Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 381 — SAINTESS MENGHILANG
Latihan kembali dimulai.
Kali ini—
tidak ada lagi jeda.
Darrien dan Fiona terus bergerak di dalam barrier.
Kecepatan mereka semakin tinggi.
Dark magic dan Silver Leaf magic terus bertabrakan di udara.
Namun keduanya tidak berhenti.
Setiap kali Darrien berhasil mengikuti gerakan Fiona—
Fiona menaikkan kecepatannya.
Setiap kali Fiona menemukan celah—
Darrien mulai menutupnya.
Gerakan mereka menjadi semakin cepat.
Semakin halus.
Semakin sulit dibaca.
Bahkan magicure yang mereka tinggalkan semakin tipis.
***
Darrien melompat dari satu sisi ke sisi lain.
Dark magic muncul di tangannya.
Ia melemparkannya sambil bergerak.
Fiona menghindar.
Namun sebelum serangan itu menghilang—
Darrien sudah berada di sisi lain.
Ia menyerang lagi.
Fiona tersenyum.
Silver Leaf magic muncul.
Sebuah bola cahaya melesat.
Darrien menghilang.
**BOOM!**
Ledakan kecil terjadi.
Darrien muncul di atas sebuah cabang pohon.
Fiona sudah berada di bawahnya.
Ia mengangkat wajah.
“Masih bisa melihatmu.”
Darrien tersenyum.
“Kalau begitu…”
Ia menghilang.
“…lihat aku lagi.”
**WHOOSH!**
Fiona ikut menghilang.
***
Di luar barrier—
Ace menatap kosong.
“…”
Rowan menyipitkan mata.
“Masih bisa melihat mereka?”
Ace menggeleng.
“Tidak.”
Elarion tertawa kecil.
“Sudah lama.”
Elyon masih mencoba menggunakan magic sense.
“Mereka bergerak terlalu cepat.”
Kevin berdiri diam.
Ia masih dapat merasakan keduanya.
Setidaknya—
begitulah yang ia pikirkan.
***
Di dalam barrier—
Darrien berhenti.
Tidak ada Fiona.
Ia memperluas magic sense.
Kiri—
tidak ada.
Kanan—
tidak ada.
Atas—
tidak ada.
Belakang—
kosong.
Darrien mengerutkan kening.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Ia memperluas indranya lebih jauh.
Tidak ada.
Darrien mulai bergerak.
Satu langkah.
Kemudian dua.
Ia mencoba merasakan aliran Silver Leaf magic.
Tidak ada.
“…”
Untuk pertama kalinya—
Darrien benar-benar kehilangan jejak Fiona.
Ia berdiri diam.
*Bagaimana?*
Tadi dia masih bisa merasakannya.
Sekarang—
bahkan sedikit pun tidak.
Darrien memejamkan mata.
Ia mencoba mengingat cara Grandmaster menggunakan magic sense.
Jangan memaksa.
Rasakan.
Biarkan magicure datang.
Ia menarik napas.
Tenang.
Tidak ada.
Ia membuka mata.
“…”
Fiona benar-benar menghilang.
***
Di luar barrier—
Kevin tiba-tiba mengangkat alis.
Ia merasakan sesuatu.
Namun—
bukan dari dalam barrier.
Ada perubahan kecil di belakangnya.
Kevin perlahan menoleh.
Kosong.
Ia kembali melihat barrier.
“…”
Ace memperhatikan Kevin.
“Kenapa?”
Kevin tidak menjawab.
Rowan ikut melihat sekeliling.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian—
sebuah suara terdengar tepat di belakang Kevin.
“Sepertinya Darrien masih mencariku.”
Kevin membeku.
Ace membeku.
Rowan membeku.
Elarion menahan napas.
Elyon perlahan menoleh.
Fiona berdiri santai—
**tepat di belakang Kevin.**
Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kapan ia keluar dari barrier.
Tidak ada suara.
Tidak ada jejak magicure.
Tidak ada perpindahan yang terlihat.
Fiona hanya berdiri di sana sambil tersenyum.
Kevin menatapnya dari sudut mata.
“…Sejak kapan?”
Fiona tersenyum manis.
“Beberapa saat.”
Ace langsung menunjuk Fiona.
“Bagaimana?!”
Rowan menatap Kevin.
“Bahkan kau tidak merasakannya?”
Kevin terdiam.
Kemudian—
senyum tipis muncul di wajahnya.
“Menarik.”
Elarion tertawa.
“Jadi sekarang…”
Ia melihat ke dalam barrier.
“…Darrien sedang mencari Fiona.”
Elyon mengangguk.
“Dan Fiona justru berada di luar.”
Ace mulai tertawa.
“Dia benar-benar berhasil kabur!”
Rowan ikut tertawa.
“Bukan kabur.”
Ia menunjuk Fiona.
“Dia meninggalkan Darrien sendirian!”
***
Di dalam barrier—
Darrien masih berdiri.
Mencari.
Tidak tahu bahwa orang yang sedang ia cari—
berdiri santai tepat di belakang Kevin.
Fiona menatap barrier.
Kemudian tersenyum kecil.
“Sepertinya…”
Ia tertawa pelan.
“…aku menang.”
Dan untuk pertama kalinya dalam latihan hari itu—
Darrien benar-benar kehilangan jejak Saintess-nya.
Sementara di luar barrier—
kelima orang lainnya hanya bisa menatap Fiona dengan ekspresi campuran antara kagum dan ingin tertawa.
