320. Kepulangan

Romance Series 382

BAB 320 — KEPULANGAN

Simbol Silver Leaf masih bersinar di bawah kaki Fiona.

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Tidak ada seorang pun yang berani berbicara.

Fiona sendiri masih berdiri di tengah lingkaran sihir.

Tatapannya perlahan berubah.

Seolah-olah—

sesuatu yang selama ini jauh di dalam dirinya akhirnya menemukan tempatnya.

Ia melangkah maju.

Satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Hingga akhirnya—

tangannya terangkat.

Ujung jarinya menyentuh permukaan kristal utama.

Begitu kulitnya menyentuh kristal—

seluruh Crystal Hall terdiam.

Tidak ada lagi suara detak.

Tidak ada lagi getaran.

Fiona menatap kristal itu.

Ekspresinya lembut.

Dan kemudian—

ia berbicara.

“Aku minta maaf karena membuatmu menunggu begitu lama.”

Semua orang terdiam.

Fiona tersenyum tipis.

“Sekarang aku sudah kembali.”

Tidak ada yang memahami kata-kata itu.

Darrien menatap Fiona dengan penuh kebingungan.

Elyon juga tidak berkata apa-apa.

Elarion memperhatikan setiap perubahan energi.

Sylvester bahkan tidak berkedip.

Ace, Rowan, dan Kevin hanya saling bertukar pandang.

Namun tidak seorang pun mengganggunya.

Karena untuk beberapa alasan—

mereka semua merasa bahwa Fiona sedang berbicara kepada sesuatu yang jauh lebih tua daripada mereka.

Fiona kembali menyentuh permukaan kristal.

“Kau sudah menungguku cukup lama.”

Ia menarik napas.

“Kau boleh beristirahat sekarang.”

***

Untuk beberapa detik—

tidak terjadi apa-apa.

Kemudian—

**WHOOM!**

Lingkaran sihir di bawah kaki Fiona tiba-tiba menyala jauh lebih terang.

Cahayanya menyebar ke seluruh lantai.

Kemudian naik ke dinding.

Kristal-kristal di sekeliling ruangan ikut menyala.

**WHOOOOM!**

“Tutupi mata kalian!”

Elyon langsung mengangkat lengannya.

Semua mengikuti.

Cahaya itu terlalu terang.

Bahkan Sylvester harus memalingkan wajah.

Darrien langsung bergerak mendekati Fiona.

“Fiona!”

Namun cahaya semakin kuat.

Ia tidak bisa melihat apa pun.

Hanya putih.

Putih yang memenuhi seluruh ruangan.

Kemudian—

perlahan—

cahaya mulai meredup.

Satu demi satu.

***

Crystal Hall kembali tenang.

Elyon perlahan menurunkan tangannya.

“…”

Elarion membuka matanya.

Ace menatap sekeliling.

Rowan terdiam.

Kevin mengamati ruangan.

Sylvester langsung melihat ke arah tengah Crystal Hall.

Dan—

Fiona masih berdiri di sana.

Tidak terluka.

Tidak jatuh.

Tidak berubah.

Ia hanya berdiri dengan tenang.

Darrien segera menghampirinya.

“Fiona.”

Fiona menoleh.

“Ya?”

“Kau baik-baik saja?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Darrien menghela napas lega.

Kemudian matanya tertuju kepada telinga Fiona.

Ia membeku.

“…”

Elyon juga menyadarinya.

Elarion ikut melihat.

Sylvester perlahan melangkah mendekat.

Di telinga Fiona—

terdapat sepasang anting-anting.

Bentuknya sederhana.

Namun sangat familiar.

**Silver Leaf.**

Dua daun perak kecil menggantung dengan tenang di kedua telinganya.

Ace membuka mulut.

“Bukankah…”

Rowan menyelesaikan kalimatnya.

“…tadi itu kristal?”

Tidak ada jawaban.

Semua menatap tempat kristal utama sebelumnya berada.

Kosong.

Tidak ada lagi kristal besar.

Tidak ada lagi sumber cahaya.

Hanya lantai yang masih menyimpan sisa-sisa energi.

Elyon menatap Fiona.

“Kapan…”

Ia berhenti.

Ia sendiri tidak tahu harus bertanya apa.

Fiona menyentuh salah satu antingnya.

Ia juga terlihat sedikit terkejut.

“Ini…”

Ia menyentuhnya sekali lagi.

“Sepertinya baru muncul.”

Elarion mendekat.

Ia memperhatikan anting tersebut tanpa menyentuhnya.

“Energinya…”

Ia terdiam.

“Berbeda.”

Elyon mengangguk.

“Jauh berbeda.”

Sylvester menatap Fiona.

Kemudian melihat Crystal Hall.

Ia masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Namun satu hal jelas.

Kristal yang selama ini berada di tengah Crystal Hall—

telah menghilang.

Dan sekarang—

ada sepasang Silver Leaf di telinga Fiona.

***

Darrien berdiri di samping Fiona.

Ia masih memandang anting-anting tersebut.

“Kau yakin tidak sakit?”

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

“Pusing?”

“Tidak.”

“Merasa aneh?”

Fiona berpikir sebentar.

“Tidak juga.”

Darrien mengangguk.

“Bagus.”

Fiona menatapnya.

“Kau khawatir?”

“Ya.”

Fiona tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

Darrien menghela napas.

“Jangan membuatku khawatir seperti ini lagi.”

Fiona tertawa kecil.

“Aku akan mencoba.”

***

Ace masih menatap tempat kristal tadi.

“Jadi…”

Ia menunjuk telinga Fiona.

“…kita datang ke sini untuk melihat kristal.”

Ia menunjuk Fiona.

“Dan sekarang kristalnya menjadi anting-anting?”

Rowan mengangguk.

“Kurang lebih.”

Ace menggaruk kepalanya.

“Masuk akal.”

Kevin menoleh kepadanya.

“Bagian mana yang masuk akal?”

Ace terdiam.

“…Tidak ada.”

Rowan tertawa.

Bahkan Elarion tersenyum tipis.

Ketegangan di ruangan perlahan mencair.

Namun Elyon masih belum mengalihkan pandangan dari Fiona.

Ia tahu—

ada sesuatu yang sangat besar baru saja terjadi.

Tetapi ia juga tahu—

belum waktunya memaksakan jawaban.

***

Fiona menoleh sekali lagi kepada tempat kristal itu berada.

Tidak ada rasa kehilangan.

Justru—

ada rasa tenang.

Seolah-olah sesuatu yang telah lama menunggu akhirnya selesai menjalankan tugasnya.

Ia menyentuh anting Silver Leaf di telinganya.

Kemudian tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

Tidak ada jawaban.

Crystal Hall tetap diam.

Tidak ada lagi detak.

Tidak ada lagi cahaya.

Hanya ketenangan.

Seolah-olah setelah menunggu selama waktu yang sangat panjang—

akhirnya ia bisa beristirahat.

Dan Fiona—

melangkah kembali menuju Darrien.

Tanpa menjelaskan apa pun.

Tanpa mengungkapkan rahasia apa pun.

Sementara di belakangnya—

semua orang masih berdiri dalam kebingungan.

Mereka belum mengetahui siapa Fiona sebenarnya.

Belum mengetahui arti Silver Leaf.

Belum mengetahui mengapa Crystal Hall memilihnya.

Namun satu hal telah berubah.

Mulai hari itu—

Fiona tidak lagi hanya mengenakan kalung dan gelang Silver Leaf.

Kini—

**sepasang anting Silver Leaf juga menjadi bagian dari dirinya.**

Dan tak seorang pun tahu—

bahwa itu adalah simbol yang telah menemaninya jauh sebelum kehidupan mereka yang sekarang dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience