Series
94
BAB 80
JANGAN TUTUP MATAMU
Mereka meninggalkan lembah sebelum matahari terbenam.
Darrien tidak membiarkan siapa pun membawa Fiona.
Ia sendiri yang menggendongnya.
Elarion terus memeriksa lukanya sepanjang perjalanan.
“Pelan.”
Darrien langsung berhenti setiap kali Elarion memintanya.
Tidak ada lagi sifat keras kepala.
Tidak ada lagi amarah.
Hanya ketakutan.
Ketakutan bahwa jika ia bergerak terlalu cepat…
denyut kecil itu akan menghilang.
Mereka akhirnya menemukan sebuah gua kecil di balik bebatuan.
“Di sini,” kata Elarion.
Darrien membaringkan Fiona di atas selimut.
Elarion segera kembali memeriksa lukanya.
Kevin menjaga pintu masuk.
Ace keluar untuk memastikan tidak ada pengejar.
Darrien tetap berada di samping Fiona.
Ia menggenggam tangannya.
Dingin.
Terlalu dingin.
“Fiona.”
Tidak ada jawaban.
Darrien menunduk.
“Bangun.”
Elarion meliriknya.
“Dia belum sadar.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu biarkan dia beristirahat.”
Darrien menggeleng.
“Aku tidak mau.”
Elarion berhenti.
Darrien menatap Fiona.
“Kalau dia tidur…”
Suaranya bergetar.
“…bagaimana kalau dia tidak bangun?”
Elarion terdiam.
Ia akhirnya duduk di samping Darrien.
“Dia masih hidup.”
“Benarkah?”
“Ya.”
Darrien menatapnya.
“Denyutnya masih ada.”
Elarion mengangguk.
“Dan selama itu masih ada, kita belum menyerah.”
Darrien menunduk.
Ia mencium punggung tangan Fiona dengan lembut.
“Aku masih di sini.”
***
Beberapa jam berlalu.
Luka Fiona mulai tertutup perlahan.
Namun ia belum sadar.
Darrien masih duduk di sampingnya.
Kevin akhirnya mendekat.
“Kau harus tidur.”
“Aku tidak mengantuk.”
“Kau sudah tidak tidur dengan benar selama beberapa hari.”
“Aku baik-baik saja.”
Kevin menatapnya.
“Kau hampir menghancurkan seluruh lembah.”
Darrien terdiam.
“Dan sekarang kau berpura-pura baik-baik saja?”
Darrien menatap Fiona.
“Aku hanya…”
Ia berhenti.
“Aku pikir dia sudah mati.”
Kevin tidak menjawab.
Darrien menundukkan kepala.
“Aku benar-benar berpikir aku gagal lagi.”
Kevin duduk di sampingnya.
“Darrien.”
“Hm?”
“Kau tidak gagal.”
Darrien menatapnya.
“Kau menemukannya.”
“Tapi aku hampir kehilangan dia.”
“Dan kau menyelamatkannya.”
Darrien terdiam.
Kevin menepuk bahunya.
“Belajarlah dari malam ini.”
“Belajar apa?”
“Bahwa kekuatan bukan hanya tentang menghancurkan sesuatu.”
Darrien menatap tangannya.
Kevin melanjutkan,
“Kadang-kadang kekuatan terbesar adalah mengetahui kapan harus berhenti.”
Darrien mengingat saat ia hampir membunuh semua orang.
Ia mengangguk perlahan.
“Aku mengerti.”
***
Malam semakin larut.
Ace kembali ke gua.
“Tidak ada pengejar.”
Elarion mengangguk.
“Bagus.”
Ace kemudian melihat Fiona.
“Bagaimana?”
“Masih stabil.”
Darrien akhirnya menghela napas lega.
Namun tiba-tiba—
jari Fiona bergerak.
Darrien membeku.
“Elarion.”
Elarion langsung menoleh.
Fiona mengerutkan kening.
Napasnya berubah.
Kemudian kelopak matanya bergerak perlahan.
Darrien menggenggam tangannya.
“Fiona?”
Mata Fiona terbuka sedikit.
Pandangan matanya masih kabur.
Ia melihat bayangan di depannya.
“Darrien…?”
Darrien tersenyum.
Air mata langsung jatuh.
“Ya.”
Fiona mencoba bergerak.
Namun Elarion segera menahannya.
“Jangan.”
Fiona menatapnya.
Kemudian kembali kepada Darrien.
“Kau… datang…”
Darrien tertawa kecil sambil menangis.
“Aku bilang aku akan datang.”
Fiona tersenyum lemah.
“Bodoh…”
Darrien mengusap rambutnya.
“Ya.”
Fiona memejamkan mata lagi.
Darrien langsung panik.
“Fiona!”
Elarion menenangkan.
“Tenang.”
“Dia menutup matanya!”
“Dia hanya tidur.”
Darrien menatap Elarion.
“Benarkah?”
“Benar.”
Darrien menghela napas panjang.
Ia kembali menggenggam tangan Fiona.
“Kalau begitu tidur.”
Ia menatap wajahnya.
“Aku akan tetap di sini ketika kau bangun.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai…
Darrien tersenyum tanpa rasa takut.
Karena kali ini—
Fiona masih hidup.
Share this novel