12. Jejak Di Balik Pepohonan

Romance Series 94

BAB 12
JEJAK DI BALIK PEPOHONAN

Pagi telah berubah menjadi siang ketika Darrien dan Fiona terus mengikuti jalan menuju kota yang terlihat di kejauhan.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Akasia, mereka tidak lagi berlari.

Mereka berjalan perlahan.

Fiona sesekali menoleh ke ladang dan pepohonan di sekitar mereka dengan rasa kagum.

“Darrien…”

“Hm?”

“Dunia ternyata sebesar ini.”

Darrien tersenyum kecil.

“Ya.”

“Selama ini aku pikir Akasia adalah tempat terbesar di dunia.”

“Dulu aku juga.”

Fiona tertawa kecil.

Mereka berhenti di dekat sebuah aliran sungai kecil untuk beristirahat. Darrien mengambil air untuk mereka, sementara Fiona duduk di bawah pohon sambil memandangi daun perak yang selama ini ia simpan.

Daun itu masih berkilau seperti saat pertama kali ditemukan.

Fiona menyentuh permukaannya.

“Menurutmu, apakah kita akan menemukan tempat yang indah seperti ini?”

Darrien duduk di sampingnya.

“Mungkin.”

“Dan rumah?”

Darrien menatapnya.

“Kalau kita tidak menemukan rumah…”

Ia tersenyum tipis.

“Kita buat sendiri.”

Fiona tersenyum.

“Kalau begitu, aku mau rumah yang punya taman.”

“Kenapa?”

“Aku ingin menanam banyak bunga.”

Darrien mengingat bunga kecil yang pernah Fiona hidupkan bertahun-tahun lalu.

Ia tersenyum.

“Baik.”

“Dan pohon akasia.”

Darrien mengangguk.

“Kalau kau mau, kita tanam satu.”

Fiona bersandar di bahunya.

“Janji?”

“Janji.”

Untuk beberapa saat, dunia terasa damai.

Tidak ada Maria.

Tidak ada panti asuhan.

Tidak ada orang yang mengejar mereka.

Hanya suara air sungai dan angin yang melewati pepohonan.

Namun kemudian—

Krek.

Darrien membuka mata.

Ia langsung mengangkat kepala.

Fiona ikut menoleh.

“Apa itu?”

Darrien tidak menjawab.

Ia berdiri perlahan dan mengamati pepohonan di sekitar mereka.

Tidak ada siapa pun.

Hanya dedaunan yang bergerak.

Fiona berdiri di belakangnya.

“Darrien?”

“Diam sebentar.”

Mereka menunggu.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian terdengar suara lain.

Krek.

Kali ini lebih dekat.

Darrien langsung meraih tangan Fiona.

“Jangan bergerak.”

Fiona menelan ludah.

“Apakah mereka menemukan kita?”

“Aku tidak tahu.”

Darrien memandang ke arah pepohonan.

Sesuatu bergerak di balik semak.

Satu langkah.

Kemudian langkah kedua.

Tap.

Tap.

Suara itu semakin dekat.

Darrien berdiri di depan Fiona.

Tangannya mengepal.

Hawa dingin yang samar mulai muncul di sekitar tubuhnya tanpa ia sadari.

Bayangan di balik pepohonan berhenti.

Hening.

Kemudian sebuah suara terdengar.

“Siapa kalian?”

Darrien tidak menjawab.

Sosok itu akhirnya melangkah keluar dari balik pepohonan.

Seorang pria asing berdiri beberapa meter dari mereka. Pakaiannya sederhana, tetapi ada sesuatu pada tatapannya yang membuat Darrien tetap waspada.

Pria itu tidak langsung mendekat.

Ia justru memandang Darrien beberapa saat.

Keningnya sedikit berkerut.

“Menarik…”

Darrien mempersempit mata.

“Apa?”

Pria itu tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Tatapannya masih tertuju pada Darrien.

“Kenapa tubuhmu terasa dingin?”

Darrien terdiam.

Fiona ikut menatapnya dengan bingung.

“Aku tidak merasa dingin.”

Pria itu menggeleng perlahan.

“Bukan udara.”

Ia menatap Darrien lebih dalam.

“Seperti ada sesuatu yang sangat samar di dalam dirimu.”

Darrien tanpa sadar menggenggam tangan Fiona lebih erat.

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”

Pria itu memperhatikannya sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Kalau begitu, mungkin aku hanya salah merasakan.”

Ia mengalihkan pandangan kepada Fiona.

Kemudian kembali kepada Darrien.

“Kalian berasal dari mana?”

Darrien masih tidak menjawab.

Ia tidak mengenal pria itu.

Dan setelah apa yang terjadi di Akasia, ia tidak berniat mempercayai orang asing begitu saja.

Pria itu tampaknya memahami kewaspadaannya.

“Tenang. Aku tidak berniat menyakiti kalian.”

Darrien tetap berdiri di depan Fiona.

Namun jauh di dalam dirinya, hawa dingin itu kembali bergerak samar.

Dan untuk pertama kalinya, seseorang dari luar Akasia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa di dalam diri Darrien.

Sesuatu yang bahkan Darrien sendiri belum mampu pahami.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience