Series
382
BAB 291 — TERJEBAK DI DALAM SANGKAR
Pertempuran terus berlangsung di sekitar mereka.
Suara benturan senjata.
Ledakan sihir.
Deru angin yang tercipta dari setiap serangan.
Namun di tengah kekacauan itu—
Elyon masih berusaha membebaskan Fiona dari kandang sihir.
Elyon berjongkok di depan salah satu sisi kandang.
Jarinya menyentuh simbol yang terukir pada batang besi.
“Jangan sentuh bagian ini.”
Fiona mengangguk.
“Kenapa?”
“Energinya akan memantul.”
“Dan?”
“Bisa mengenai kita.”
Fiona langsung menarik tangannya.
“Oh.”
Elyon menahan senyum.
“Jadi ikuti saja instruksiku.”
“Baik.”
Ia kembali memeriksa pola sihir.
Kandang itu ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat.
Beberapa lapisan sihir saling bertumpuk.
Satu berfungsi sebagai penghalang.
Satu mengunci ruang.
Dan lapisan lainnya terus menyerap energi yang mencoba menghancurkannya.
Elyon mengerutkan kening.
“Pantas saja.”
Fiona melihatnya.
“Sulit?”
“Cukup.”
“Bisa dibuka?”
Elyon terdiam sejenak.
“Bisa.”
Mata Fiona langsung berbinar.
“Benarkah?”
“Kalau kita menemukan inti pengendalinya.”
Fiona langsung mendekat.
“Di mana?”
Elyon menunjuk salah satu simbol.
“Seharusnya berada di salah satu titik ini.”
Fiona melihatnya.
“Yang mana?”
“Belum tahu.”
Fiona berkedip.
“…”
Elyon menatapnya.
“Aku sedang mencarinya.”
“Oh.”
***
Sebuah ledakan besar terdengar dari kejauhan.
**BOOM!**
Tanah bergetar.
Fiona refleks berpegangan pada jeruji.
Elyon hampir kehilangan keseimbangan.
Mereka berdua menoleh.
Darrien dan Kaguya baru saja bertukar serangan keras.
Debu beterbangan.
Fiona langsung mencari Darrien dengan pandangan.
“Dia baik-baik saja?”
Elyon melihat ke arah pertarungan.
“Sepertinya.”
Fiona menghela napas lega.
“Kalau begitu kita lanjut.”
Elyon mengangguk.
“Fokus.”
***
Mereka kembali memeriksa kandang.
Elyon menemukan pola lain.
“Tunggu.”
Ia menyentuh sebuah simbol kecil.
Cahaya berdenyut.
Fiona memperhatikan.
“Itu?”
“Bukan inti.”
Elyon menggeleng.
“Tapi ini jalur energinya.”
Fiona tersenyum.
“Berarti kita semakin dekat.”
“Ya.”
Untuk pertama kalinya—
ada sedikit harapan.
Fiona mulai menyalurkan energi perlahan.
Tidak memaksakan kekuatannya.
Mengikuti arah yang ditunjukkan Elyon.
Cahaya tipis mengalir melalui permukaan jeruji.
Satu simbol menyala.
Kemudian simbol berikutnya.
Elyon memperhatikan dengan serius.
“Bagus.”
Fiona menahan napas.
“Terus?”
“Sedikit lagi.”
Fiona mengangguk.
***
Namun—
sebuah vampire tiba-tiba menerobos pertahanan.
“Jangan ganggu mereka!”
Kevin langsung menghadang.
**CLANG!**
Serangan itu berhenti.
Kevin mendorong lawannya mundur.
“Fokus pada pertarunganmu.”
Vampire tersebut mendesis.
Namun sebelum ia bisa mendekati kandang—
Ace sudah muncul dari samping.
“Dia bilang jangan ganggu.”
Satu serangan membuat vampire itu terpental.
Rowan segera memperkuat penghalang.
Elarion membantu dari belakang.
“Cepatlah.”
Elyon mengangguk.
“Kami hampir selesai.”
***
Fiona kembali berkonsentrasi.
Cahaya di jeruji semakin terang.
Satu simbol terakhir muncul.
Elyon langsung menunjuknya.
“Itu.”
Fiona menatap simbol tersebut.
“Intinya?”
“Ya.”
Fiona menarik napas.
“Kalau aku hancurkan?”
“Jangan.”
Fiona berhenti.
“Kenapa?”
“Karena jika salah—seluruh kandang akan memperkuat dirinya.”
Fiona mengerang kecil.
“Jadi?”
“Kita harus memutus alirannya.”
“Bagaimana?”
Elyon tersenyum tipis.
“Bersama.”
Fiona mengangguk.
Keduanya mulai bekerja.
Elyon mengarahkan jalur energi.
Fiona mengikutinya dengan sihirnya.
Perlahan—
perlahan—
cahaya pada kandang mulai melemah.
Satu garis sihir padam.
Kemudian satu lagi.
**KREK.**
Fiona membeku.
Ia menatap jeruji.
Sebuah retakan kecil muncul pada lapisan penghalang.
Matanya langsung membesar.
“Elyon…”
“Aku melihatnya.”
“Kita hampir berhasil!”
“Jangan berhenti.”
Fiona menggertakkan gigi.
Ia terus menyalurkan energinya.
Retakan itu semakin melebar.
**KREK… KREK…**
Untuk pertama kalinya—
sebuah celah kecil mulai terbuka.
Fiona bahkan bisa merasakan udara luar menyentuh tangannya.
Ia hampir bebas.
Namun Elyon tiba-tiba berkata,
“Jangan terburu-buru.”
Fiona menatapnya.
“Aku tahu.”
Keduanya kembali berkonsentrasi.
Namun kandang itu masih memancarkan energi yang sangat kuat.
Elyon menyipitkan mata.
“Masih terlalu kuat.”
Fiona terengah.
“Berapa lama lagi?”
“Aku tidak tahu.”
Ia kembali memeriksa pola.
“Tapi kita membutuhkan waktu.”
Fiona melihat celah kecil di depannya.
Sudah begitu dekat.
Namun belum cukup.
Ia mengepalkan tangan.
“Kalau begitu…”
Tatapannya berubah serius.
“…kita akan terus mencari.”
Di luar kandang—
pertempuran masih berlangsung.
Darrien masih bertarung.
Para vampire masih menyerang.
Dan Fiona serta Elyon—
masih terjebak.
Namun sekarang mereka telah menemukan sesuatu.
**Titik lemahnya.**
Mereka hanya perlu menemukan cara untuk membukanya sepenuhnya.
Dan untuk itu—
mereka membutuhkan sedikit lebih banyak waktu.
Share this novel