483. Menembus Jantung Pergunungan

Romance Completed 594

BAB 483 — MENEMBUS JANTUNG PEGUNUNGAN

BOOOOM!

Suara ledakan mengguncang seluruh ruang di antara pegunungan.

Dinding-dinding batu bergetar.

Debu berjatuhan dari atas.

Untuk beberapa detik, dunia di sekitar kumpulan Veyth terasa seperti kehilangan bentuknya.

Sebuah magical dimension yang sejak tadi mengurung mereka mulai retak.

Retakan cahaya muncul di udara.

Satu.

Dua.

Kemudian—

KRAAAK!

Dimensi itu pecah menjadi serpihan cahaya.

Darrien berdiri di tengahnya.

Kedua tangannya masih menggenggam sebuah rune stone yang sebelumnya menjadi salah satu pusat perangkap.

Magicure mengalir dari sela-sela jarinya.

Perlahan...

rune stone itu kehilangan cahayanya.

Energi yang tersimpan di dalamnya larut seperti kabut tipis.

Mengalir melewati jari Darrien.

Kemudian menghilang ke udara.

Darrien membuka telapak tangannya.

Rune stone itu telah retak.

Lalu—

*crack.*

Pecah menjadi beberapa bagian kecil.

Darrien menjatuhkannya.

"Sudah."

Ia menarik napas panjang.

Di belakangnya—

Ace langsung menjatuhkan dirinya ke tanah.

"Ugh..."

Ia duduk sambil menopang tubuh dengan kedua tangan.

Napasnya hampir habis.

"Aku..."

Ia menarik napas.

"...tadi..."

Tarik napas lagi.

"...hampir..."

Ace memegang dadanya.

"...mati."

Rowan duduk di sebelahnya.

Kondisinya jauh lebih baik.

Namun napasnya juga masih berat.

Ia perlahan mengatur pernapasannya.

Tarik.

Buang.

Tarik.

Buang.

Ace menoleh kepadanya.

"Kau tidak terlihat panik."

Rowan masih mengatur napas.

"Aku panik."

Ace mengangkat alis.

"Serius?"

"Di dalam hati."

Ace terdiam.

Kemudian mengangguk.

"Ah."

Ia kembali memegangi dada.

"Berarti aku panik di luar."

Rowan meliriknya.

"Ya."

Ace menghela napas.

"Itu tidak adil."

Beberapa meter dari mereka—

Elyon dan Elarion berdiri memperhatikan dimensi yang perlahan menghilang.

Cahaya terakhir dari magical dimension memudar di antara pepohonan.

Udara kembali normal.

Suara angin kembali terdengar.

Dan jalan di depan mereka...

terlihat berbeda.

Elyon membuka peta.

Kemudian melihat jalan di depan.

Lalu kembali melihat peta.

"...Ini bukan jalur yang kita lewati sebelumnya."

Elarion berdiri di sampingnya.

"Benar."

Elyon menggeser jarinya pada peta.

"Kita sudah melewati titik yang pernah kita capai."

Elarion mengangguk.

"Mungkin kita sudah berada di tengah gunung."

Ace yang masih duduk langsung mengangkat kepala.

"Mungkin?"

Elyon menoleh.

"Ya."

Ace menunjuk peta.

"Kita sudah hampir mati dalam dimensi aneh itu, menghancurkan rune, dan kau masih mengatakan 'mungkin'?"

Elyon mengangkat bahu.

"Kita tidak memiliki pengukuran yang cukup untuk memastikan posisi."

Ace menatapnya.

Kemudian menatap Rowan.

"Dia serius."

Rowan mengangguk.

"Dia memang selalu serius."

Ace menghela napas.

"Kadang aku merindukan hidup sederhana."

Elarion tertawa kecil.

"Sudah terlambat."

Kevin yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di depan mereka akhirnya berbicara.

Ia memegang pedang di satu tangan.

Tatapannya tertuju pada jalan di depan.

"Berhenti berbicara."

Semua menoleh.

Kevin mengangkat kepalanya sedikit.

"Magicure gunung berubah."

Darrien langsung memperhatikan.

"Berubah bagaimana?"

Kevin memejamkan mata sebentar.

Ia merasakan energi yang mengalir di tanah.

"Lebih padat."

Ia membuka mata.

"Dan lebih aktif."

Elyon melihat peta.

"Artinya?"

Kevin menggenggam pedangnya lebih erat.

"Pertahanan berikutnya mungkin sudah menyadari keberadaan kita."

Ace perlahan berdiri.

"...Bagus."

Rowan menatapnya.

"Kau terdengar tidak senang."

"Aku tidak senang."

Ace menepuk debu di pakaiannya.

"Aku hanya sudah menerima nasib."

Darrien menatap jalan di depan.

"Kalau begitu kita lanjut."

Elarion menyimpan peta.

"Jangan terlalu cepat."

Darrien mengangguk.

Mereka semua bersiap.

Kemudian—

mereka berlari.

Langkah kaki mereka menggema di antara pepohonan.

Darrien berada paling depan.

Kevin sedikit di belakang.

Elyon dan Elarion menjaga sisi.

Rowan memperhatikan perubahan rune.

Ace berada di belakang sambil sesekali menoleh.

Mereka terus bergerak.

Satu tikungan.

Dua tikungan.

Jalan menurun.

Kemudian kembali naik.

Semakin jauh mereka berjalan—

semakin aneh suasananya.

Tidak ada serangan.

Tidak ada suara.

Tidak ada magical beast.

Terlalu tenang.

Darrien memperlambat langkah.

"Berhenti."

Semua berhenti.

Ace hampir menabrak Rowan.

"Kenapa?"

Darrien menatap jalan.

"Sunyi."

Elyon mengangguk.

"Benar."

Kevin menurunkan pedangnya sedikit.

"Ini bukan ketenangan."

Ia menatap pepohonan.

"Ini persiapan."

Tiba-tiba—

*ting.*

Suara kecil terdengar.

Sebuah rune menyala di batang pohon.

Kemudian rune lain.

*ting.*

*ting.*

*ting.*

Dalam hitungan detik—

puluhan rune menyala di sekeliling mereka.

Ace langsung mundur.

"Ah."

Ia melihat sekeliling.

"Ini tidak bagus."

Rowan mengangkat tangan.

"Jangan bergerak."

Darrien menatap ke atas.

Rune-rune itu mulai terhubung.

Garis cahaya terbentuk di antara pepohonan.

Kemudian—

WHOOM!

Tanah bergetar.

Jalan yang berada di depan mereka terbelah menjadi tiga.

Tiga jalan muncul.

Semuanya terlihat sama.

Ace memandang ketiganya.

"...Kita pilih yang mana?"

Elyon mendekat.

"Jangan pilih dulu."

Darrien mengamati.

"Kenapa?"

"Karena..."

Elyon menunjuk jalan tengah.

"...yang itu terlalu mudah."

Ace mengangguk.

"Setuju."

Rowan melihat jalan kiri.

"Yang itu?"

Elarion menggeleng.

"Terlalu jelas."

Kevin menatap jalan kanan.

"Dan yang itu..."

Ia menyipitkan mata.

"...tidak memiliki jejak magicure."

Darrien tersenyum tipis.

"Berarti ketiganya perangkap."

Ace memandang ketiga jalan.

"Jadi..."

Ia menghela napas.

"...kita sudah maju lebih dalam, tapi hadiahnya adalah tiga pilihan salah?"

Elyon tertawa kecil.

"Kurang lebih."

Ace menatap langit.

"Kenapa aku ikut kalian?"

---

### — Kantor Pertahanan Shadowcresent —

Di sisi lain pegunungan...

sebuah ruangan dipenuhi cahaya kristal.

Beberapa vampire penjaga berdiri di depan sebuah magical defense mirror.

Pantulan di permukaan cermin memperlihatkan—

Kumpulan Veyth.

Mereka baru saja melewati salah satu magical dimension.

Dan sekarang...

mereka berada jauh lebih dalam.

Salah satu penjaga menelan ludah.

"Mereka..."

Ia mendekat ke cermin.

"...benar-benar masuk."

Penjaga lain mengangguk.

"Mereka melewati lapisan ketiga."

"Mustahil."

"Mereka menghancurkan rune stone."

Yang lain menatap cermin.

"Dengan kekuatan siapa?"

Penjaga itu terdiam.

Kemudian memperbesar pantulan.

Darrien terlihat di tengah kelompok.

Magicure padat mengelilingi tubuhnya.

Penjaga mengerutkan kening.

"Pria itu..."

"Ya."

"Dia berbeda."

Yang lain mengangguk.

"Jauh lebih kuat dari terakhir kali."

Suara langkah kaki terdengar dari pintu.

*Tap.*

*Tap.*

*Tap.*

Semua penjaga langsung berdiri tegak.

Mufasa memasuki ruangan.

Tatapannya langsung tertuju pada magical defense mirror.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Hanya berjalan mendekat.

Melihat kumpulan Veyth.

Kemudian melihat kerusakan pada beberapa titik rune yang ditampilkan di sisi cermin.

Mufasa menghela napas.

"...Laporan."

Salah satu penjaga segera menjawab.

"Mereka telah melewati lapisan pertahanan ketiga."

Mufasa menyipitkan mata.

"Posisi?"

"Bagian tengah gunung."

Mufasa diam.

"Mereka menemukan jalur baru."

"Benar, tuan."

"Dan mereka menghancurkan rune?"

"Beberapa."

Penjaga menunjuk cermin.

"Mereka tidak hanya melewati perangkap."

Ia menunjuk Darrien.

"Mereka mulai menghancurkan mekanisme yang mengikatnya."

Mufasa menatap Darrien lebih lama.

"...Jadi itu perubahan magicure yang kita rasakan."

"Ya."

Mufasa mengusap dagunya.

"Menarik."

Penjaga lain bertanya,

"Haruskah kita menutup semua jalur?"

Mufasa langsung menggeleng.

"Tidak."

"Tuan?"

"Kalau kita menutup semuanya sekarang, mereka akan tahu bahwa mereka sudah menemukan sesuatu."

Mufasa menatap cermin.

"Kita masih punya banyak ruang untuk mengarahkan mereka."

Ia menunjuk tiga jalur yang mulai terbentuk di depan Veyth.

"Alihkan struktur maze."

Salah satu penjaga langsung bergerak.

"Ke mana?"

"Jangan ke istana."

Mufasa menunjuk jalur paling jauh.

"Bawa mereka lebih dalam."

Penjaga terlihat ragu.

"Lebih dalam?"

"Ya."

Mufasa tersenyum tipis.

"Biarkan mereka berpikir bahwa mereka semakin dekat."

Penjaga memahami.

"Padahal?"

Mufasa menatap cermin.

"Padahal kita memutar mereka."

Ia mengambil sebuah kristal kecil dari meja.

Kemudian memasukkannya ke dalam mekanisme pertahanan.

"Ubah urutan rune."

"Berapa banyak?"

"Semua yang ada di sektor ini."

Penjaga terkejut.

"Semua?"

Mufasa mengangguk.

"Kumpulan Veyth sudah belajar pola lama."

Ia menatap mereka.

"Jangan berikan pola baru yang bisa mereka hafalkan."

Salah satu penjaga tersenyum.

"Dimengerti."

Mufasa kembali melihat cermin.

Darrien sedang berdiri di antara tiga jalan.

Ia terlihat sedang berdiskusi dengan kelompoknya.

Mufasa menyipitkan mata.

"Dan jangan serang mereka terlalu keras."

Penjaga mengangguk.

"Kenapa?"

Mufasa menjawab,

"Karena kita ingin tahu seberapa jauh mereka bisa pergi."

Ia berhenti.

"Kalau mereka terus menghancurkan rune..."

Tatapannya menjadi serius.

"...kita akan tahu seberapa kuat pria itu sekarang."

Penjaga menelan ludah.

"Dan jika mereka menemukan jalur yang benar?"

Mufasa tersenyum tipis.

"Jangan biarkan mereka menyadarinya."

Ia berbalik.

"Biarkan mereka memilih."

"Dan buat setiap pilihan..."

Mufasa berhenti di depan pintu.

"...membawa mereka lebih jauh dari istana."

Pintu tertutup.

Para penjaga kembali bekerja.

Di magical defense mirror—

tiga jalur di depan Kumpulann Veyth perlahan berubah.

Satu jalan memanjang.

Jalan kedua sedikit bergeser.

Jalan ketiga membuka sebuah lorong baru.

Namun tidak satu pun dari mereka tahu...

jalur mana yang sebenarnya menuju tempat yang mereka inginkan.

Di tengah gunung—

Darrien menatap ketiga jalan itu.

Ia menarik napas.

Kemudian tersenyum tipis.

"Baik."

Tangannya mengepal.

"Kalau kalian ingin bermain..."

Tatapannya menjadi tajam.

"...kami juga akan bermain."

Dan jauh di dalam Shadowcresent—

pertahanan gunung mulai bergerak sekali lagi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience