447. Fiona, Aku Datang

Romance Completed 594

BAB 447 — FIONA, AKU DATANG

Pagi terakhir di pegunungan Shadowcresent terasa berbeda.

Veyth menyadarinya sejak awal.

Tidak ada kabut tebal.

Tidak ada perubahan jalur.

Tidak ada suara aneh.

Tidak ada rune yang muncul di tanah.

Tidak ada teleportasi mendadak.

Tidak ada jebakan.

Ace berjalan beberapa langkah di depan.

Ia berhenti.

Menoleh ke belakang.

Lalu melihat ke depan lagi.

"Aku tidak suka ini."

Kevin menatapnya.

"Apa?"

"Terlalu tenang."

Elarion mengangguk pelan.

"Aku juga merasakannya."

Rowan membuka peta.

"Seharusnya ada tiga jalur yang aktif di area ini."

Ia melihat sekeliling.

"Namun semuanya terbuka."

Elyon memeriksa aliran energi.

"Pertahanannya masih ada."

Darrien mengangkat mata.

"Tapi tidak aktif."

Semua terdiam.

Mereka sudah terlalu lama berada di pegunungan untuk percaya bahwa sesuatu seperti ini terjadi secara kebetulan.

Ace memandang jalur di depan.

"Jadi..."

Ia menelan ludah.

"Ini jebakan?"

Kevin menggeleng.

"Belum tentu."

"Jawabanmu sama sekali tidak menenangkan."

Darrien berjalan maju.

Ia mengamati tanah.

Tidak ada perangkap.

Ia merasakan udara.

Tidak ada distorsi.

Ia menggunakan sihirnya.

Tidak ada gangguan.

Jalur di depan...

benar-benar terbuka.

Darrien menyipitkan mata.

"Ini disengaja."

Elyon mengangguk.

"Sepertinya."

Elarion memandang ke kejauhan.

"Kalau begitu mereka sudah tahu kita akan datang."

Ace langsung mengangkat tangan.

"Pertanyaan."

Semua menoleh.

"Kenapa?"

Tidak ada yang menjawab.

Ace menurunkan tangannya.

"Bagus. Tidak ada yang tahu. Aku merasa lebih baik."

Kevin menepuk bahunya.

"Jalan saja."

Mereka terus maju.

Semakin jauh mereka berjalan...

semakin aneh keadaan itu.

Pertahanan yang sebelumnya begitu agresif sekarang seperti mundur.

Jalur-jalur yang seharusnya menyesatkan justru mengarah ke satu tempat.

Mereka tidak lagi dipindahkan.

Tidak lagi diputar.

Tidak lagi diuji.

Mereka hanya...

dibiarkan berjalan.

Darrien semakin waspada.

"Jangan lengah."

"Aku tidak akan," jawab Kevin.

Elyon menatap ke depan.

"Kita mungkin sudah melewati lapisan luar."

Rowan memeriksa peta sekali lagi.

"Kalau benar..."

Ia menunjuk sebuah titik.

"...maka pusat wilayah Shadowcresent ada di balik pegunungan ini."

Ace melihat ke arah yang ditunjuk.

Untuk pertama kalinya...

ia melihat sesuatu.

Sebuah siluet bangunan.

Jauh.

Sangat jauh.

Namun jelas.

Menara hitam.

Dinding batu kuno.

Dan cahaya merah yang samar di balik kabut.

Ace terdiam.

"...Itu."

Kevin menatapnya.

"Apa?"

Ace menunjuk.

"Jangan bilang aku satu-satunya yang melihat itu."

Semua melihat.

Tidak ada yang berbicara.

Darrien menatap bangunan itu.

Dadanya terasa semakin berat.

Shadowcresent.

Akhirnya.

Setelah berhari-hari...

setelah semua perangkap...

setelah semua kegagalan...

mereka benar-benar melihat istana.

Darrien menarik napas panjang.

Fiona.

Ia menutup matanya sesaat.

Wajah Fiona muncul dalam ingatannya.

Tawanya.

Senyumnya.

Cara ia memanggil namanya.

Semua yang mereka lalui.

Semua yang telah hilang.

Tangannya mengepal.

"Fiona..."

Suaranya hampir seperti bisikan.

"Aku datang."

Kali ini tidak ada keraguan.

Tidak ada rasa takut.

Hanya tekad.

Ia melangkah maju.

Yang lain mengikutinya.

Namun tidak seorang pun dari mereka menyadari...

bahwa dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan.

---

Di istana Shadowcresent...

Fiona sedang duduk di taman.

Ia memegang secangkir teh.

Raizen berada di belakangnya.

Lengannya melingkar santai di tubuh Fiona.

Fiona bersandar pada dadanya.

"Cuacanya bagus."

Raizen menatap langit.

"Ya."

"Aneh."

"Apa?"

"Biasanya kau lebih banyak bicara."

Raizen tersenyum.

"Aku sedang menikmati."

Fiona menoleh.

"Menikmati apa?"

Raizen melihatnya.

"Kau."

Fiona tertawa kecil.

"Kau memang semakin pandai merayu."

"Berhasil?"

"Sedikit."

Raizen tersenyum.

Ia kembali menatap taman.

Namun di balik ketenangannya...

ia sudah merasakan mereka.

Veyth.

Sudah melewati batas terakhir.

Sudah mendekati wilayah dalam.

Sudah semakin dekat.

Raizen tidak bergerak.

Tidak memanggil penjaga.

Tidak memberi perintah.

Tidak menghentikan mereka.

Ia hanya terus memeluk Fiona.

Fiona tidak mengetahui apa pun.

Ia bahkan sedang memperhatikan seekor kupu-kupu kecil yang terbang di antara bunga.

"Raizen."

"Hm?"

"Kalau aku punya taman seperti ini di tempat lain..."

Ia berhenti.

"...aku ingin memeliharanya juga."

Raizen tersenyum.

"Kalau begitu kita bisa membuatnya."

Fiona menoleh.

"Kita?"

"Ya."

Fiona tersenyum.

"Baik."

Raizen menatapnya beberapa saat.

Kemudian ia menyandarkan dagunya di atas kepala Fiona.

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun senyum tipis muncul di wajahnya.

Mereka datang.

Akhirnya.

Dan mereka belum tahu...

bahwa pertahanan yang selama ini mereka lawan sudah berhenti.

Bukan karena mereka menang.

Melainkan karena Raizen membiarkan mereka menang.

---

Di pegunungan...

Veyth terus berjalan.

Tidak ada satu pun yang mengetahui apa yang menunggu mereka.

Darrien berada di depan.

Matanya tertuju pada istana.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Ia bisa merasakan sesuatu.

Energi kuno.

Sangat kuat.

Jauh lebih kuat daripada apa pun yang mereka temui selama perjalanan.

Elyon juga merasakannya.

"Berhenti."

Semua berhenti.

Elyon menatap ke depan.

"Ada sesuatu."

Kevin langsung waspada.

"Apa?"

"Resonansi."

Darrien mengangkat kepala.

Ia juga merasakannya.

Bukan sekadar sihir.

Sesuatu yang lebih tua.

Lebih dalam.

Sebuah energi yang terasa seperti bagian dari tanah itu sendiri.

Shadowcresent.

Mereka sudah benar-benar masuk ke wilayahnya.

Darrien menarik napas.

Ia tidak mundur.

"Fiona ada di sana."

Elarion memandangnya.

"Kau yakin?"

Darrien mengangguk.

"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."

Ia menatap istana.

"Tapi aku tahu."

Ia melangkah maju.

"Fiona."

Langkah berikutnya lebih mantap.

"Aku datang."

---

Jauh di dalam istana...

Raizen membuka matanya.

Senyumnya semakin jelas.

Ia bisa merasakan Darrien.

Sangat dekat.

Namun Fiona masih berada dalam pelukannya.

Tenang.

Tidak tahu apa yang akan terjadi.

Raizen menundukkan kepala.

Mencium rambutnya dengan lembut.

Fiona tidak curiga.

Ia hanya bersandar lebih nyaman.

Raizen menatap ke arah pegunungan.

Tatapannya menjadi tajam.

Namun senyumnya tetap ada.

"Datanglah."

Bisikannya hampir tidak terdengar.

"Kalian sudah berjalan sejauh ini."

Ia memeluk Fiona sedikit lebih erat.

"Jadi jangan berhenti sekarang."

Di luar istana...

Darrien terus berjalan.

Di dalam istana...

Raizen menunggu.

Dan di antara mereka...

sebuah pertemuan yang telah tertunda selama berbulan-bulan akhirnya semakin dekat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience