37. Berita Dari Hutan

Romance Series 94

BAB 37
BERITA DARI HUTAN

Malam itu, sosok asing tersebut tidak pergi terlalu jauh.

Ia berdiri di antara pepohonan, cukup jauh dari rumah Elarion untuk tidak terlihat jelas, namun cukup dekat untuk mengawasi.

Cahaya bulan menyentuh sebagian wajahnya.

Seorang pria berambut gelap dengan pakaian sederhana berdiri dalam keheningan.

Di tangannya terdapat sebuah kristal kecil berwarna hitam.

Ia menempelkan dua jarinya pada permukaan kristal itu.

Cahaya tipis muncul.

“Yang Mulia…”

Suaranya rendah.

“Aku menemukan jejak yang mungkin berkaitan dengan Pangeran yang hilang.”

Kristal itu berkilau sebentar.

Ia melanjutkan.

“Namun aku belum dapat memastikan.”

Pria itu menoleh ke arah rumah kecil di kejauhan.

“Anak laki-laki itu memiliki aura yang sangat mirip dengan darah kerajaan.”

Ia berhenti.

“Namun kekuatannya masih terlalu samar.”

Cahaya kristal kembali berdenyut.

“Aku akan tetap berada di sekitar wilayah ini.”

“Jika dia benar-benar Pangeran…”

Ia menatap rumah tersebut.

“…aku akan mengirimkan kepastian sebelum siapa pun datang menjemputnya.”

Cahaya pada kristal perlahan padam.

Pria itu memasukkan kristal kembali ke dalam pakaiannya.

Ia tidak langsung pergi.

Malam itu, ia hanya berdiri di kejauhan.

Mengawasi.

***

Pagi berikutnya, Darrien dan Fiona kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Mereka berlatih di halaman.

Elarion mengawasi dari dekat.

Namun Darrien beberapa kali menoleh ke arah hutan.

“Kau melihat sesuatu?” tanya Fiona.

“Tidak.”

“Tapi kau terus melihat ke sana.”

Darrien mengerutkan kening.

“Aku merasa ada seseorang.”

Elarion yang sedang memeriksa ramuan langsung menoleh.

“Jangan mengejar.”

Darrien mengangguk.

Ia tidak tahu siapa orang itu.

Namun ia bisa merasakan hawa asing yang sama seperti malam sebelumnya.

Sementara itu, jauh di balik pepohonan—

pria tersebut memperhatikan mereka.

Ia melihat bagaimana Darrien berdiri.

Cara anak itu memegang pedang.

Cara ia memandang Fiona.

Dan terutama…

cara hawa dingin yang sangat samar muncul ketika emosinya berubah.

Pria itu menyipitkan mata.

“Tidak mungkin…”

Ia pernah melihat aura seperti itu sebelumnya.

Bukan dari sembarang Dark Elf.

Melainkan dari garis darah kerajaan.

Namun ia masih membutuhkan bukti.

Ia tidak boleh salah.

Tidak setelah bertahun-tahun keluarga kerajaan menunggu kabar tentang pewaris yang hilang.

***

Beberapa hari kemudian, pria itu mencoba mendekat.

Tidak terlalu dekat.

Ia sengaja memilih jalur yang biasa dilewati Darrien dan Fiona.

Ketika keduanya sedang berjalan pulang dari sungai, pria itu muncul di kejauhan.

Darrien langsung berhenti.

“Kau.”

Pria itu juga berhenti.

Fiona berdiri di samping Darrien.

“Kau orang yang malam itu.”

Pria tersebut mengangguk.

“Aku tidak datang untuk menyakiti kalian.”

“Lalu kenapa terus mengikuti kami?”

Pria itu terdiam.

Ia tidak bisa mengatakan kebenaran.

Belum.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

“Apa?”

Tatapan pria itu jatuh pada Darrien.

“Bahwa seseorang yang kucari masih hidup.”

Darrien mengerutkan kening.

“Siapa?”

Pria itu tidak menjawab.

Ia justru berkata,

“Apakah kau pernah merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu?”

Darrien terdiam.

Fiona langsung memperhatikan wajahnya.

Pria itu melihat perubahan kecil pada ekspresi Darrien.

Ia sudah mendapatkan jawabannya.

Namun ia belum cukup yakin.

“Maaf,” katanya kemudian.

“Aku belum bisa menjelaskan lebih banyak.”

Darrien melangkah maju.

“Tunggu.”

Namun pria itu sudah mundur.

“Aku akan kembali.”

Kemudian ia menghilang di antara pepohonan.

Fiona menatap tempat kosong itu.

“Dia aneh.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Menurutmu dia siapa?”

Darrien menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Namun jauh di dalam hutan, pria itu tersenyum tipis.

Kini ia semakin yakin.

Anak itu memiliki sesuatu yang tidak mungkin dimiliki manusia biasa.

Dan malam itu, ia kembali mengaktifkan kristal hitamnya.

“Yang Mulia…”

Kali ini suaranya terdengar jauh lebih pasti.

“Aku menemukan seorang anak laki-laki.”

“Usianya sesuai.”

“Auranya cocok.”

“Dan kekuatannya…”

Ia menatap tangannya sendiri.

“…memiliki jejak darah kerajaan.”

Pria itu menarik napas.

“Namun aku masih membutuhkan satu kepastian terakhir.”

Cahaya kristal berdenyut.

“Aku akan terus mengawasinya.”

“Jangan kirim siapa pun dulu.”

“Jika dia benar-benar Pangeran…”

Ia menatap rumah Elarion dari kejauhan.

“…kita akhirnya menemukan pewaris yang selama ini hilang.”

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience