ia lakukan?

Menatapnya?

Tersenyum?

Berbicara seperti biasa?

Atau—

memeluknya lagi?

Wajah Fiona perlahan memerah.

“…”

Tidak.

Jangan memikirkan itu.

Ia langsung kembali melihat keluar jendela.

“Aku sebaiknya tetap di sini.”

Elyon memperhatikannya.

“Kenapa?”

Fiona menjawab cepat,

“Aku masih ingin mendengar pembicaraan kalian.”

Elyon tersenyum kecil.

Namun Seraphine sepertinya memahami alasan sebenarnya.

Ia hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun.

Fiona menghela napas lagi.

Di satu sisi—

ia ingin bertemu Darrien.

Sangat ingin.

Namun di sisi lain—

setiap kali membayangkan harus berdiri di depannya setelah kejadian kemarin…

hatinya kembali berdebar.

Ia tidak tahu harus menjadi siapa di hadapan Darrien.

Saintess?

Fiona?

Istri dari kehidupan masa lalu?

Atau hanya—

wanita yang sekarang dicintainya?

Fiona menundukkan kepala.

“Mungkin…”

Ia berbisik sangat pelan.

“…aku hanya membutuhkan sedikit waktu.”

***

Di area latihan—

**BOOM!**

Darrien kembali terjatuh.

Kevin berdiri di hadapannya.

“Bangun.”

Darrien menarik napas.

“Baik.”

Ia kembali berdiri.

Kevin memperhatikannya.

“Kau sudah lebih cepat.”

Darrien mengangguk.

“Tapi belum cukup.”

Kevin tersenyum.

“Benar.”

Darrien kembali mengambil posisi.

“Lagi.”

Kevin menghela napas.

“Baik.”

Dan jauh di dalam istana—

Fiona merasakan energi mereka kembali bergerak.

Ia menutup mata.

“Darrien…”

Untuk sesaat—

senyum kecil muncul di wajahnya.

Kemudian ia segera menghilangkannya.

“Belum.”

“Belum sekarang.”

Ia masih belum tahu bagaimana harus berdiri di hadapan lelaki itu.

Namun setidaknya—

untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun,

Fiona tidak lagi takut kehilangan Darrien.

Ia hanya takut—

menghadapinya setelah menyadari bahwa perasaannya ternyata masih sama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience