Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 371 — KEMBALI KE RUMAH
Suasana di pusat teleportasi Veyth perlahan kembali tenang setelah cahaya Silver Leaf menghilang.
Rombongan akhirnya benar-benar kembali.
Setelah beberapa hari berada di Lunaris—
udara Veyth terasa berbeda.
Lebih familiar.
Lebih dekat.
Dan bagi Darrien—
entah kenapa, sedikit lebih berat.
Ia berdiri diam beberapa saat.
Fiona memperhatikannya.
“Kau baik-baik saja?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
Namun tatapannya masih mengarah ke pusat teleportasi.
Potongan mimpi kembali melintas di pikirannya.
Danau.
Pohon besar.
Grandmaster Darrien.
Fiona.
Penghalang.
Dan sosok Lucas.
Darrien menghela napas kecil.
Ia belum tahu apa arti semuanya.
Dan untuk sekarang—
ia memilih tidak membicarakannya.
***
Gloria kemudian menepuk tangan.
“Baiklah.”
Semua menoleh.
“Daripada berdiri di sini, bagaimana kalau kita kembali ke istana?”
Ace langsung mengangguk.
“Setuju.”
Rowan mengangkat tangan.
“Aku juga.”
Elarion tersenyum.
“Perjalanan pulang akhirnya selesai.”
Elyon melihat sekeliling.
“Sepertinya aku harus mencari tempat untuk meletakkan barang-barangku.”
Edward tertawa.
“Kau masih mendapatkan liburanmu.”
Elyon mengangguk.
“Aku akan menikmatinya.”
Ace menatapnya.
“Enak sekali.”
Elyon menoleh.
“Kau juga tidak sedang bekerja.”
Ace berpikir.
“…Benar.”
Rowan menepuk bahunya.
“Jangan cari masalah.”
Ace mengangguk.
“Aku tidak mencari masalah.”
Rowan menatapnya.
“Masalah biasanya yang mencari kita.”
Ace:
“…Itu juga benar.”
***
Mereka kemudian meninggalkan pusat teleportasi.
Perjalanan menuju kediaman kerajaan berlangsung santai.
Tidak ada yang terburu-buru.
Edward dan Gloria berjalan di depan.
Darrien dan Fiona berada di tengah rombongan.
Ace dan Rowan berjalan sambil membicarakan rencana mereka setelah kembali.
Elarion dan Elyon berbicara mengenai beberapa hal ringan.
Tidak ada pembicaraan serius.
Hari itu—
mereka hanya ingin kembali ke rutinitas.
***
Ketika akhirnya sampai—
masing-masing mulai berpencar.
Edward dan Gloria menuju ruang kerajaan.
Elyon memilih pergi ke tempatnya sendiri.
Elarion juga meninggalkan rombongan setelah berpamitan.
Ace dan Rowan bahkan sudah mulai membicarakan makanan.
“Setelah tiga hari makan di luar…”
Ace menghela napas.
“…aku ingin makan sesuatu yang normal.”
Rowan mengangguk.
“Setuju.”
Darrien menatap mereka.
“Kalian tidak baru saja makan?”
Ace menggeleng.
“Itu makanan perjalanan.”
Rowan mengangguk serius.
“Kami butuh makanan setelah perjalanan.”
Darrien menatap mereka beberapa detik.
“…Aku menyerah.”
***
Akhirnya—
Darrien dan Fiona berjalan berdua.
Lorong Veyth terasa familiar.
Fiona berjalan sedikit di depan.
Darrien mengikutinya.
Namun setelah beberapa langkah—
Fiona berhenti.
Ia menoleh.
“Kau masih memikirkan mimpi itu?”
Darrien terdiam.
Fiona tidak memaksanya menjawab.
Ia hanya menunggu.
Darrien akhirnya mengangguk.
“Sedikit.”
“Yang tentang Grandmaster?”
“Ya.”
Fiona menatapnya.
“Apa yang kau lihat?”
Darrien ingin menjawab.
Namun ia berhenti.
Ia teringat Lucas.
Ia belum yakin apakah sebaiknya membicarakan bagian itu.
Akhirnya—
“Belum banyak.”
Fiona memperhatikan wajahnya.
Kemudian mengangguk.
“Kalau begitu jangan dipaksakan.”
Darrien menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena ingatan yang dipaksa…”
Fiona tersenyum kecil.
“…bisa membawa hal yang tidak kita inginkan.”
Darrien terdiam.
Kalimat itu terasa masuk akal.
Ia kemudian mengangguk.
“Baik.”
Fiona melanjutkan perjalanan.
Darrien mengikutinya.
Namun sebelum mereka berpisah menuju kamar masing-masing—
Fiona menoleh lagi.
“Dan Darrien?”
“Ya?”
“Jangan terlalu memikirkan masa lalu sampai lupa hidup di masa sekarang.”
Darrien tersenyum.
“Aku tidak akan.”
Fiona membalas senyumnya.
Kemudian mereka berjalan bersama.
***
Malam itu—
Veyth kembali tenang.
Setelah beberapa hari penuh perjalanan dan kejadian di Lunaris—
semua akhirnya mendapatkan waktu untuk beristirahat.
Namun di dalam pikiran Darrien—
satu pertanyaan masih tertinggal.
Bukan mengenai kekuatannya.
Bukan mengenai mimpinya.
Melainkan mengenai seorang pria yang berdiri di balik bayangan masa lalu.
Lucas.
Darrien tidak tahu siapa dia.
Tidak tahu apa yang ia inginkan.
Dan tidak tahu apakah sosok itu benar-benar penting bagi masa lalu mereka.
Untuk sekarang—
Darrien hanya menyimpannya di dalam pikirannya.
Karena ia tahu satu hal.
Mimpi berikutnya mungkin akan memberikan jawaban lain.
Dan ia akan menunggu.
Tanpa memaksanya datang.
