155. Di Tepi Danau

Romance Series 382

BAB 155
DI TEPI DANAU

Hari itu terasa jauh lebih tenang.

Rowan, Kevin, dan Ace akhirnya mengambil satu hari penuh untuk beristirahat setelah berhari-hari berada di istana.

Elarion tetap berada di kediaman.

Seperti biasa, ia sibuk dengan eliksirnya.

Sementara itu—

Darrien dan Fiona memilih meninggalkan kediaman untuk sementara.

Mereka berjalan menuju Danau Veyth.

Tidak ada latihan.

Tidak ada penelitian.

Tidak ada pembicaraan mengenai istana.

Hanya mereka berdua.

***

Air danau berkilauan terkena cahaya matahari.

Fiona duduk di tepi danau.

Kakinya menyentuh rumput lembut.

Darrien duduk di sampingnya.

“Tenang sekali.”

Fiona tersenyum.

“Sudah lama kita tidak pergi hanya untuk menikmati tempat seperti ini.”

Darrien mengangguk.

“Benar.”

Fiona menatap permukaan danau.

Kemudian tanpa sadar—

ia menyandarkan kepalanya pada bahu Darrien.

Darrien sedikit terkejut.

Namun ia tidak bergerak.

Ia hanya tersenyum.

“Nyaman?”

Fiona mengangguk.

“Sedikit.”

“Sedikit?”

Fiona tertawa kecil.

“Baiklah. Sangat nyaman.”

Darrien ikut tertawa.

Beberapa saat mereka hanya menikmati keheningan.

Kemudian Fiona mengangkat wajahnya.

“Darrien.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena selalu ada.”

Darrien terdiam.

Ia menatap Fiona.

“Kau juga selalu ada.”

Fiona tersenyum.

“Kalau begitu…”

Ia mengulurkan tangannya.

Darrien menggenggamnya.

Jari mereka saling bertaut.

Angin lembut melewati permukaan danau.

Fiona menunduk, memperhatikan tangan mereka.

Wajahnya perlahan memerah.

Darrien memperhatikannya.

“Kau malu?”

“Tidak.”

“Wajahmu merah.”

“Karena panas.”

Darrien tertawa.

“Padahal anginnya dingin.”

Fiona langsung memukul lengannya pelan.

“Diam.”

Darrien tertawa lagi.

Kemudian suasana kembali tenang.

Ia mengangkat tangan lainnya.

Dengan lembut—

ia menyentuh kepala Fiona.

Fiona menatapnya.

Darrien tersenyum.

Lalu memberikan sebuah kecupan lembut di dahinya.

Fiona membeku.

Wajahnya langsung memerah.

Darrien mundur sedikit.

“Kenapa?”

Fiona menutup dahinya dengan tangan.

“Tidak ada.”

Darrien tersenyum kecil.

“Kalau begitu bagus.”

Fiona memalingkan wajah.

Namun senyum kecil muncul di bibirnya.

Ia kembali menyandarkan kepala pada bahu Darrien.

Kali ini—

Darrien menggenggam tangannya lebih erat.

Tidak ada kata-kata besar.

Tidak ada janji yang berlebihan.

Hanya dua orang yang telah melewati begitu banyak hal bersama—

akhirnya mendapatkan satu sore yang tenang.

Di tepi Danau Veyth.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience