433. Jarak Bukan Lagi Masalah

Romance Completed 594

BAB 433 — JARAK BUKAN LAGI MASALAH

Minggu demi minggu berlalu di Veyth.

Ruang penelitian yang sebelumnya dipenuhi gulungan tua kini semakin penuh dengan catatan baru.

Diagram teleportasi memenuhi dinding.

Lingkaran-lingkaran sihir digambar ulang berkali-kali.

Beberapa bahkan telah dihapus karena gagal.

Namun mereka tidak berhenti.

Setiap percobaan membawa mereka sedikit lebih jauh.

Percobaan pertama hanya berhasil mencapai jarak terbatas.

Percobaan berikutnya bertambah.

Kemudian bertambah lagi.

Beberapa kali prosedur gagal total.

Rune padam sebelum teleportasi selesai.

Salah satu percobaan bahkan membuat Kevin terlempar beberapa meter dari titik tujuan.

Ace sempat berteriak bahwa ia sudah melihat masa depan dan masa depan itu tidak memiliki Kevin di dalamnya.

Kevin tentu saja menyuruhnya diam.

Namun mereka tetap mencoba.

Lagi.

Dan lagi.

Sampai akhirnya—

mereka mencapai batas maksimum dari lapisan teleportasi yang berhasil mereka pahami.

Kevin berdiri di tengah lingkaran.

Elarion membaca hasil pengukuran.

Rowan memeriksa catatan.

Ace menatap alat ukur dengan mata lelah.

"Berapa?"

Rowan menjawab,

"Sudah mencapai batas lapisan ini."

Ace mengedip.

"Jadi... kita tidak bisa lebih jauh?"

Elarion menggeleng.

"Bukan berarti tidak bisa."

Ia menunjuk beberapa simbol.

"Struktur yang kita gunakan sudah mencapai kapasitas maksimumnya."

Kevin menghela napas.

"Berarti kita membutuhkan lapisan berikutnya."

"Ya."

Ace duduk di kursi.

"Bagus."

Kevin menatapnya.

"Bagus?"

Ace mengangguk.

"Berarti setidaknya kita sudah tidak perlu menghitung jarak setiap kali."

Ia menyandarkan tubuhnya.

"Masalah jarak sudah selesai."

Darrien yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Belum."

Semua menoleh kepadanya.

Darrien berdiri di depan peta.

Matanya tertuju pada wilayah yang belum mereka capai.

"Jarak bukan masalah terbesar kita."

Kevin memahami maksudnya.

Elarion juga.

Rowan menutup catatannya.

Ace perlahan kehilangan senyumnya.

Karena mereka semua tahu apa yang ada di balik kalimat itu.

**Raizen.**

***

Ruangan menjadi jauh lebih sunyi.

Darrien mengingat hari ketika mereka pertama kali bertemu dengannya.

Tatapan itu.

Mereka bahkan tidak sempat mengangkat senjata.

Tidak sempat menggunakan sihir.

Tidak sempat memikirkan strategi.

Tubuh mereka bergerak sendiri.

Lutut mereka menghantam tanah.

Bukan karena mereka memilih untuk berlutut.

Tetapi karena tubuh mereka tidak memiliki pilihan lain.

Hanya satu tatapan.

Satu tatapan dari Raizen.

Dan mereka semua dipaksa merasakan betapa kecilnya perbedaan kekuatan di antara mereka.

Ace mengusap tengkuknya.

"Aku masih tidak suka mengingat hari itu."

Kevin menatapnya.

"Kau masih mengingatnya?"

"Bagaimana aku bisa lupa?"

Ace menatap tangannya sendiri.

"Tubuhku bahkan berlutut sebelum otakku sempat memahami apa yang terjadi."

Rowan berkata pelan,

"Dan kita masih tidak mengetahui batas kekuatannya."

Tidak ada yang membantah.

Itulah bagian yang paling mengganggu.

Mereka tahu Raizen kuat.

Mereka telah merasakannya.

Tetapi mereka tidak tahu...

**seberapa kuat.**

Tidak ada catatan yang cukup.

Tidak ada pengukuran.

Tidak ada perbandingan yang bisa mereka gunakan.

Raizen tidak pernah menunjukkan seluruh kekuatannya.

Bahkan saat pertemuan mereka sebelumnya—

tatapannya saja sudah cukup.

Darrien mengepalkan tangan.

"Kalau kita berhasil mencapai Shadowcresent..."

Kevin menatapnya.

"Kita akan berhadapan langsung dengannya."

Darrien mengangguk.

"Ya."

Ace menelan ludah.

"Dan kalau tatapannya saja sudah seperti itu..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tidak perlu.

Mereka semua memikirkan hal yang sama.

Apa yang terjadi jika Raizen benar-benar bertarung?

Tidak seorang pun tahu.

Dan ketidaktahuan itu jauh lebih menakutkan daripada angka mana pun.

***

Hari berganti.

Minggu berganti.

Kemudian...

bulan.

Bagi Veyth, penelitian terus berjalan.

Namun bagi Darrien...

waktu terasa jauh lebih lambat.

Ia semakin sering berdiri sendirian di tempat yang menghadap ke hutan.

Kadang tanpa melakukan apa pun.

Hanya melihat jauh ke depan.

Fiona.

Sudah berapa lama?

Ia tidak tahu lagi.

Hari-hari mulai bercampur.

Namun satu hal tidak pernah berubah.

Ia merindukannya.

Setiap hari.

Kadang Darrien membayangkan Fiona sedang baik-baik saja.

Tertawa.

Makan.

Berjalan di taman.

Mungkin menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran.

Namun ada saat-saat ketika pikirannya berubah.

Bagaimana kalau Fiona menangis?

Bagaimana kalau dia takut?

Bagaimana kalau dia terluka?

Bagaimana kalau...

Darrien menutup mata.

Tidak.

Ia tidak ingin membayangkan itu.

Tetapi semakin lama ia berada jauh dari Fiona, semakin banyak kemungkinan yang muncul di kepalanya.

"Apakah kau marah padaku?"

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia menatap hutan.

"Karena aku belum datang."

Darrien tahu alasannya.

Mereka tidak bisa menembus pertahanan Shadowcresent.

Mereka belum bisa.

Namun Fiona tidak akan tahu itu.

Dari sudut pandangnya...

Darrien hanya belum datang.

Belum menemukannya.

Belum membawanya pulang.

Mungkin Fiona menunggunya.

Mungkin tidak.

Mungkin ia telah berhenti menunggu.

Pikiran terakhir itu terasa paling menyakitkan.

Darrien menundukkan kepala.

"Fiona..."

Ia menghela napas panjang.

"Aku masih mencarimu."

Tangannya mengepal.

"Aku belum menyerah."

Namun ada satu hal yang terus ia harapkan.

Semoga Raizen tidak menyakitinya.

Semoga Fiona tidak menangis.

Semoga...

apa pun yang terjadi di Shadowcresent...

Fiona masih baik-baik saja.

Darrien menatap langit.

"Kalau dia membuatmu menangis..."

Matanya menjadi dingin.

"...aku akan membuatnya membayar persis seperti dia menyakitimu."

***

Shadowcresent.

Hari itu jauh lebih tenang.

Fiona berjalan melewati taman.

Ia membawa sebuah piring kecil berisi makanan.

Entah dari mana asalnya.

Namun jelas sekali bahwa ia sedang menikmati sesuatu.

Ia berhenti di dekat bunga-bunga hitam.

Kemudian menatap salah satunya.

"Yang ini cantik."

Angin berembus lembut.

Fiona tersenyum.

Namun tiba-tiba—

langkahnya berhenti.

Ia menoleh.

Seolah baru saja mendengar sesuatu.

Matanya menyapu taman.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya suara angin.

Daun yang bergerak.

Dan suara air dari air mancur.

Fiona mengerutkan kening.

"...."

Ia berdiri diam beberapa saat.

Kemudian menatap ke arah belakangnya.

Perasaan itu masih ada.

Samar.

Seperti seseorang baru saja memanggil namanya.

"Fiona..."

Ia mengerjapkan mata.

Namun tidak ada apa pun.

Fiona mengusap telinganya sendiri.

"Mungkin cuma imajinasi."

Ia tersenyum kecil.

Kemudian kembali berjalan.

Tanpa mengetahui bahwa jauh dari Shadowcresent...

seseorang baru saja menyebut namanya dengan penuh kerinduan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

seolah-olah jarak di antara mereka terasa sedikit lebih tipis.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience