21. Sesuatu Yang Terasa Berbeda

Romance Series 94

BAB 21
SESUATU YANG TERASA BERBEDA

Perjalanan pulang dari Lyrandel berlangsung lebih tenang daripada perjalanan sebelumnya.

Fiona terlihat puas setelah mencoba berbagai makanan baru, sementara Darrien lebih banyak diam.

Pikirannya masih tertuju pada pria asing yang mereka lihat di kota.

Hawa dingin itu.

Samar.

Hampir tidak terasa.

Namun cukup familiar.

Sama seperti sesuatu yang terkadang bergerak di dalam tubuhnya sendiri.

“Kau masih memikirkannya?”

Suara Elarion membuat Darrien menoleh.

“Siapa?”

“Pria yang kau lihat di Lyrandel.”

Darrien terdiam.

“Ya.”

Elarion tetap memandang jalan di depan.

“Apa yang kau rasakan?”

“Dingin.”

“Seperti hawa dingin biasa?”

“Tidak.”

Darrien menggeleng.

“Lebih dalam.”

Elarion mengangguk pelan.

“Bagus.”

Darrien mengerutkan kening.

“Bagus?”

“Karena kau mulai mengenali perbedaan antara sesuatu yang kau lihat dan sesuatu yang kau rasakan.”

Fiona ikut memperhatikan.

“Apakah pria itu penyihir?”

“Mungkin.”

“Elf?”

“Bisa saja.”

“Vampir?”

Elarion tersenyum.

“Bisa juga.”

Fiona semakin penasaran.

“Jadi kita tidak tahu?”

“Tidak semua orang yang menggunakan sihir akan menunjukkan ras mereka.”

Darrien memikirkan perkataan itu.

“Kalau begitu, bagaimana cara kita tahu?”

“Tidak selalu bisa.”

Elarion menatapnya.

“Itulah mengapa kalian harus belajar lebih banyak daripada sekadar menggunakan sihir.”

Mereka tiba di rumah menjelang sore.

Setelah menyimpan barang-barang mereka, Elarion membawa Darrien dan Fiona kembali ke halaman.

Ia meletakkan tiga batu kecil di atas tanah.

“Pelajaran hari ini.”

Fiona menatap batu-batu itu.

“Lagi?”

“Lagi.”

Elarion menunjuk batu pertama.

“Batu ini tidak memiliki sihir.”

Kemudian batu kedua.

“Yang ini menyimpan sedikit energi sihir.”

Lalu batu ketiga.

“Yang terakhir memiliki jejak sihir yang lebih kuat.”

Darrien memperhatikan ketiganya.

“Dan kami harus menebak?”

“Bukan menebak.”

Elarion tersenyum.

“Rasakan.”

Darrien memejamkan mata.

Fiona ikut melakukannya.

Awalnya tidak ada apa-apa.

Kemudian Darrien merasakan sesuatu dari batu kedua.

Samar.

Seperti getaran kecil.

Ia menunjuk.

“Yang ini.”

Elarion mengangguk.

“Benar.”

Fiona mencoba.

Ia menunjuk batu ketiga.

“Yang ini.”

“Benar juga.”

Darrien membuka mata.

“Kami bisa merasakannya.”

“Ya.”

Elarion kemudian memindahkan batu-batu itu tanpa mereka lihat.

“Sekarang sekali lagi.”

Mereka mencoba.

Kali kedua lebih sulit.

Kali ketiga lebih sulit lagi.

Namun perlahan, mereka mulai mengenali perbedaan kecil di antara ketiganya.

Fiona bisa merasakan energi yang terasa hangat.

Darrien lebih peka terhadap energi yang terasa dingin atau berat.

Elarion memperhatikan perbedaan itu.

“Kalian memiliki cara merasakan sihir yang berbeda.”

Fiona menatap Darrien.

“Seperti kita.”

Darrien mengangguk.

Elarion tersenyum.

“Jangan mencoba menjadi seperti satu sama lain.”

Ia mengambil batu-batu tersebut.

“Belajarlah memahami kekuatan kalian sendiri.”

Matahari mulai turun.

Setelah latihan selesai, Darrien masih berdiri di halaman.

Ia memandang tangannya.

“Elarion.”

“Hm?”

“Apakah aku akan selalu merasakan hawa dingin seperti itu?”

Elarion terdiam sejenak.

“Mungkin.”

“Dan kalau semakin kuat?”

“Kalau begitu, kau harus menjadi lebih kuat dalam mengendalikannya.”

Darrien mengangguk.

Ia tidak bertanya lagi.

Namun jauh di dalam dirinya, sesuatu kembali bergerak.

Dingin.

Tenang.

Dan samar.

Seolah kekuatan itu sedang menunggu waktunya sendiri.

Di sisi lain, Fiona menatap cahaya kecil yang muncul di ujung jarinya.

Kali ini, ia tidak takut.

Ia hanya tersenyum.

Mereka belum tahu apa arti semua itu.

Namun sedikit demi sedikit, mereka mulai belajar bahwa dunia memiliki bahasa yang tidak selalu bisa didengar telinga.

Bahasa yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki sihir.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience