Series
94
BAB 1
DUA ANAK DI BAWAH POHON AKASIA
Di Kerajaan Lunareth, lima bangsa hidup berdampingan—manusia, peri, penyihir, vampir, dan bangsa binatang. Di antara kerajaan-kerajaan besar dan wilayah yang penuh keajaiban, terdapat sebuah kota kecil bernama Akasia.
Kota itu jauh dari kemegahan ibu kota. Pohon-pohon akasia tua tumbuh di sepanjang jalan, menaungi rumah-rumah sederhana dan kehidupan penduduk yang berjalan dengan tenang.
Di pinggir kota berdiri sebuah panti asuhan kecil.
Di sanalah dua anak yatim tumbuh bersama.
Fiona baru berusia lima tahun. Gadis kecil itu memiliki rambut keemasan dan wajah lembut yang selalu berusaha tersenyum, meskipun ia sendiri tidak tahu seperti apa wajah orang tuanya.
Darrien berusia tujuh tahun.
Ia lebih pendiam daripada anak-anak lainnya, dengan tatapan tajam yang sering membuat orang enggan mendekatinya. Namun bagi Fiona, Darrien adalah orang yang selalu berada di sisinya.
Sore itu, Fiona duduk sendirian di bawah pohon akasia terbesar di halaman panti.
Beberapa anak dari panti tadi mengejeknya karena ia tidak berani melawan. Fiona memeluk lututnya erat-erat, berusaha menahan air mata.
Kemudian terdengar langkah kaki.
Fiona tidak perlu menoleh.
“Sudah pergi.”
Darrien duduk di sampingnya.
Ia tidak banyak bertanya. Hanya duduk di sana, membiarkan Fiona tahu bahwa ia tidak sendirian.
“Darrien…”
“Hm?”
“Kau tidak akan meninggalkanku, kan?”
Darrien menoleh.
Ia kemudian mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kecil Fiona.
“Aku tidak akan pergi.”
Fiona menatapnya.
“Benarkah?”
“Benar.”
Darrien terdiam sejenak sebelum berkata,
“Kita mungkin tidak punya keluarga. Kita juga tidak punya banyak hal.”
Ia menggenggam tangan Fiona sedikit lebih erat.
“Tapi kita masih punya satu sama lain.”
Senyum perlahan muncul di wajah Fiona.
“Kalau begitu… kita akan selalu bersama?”
Darrien mengangguk.
“Selalu.”
Fiona menyandarkan kepalanya di bahu Darrien.
Mereka duduk dalam diam di bawah pohon akasia, menikmati angin sore yang bergerak lembut di antara dedaunan.
Untuk dua anak kecil itu, dunia terasa sederhana.
Mereka tidak memiliki banyak hal.
Tidak memiliki keluarga untuk dipanggil pulang.
Tetapi selama mereka masih bersama, itu sudah cukup.
Lalu, tanpa mereka sadari, daun-daun di atas kepala mereka bergerak perlahan.
Tidak ada angin.
Di antara ranting-ranting tua, sebuah cahaya keemasan yang sangat samar muncul sesaat, mengalir seperti kilau kecil di sepanjang batang pohon.
Kemudian cahaya itu menghilang.
Fiona dan Darrien tidak melihatnya.
Mereka hanya tetap duduk berdampingan, dengan tangan yang masih saling menggenggam.
Dan sore itu berlalu seperti hari-hari biasa lainnya di Akasia.
Share this novel