Series
94
BAB 16
LANGKAH PERTAMA
Pagi berikutnya, halaman rumah Elarion berubah menjadi tempat latihan.
Dua tongkat kayu diletakkan di atas tanah.
Darrien berdiri di satu sisi.
Fiona di sisi lainnya.
Elarion berdiri di depan mereka dengan tangan bersilang.
“Pertama, berdiri dengan benar.”
Darrien memperbaiki posisinya.
Fiona mencoba meniru.
“Jangan hanya mengikuti Darrien,” kata Elarion kepada Fiona.
Fiona menoleh.
“Kenapa?”
“Karena tubuh kalian berbeda.”
Fiona berkedip.
Darrien hampir tersenyum.
Elarion mengambil tongkat kayu.
“Darrien, kau lebih kuat dan lebih tinggi. Kau bisa mengandalkan pertahanan dan kekuatan.”
Kemudian ia menatap Fiona.
“Kau lebih ringan. Jangan mencoba bertarung seperti dia.”
Fiona mengangguk.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Gunakan kecepatan.”
Elarion melangkah mundur.
“Sekarang, serang aku.”
Darrien menatapnya.
“Serius?”
“Ya.”
Darrien menggenggam tongkatnya.
Ia maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian mengayunkan tongkat ke arah bahu Elarion.
Elarion menghindar dengan mudah.
Darrien kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.
Fiona menahan tawa.
Darrien menoleh.
“Jangan tertawa.”
Fiona langsung menutup mulut.
Elarion tersenyum.
“Sekali lagi.”
Darrien mencoba lagi.
Kali ini lebih cepat.
Namun Elarion tetap menghindar.
Setelah beberapa percobaan, Darrien akhirnya berhenti dengan napas terengah.
“Aku tidak bisa menyentuhmu.”
“Memang.”
Elarion menyerahkan tongkatnya.
“Karena kau menyerang dengan marah.”
Darrien mengerutkan kening.
“Marah?”
“Setiap kali kau menyerang, kau hanya memikirkan satu hal.”
“Apa?”
“Menang.”
Darrien terdiam.
Elarion menunjuk dadanya.
“Kalau pikiranmu hanya tertuju pada menang, kau tidak memperhatikan lawan.”
Darrien menunduk.
Ia memahami maksudnya.
“Sekarang Fiona.”
Fiona maju dengan ragu.
Ia mengangkat tongkat.
Elarion menunggu.
Fiona bergerak.
Cepat.
Namun terlalu dekat.
Elarion memiringkan tubuh dan menyentuh bahunya dengan ujung tongkat.
“Kalah.”
Fiona menghela napas.
“Cepat sekali.”
“Karena kau terlalu mudah ditebak.”
Fiona mengerutkan wajah.
“Jadi aku juga buruk.”
“Tidak.”
Elarion tersenyum.
“Kau hanya belum tahu cara menggunakan kelebihanmu.”
Fiona memandangnya.
“Kelebihanku?”
“Tubuhmu ringan. Gerakanmu cepat. Kau juga lebih mudah menghindar daripada Darrien.”
Fiona tersenyum kecil.
Elarion kemudian berdiri di antara mereka.
“Sekarang kalian berdua.”
Darrien dan Fiona saling menatap.
“Melawanmu?” tanya Darrien.
“Tidak.”
Elarion menunjuk satu sama lain.
“Kalian.”
Fiona langsung terlihat gugup.
“Darrien?”
“Jangan takut.”
Mereka mengambil posisi.
Darrien bergerak lebih dulu.
Fiona menghindar ke samping.
Kali ini gerakannya lebih cepat.
Darrien mencoba mengikuti.
Fiona memutar tubuh dan menyentuh lengannya dengan tongkat.
Elarion mengangguk.
“Bagus.”
Darrien menatap Fiona dengan sedikit terkejut.
Fiona tersenyum bangga.
“Aku berhasil.”
“Sekali.”
“Darrien!”
Ia tertawa kecil.
Latihan berlanjut hingga matahari semakin tinggi.
Mereka jatuh berkali-kali.
Tangan mereka memerah.
Kaki mereka pegal.
Namun mereka tidak menyerah.
Saat sore tiba, keduanya duduk di bawah pohon sambil mengatur napas.
Elarion datang membawa dua botol kecil.
“Minum.”
Fiona menerima botolnya.
“Ramuan?”
“Bukan. Air.”
Fiona tertawa.
Darrien juga tersenyum kecil.
Elarion memandang mereka.
“Latihan kalian baru dimulai.”
Darrien menatap tongkat di tangannya.
“Aku akan menjadi lebih kuat.”
Elarion mengangguk.
“Untuk apa?”
Darrien menoleh kepada Fiona.
“Untuk melindunginya.”
Elarion diam sebentar.
Kemudian ia berkata,
“Kalau begitu, ingat satu hal.”
Darrien menatapnya.
“Orang yang ingin melindungi seseorang tidak hanya harus kuat.”
Ia menunjuk kepala Darrien.
“Ia juga harus bisa berpikir.”
Kemudian menunjuk dadanya.
“Dan tahu kapan harus bertarung…”
Tatapannya menjadi serius.
“…dan kapan harus melarikan diri.”
Darrien mengangguk.
Ia menyimpan kata-kata itu dalam pikirannya.
Fiona tersenyum di sampingnya.
Mereka belum tahu berapa lama mereka akan tinggal bersama Elarion.
Namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Akasia, mereka mulai merasa bahwa mereka mungkin benar-benar bisa bertahan di dunia luar.
Share this novel