Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 423 — DIKIRIM PULANG II
VEYTH.
Ruang utama istana masih sunyi.
Terlalu sunyi.
Seluruh kelompok yang beberapa jam lalu masih berada di pegunungan kini berdiri di tempat yang sama sekali berbeda.
Istana mereka sendiri.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Seolah-olah—
otak mereka semua masih mencoba menerima kenyataan.
Mereka baru saja berjalan berjam-jam menuju Shadowcresent.
Mereka menemukan jalur.
Mereka mengikuti petunjuk.
Mereka bahkan berhasil mencapai sebuah clearing.
Kemudian—
FWOOSH.
Dan sekarang—
mereka kembali ke Veyth.
Begitu saja.
***
Ace masih duduk di lantai.
Ia menatap kedua tangannya.
Kemudian menatap langit-langit.
Kemudian kembali melihat tangannya.
“…”
Rowan berdiri tidak jauh darinya.
“Kau baik-baik saja?”
Ace mengangguk.
“Ya.”
Ia diam beberapa detik.
Kemudian—
“Tidak.”
Rowan menghela napas.
“Aku sudah menduganya.”
Ace bangkit perlahan.
“Kita berjalan sejauh itu.”
“Ya.”
“Kita melewati gunung.”
“Ya.”
“Kita tersesat.”
“Ya.”
“Kita menemukan tempat untuk beristirahat.”
“Ya.”
Ace menunjuk lantai.
“Lalu…”
Ia menarik napas panjang.
“…kita dikirim pulang.”
Rowan mengangguk.
“Benar.”
Ace menatapnya.
“Kenapa kau begitu tenang?”
“Karena marah tidak akan mengubah apa pun.”
Ace terdiam.
Kemudian berkata,
“Aku tetap marah.”
“Aku tahu.”
***
Di sisi lain—
Kevin masih berdiri dengan kedua tangan menyilang.
Wajahnya terlihat serius.
Namun ada sesuatu dalam tatapannya yang jauh lebih tajam daripada biasanya.
“Teleportasi itu…”
Ia mengingat kembali kejadian tadi.
Lingkaran muncul tanpa peringatan.
Tidak ada waktu untuk bereaksi.
Tidak ada kesempatan untuk melawan.
Dan yang paling mengganggu—
mereka bahkan tidak mengetahui siapa yang mengaktifkannya.
Kevin mengepalkan tangan.
“Tidak ada seorang pun dari kita yang sempat menghentikannya.”
Darrien berdiri di dekat jendela.
Diam.
Kevin menatapnya.
“Kau juga merasakannya, kan?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
“Seberapa kuat?”
Darrien terdiam sejenak.
“Cukup kuat untuk memindahkan seluruh kelompok.”
Kevin menghela napas.
“Dan tanpa membunuh siapa pun.”
Darrien menatap ke luar jendela.
“Itu yang menggangguku.”
Kevin mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena mereka tidak sedang mencoba membunuh kita.”
Darrien berbalik.
“Mereka sedang menunjukkan bahwa mereka bisa.”
Ruangan kembali sunyi.
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
***
Elyon masih memegang buku tua yang dibawanya dari Lunaris.
Ia membuka halaman yang sama.
Peta kuno.
Simbol bulan sabit.
Jalur pegunungan.
Semuanya masih ada.
Elyon mengusap dahinya.
“Kita bahkan belum memasuki pusat wilayah mereka.”
Elarion mengangguk.
“Benar.”
“Namun mereka sudah mengetahui keberadaan kita.”
“Ya.”
Rowan menambahkan,
“Dan mereka dapat memindahkan kita dari jarak sejauh itu.”
Elyon menutup buku.
“Ini bukan sekadar kerajaan yang tersembunyi.”
Ia menatap yang lain.
“Wilayah itu benar-benar berada di luar pengetahuan kita.”
***
Gloria duduk perlahan.
Ia masih terlihat sedikit terkejut.
“Aku bahkan tidak sempat melihat siapa yang menyerang.”
Elarion menggeleng.
“Itu bukan serangan.”
Gloria menatapnya.
“Lalu apa?”
“Peringatan.”
Gloria terdiam.
Darrien langsung menjawab,
“Ya.”
Ia melihat ke arah peta.
“Mereka bisa saja membunuh kita.”
Kevin menatapnya.
“Tapi mereka tidak melakukannya.”
“Justru itu.”
Darrien mengepalkan tangan.
“Mereka ingin kita tahu bahwa kita belum siap.”
***
Edward akhirnya berjalan menuju meja.
Ia melihat peta yang masih terbuka.
Kemudian menarik napas panjang.
“Kita tidak akan kembali ke sana malam ini.”
Ace langsung mengangkat tangan.
“Syukurlah.”
Semua menoleh.
Ace mengangkat bahu.
“Aku cuma bilang.”
Edward hampir tersenyum.
Namun suasana kembali serius.
“Kita perlu memahami apa yang kita hadapi.”
Elyon mengangguk.
“Kita juga perlu mengetahui bagaimana mereka memanipulasi jalur teleportasi itu.”
Kevin berkata,
“Dan bagaimana mereka bisa mengirim kita kembali tanpa memberi kesempatan untuk melawan.”
Darrien tetap diam.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Fiona.
Ia menatap tangannya.
Jejak magicure Fiona masih terasa.
Jauh.
Sangat jauh.
Namun nyata.
“Aku bisa merasakan Fiona.”
Semua kembali menatapnya.
“Seberapa jauh?”
Darrien menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ia memejamkan mata.
“Namun dia masih di sana.”
Gloria menatapnya lembut.
“Setidaknya itu berarti dia masih hidup.”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
Ia membuka matanya.
“Itu cukup untuk sekarang.”
***
Ace tiba-tiba berdiri.
“Baik.”
Semua menoleh lagi.
Ace menunjuk peta.
“Jadi…”
Ia melihat pegunungan yang ditandai.
“Kita gagal.”
Kevin mengangkat alis.
“Secara teknis.”
Ace menghela napas.
“Kita gagal dengan sangat jauh.”
Rowan menambahkan,
“Kita bahkan tidak sampai ke kerajaan mereka.”
Ace mengangguk.
“Terima kasih sudah memperjelas.”
Elyon menahan tawa kecil.
Bahkan Gloria akhirnya tersenyum.
Ketegangan di ruangan sedikit mencair.
Hanya sedikit.
Karena mereka semua tahu—
perjalanan berikutnya akan jauh lebih sulit.
***
Darrien kembali menatap jendela.
Langit malam Veyth terlihat tenang.
Berbeda dengan pegunungan yang baru saja mereka tinggalkan.
Namun pikirannya masih berada di sana.
Di balik gunung.
Di sebuah kerajaan yang bahkan tidak tercatat dengan jelas dalam sejarah mereka.
Di tempat Fiona berada.
Darrien mengepalkan tangannya.
“Kita akan kembali.”
Kevin menatapnya.
“Kali ini dengan rencana.”
Darrien mengangguk.
Elyon mengambil kembali buku kuno.
“Kita harus menemukan cara lain.”
Elarion berdiri.
“Kita akan mencari jawabannya.”
Rowan mengangguk.
Ace menarik napas panjang.
“Dan mungkin…”
Ia menatap pegunungan pada peta.
“…kita perlu mencari cara agar tidak dikirim pulang lagi.”
Kevin menatapnya.
“Itu rencana yang bagus.”
Ace tersenyum.
“Akhirnya seseorang menghargai ideku.”
Rowan menghela napas.
“Jangan terlalu bangga.”
***
Malam semakin larut.
Satu demi satu—
mereka meninggalkan ruang utama.
Namun tidak ada seorang pun yang benar-benar tenang.
Mereka telah memperoleh sesuatu dari perjalanan itu.
Bukan jawaban.
Bukan Fiona.
Bukan Shadowcresent.
Melainkan—
kesadaran baru.
**Musuh mereka jauh lebih kuat daripada yang mereka bayangkan.**
Dan mereka bahkan belum berhasil melewati gerbangnya.
Darrien menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan.
Ia berhenti sebentar.
Menatap peta.
Kemudian berkata pelan,
“Fiona…”
“Aku akan datang lagi.”
Kali ini—
aku akan menemukan jalan yang benar.
Ia berjalan pergi.
Sementara di atas meja—
peta menuju Shadowcresent masih terbuka.
Dan sebuah perjalanan baru—
akan segera dimulai.
