Series
382
BAB 242
Sore mulai turun ketika Darrien akhirnya meninggalkan battlefield.
Enam hari.
Enam hari penuh latihan.
Dan untuk pertama kalinya—
tidak ada suara Kevin yang memanggilnya kembali ke arena.
Darrien berjalan dengan langkah yang jauh lebih santai.
Fiona berada di sampingnya.
Ace dan Rowan mengikuti dari belakang.
Sementara Elarion berjalan sambil membaca beberapa catatan yang baru saja ia bawa dari perpustakaan.
Fiona meliriknya.
“Kau masih membaca?”
Elarion bahkan tidak mengangkat kepala.
“Mm.”
“Bukankah kau bisa istirahat?”
“Aku sedang memikirkan simbol itu.”
Fiona menghela napas.
“Bahkan setelah aku bangun, kau masih memikirkannya.”
Elarion akhirnya menutup bukunya.
“Justru karena kau sudah bangun.”
Fiona mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Sekarang aku bisa bertanya langsung kepadamu.”
Darrien tertawa kecil.
“Kasihan Fiona.”
Fiona langsung menatapnya.
“Kenapa kasihan?”
“Karena Elarion sudah menemukan target baru.”
Elarion mengangkat alis.
“Aku hanya mencari jawaban.”
Fiona menghela napas.
“Dan aku korbannya.”
Mereka terus berjalan.
Namun ketika sampai di dekat kamar Darrien—
mereka berhenti.
Beberapa pelayan sudah berdiri di koridor.
Dan di belakang mereka—
ada beberapa kotak pakaian.
Bukan satu.
Bukan dua.
Tapi cukup banyak hingga Fiona langsung mengerutkan kening.
“Apa itu?”
Darrien juga berhenti.
Ia menatap kotak-kotak tersebut.
Kemudian melihat pelayan.
Belum sempat bertanya—
pintu terbuka.
Gloria Veyth keluar.
Sang Ratu langsung tersenyum ketika melihat mereka.
“Ah.”
Tatapannya berhenti pada Darrien.
Kemudian pada Fiona.
Lalu—
Elarion.
Gloria tersenyum semakin lebar.
“Kalian semua akhirnya datang.”
Darrien langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Ibu…”
“Ya?”
“Apa yang terjadi?”
Gloria menunjuk kotak-kotak itu.
“Persiapan untuk besok.”
Darrien menghela napas.
“Besok…”
“Upacara.”
“Benar.”
Gloria mengangguk.
“Dan kau masih belum mencoba pakaianmu.”
Darrien terdiam.
Fiona menoleh kepadanya.
Darrien menggaruk belakang kepalanya.
“…”
Gloria mengangkat alis.
“Jangan bilang kau lupa.”
“Bukan lupa.”
“Lalu?”
Darrien berpikir.
“Tidak sempat?”
Gloria menatapnya.
Darrien langsung tahu jawabannya.
“…Baiklah. Aku lupa.”
Fiona menahan tawa.
Ace juga.
Rowan memalingkan wajah.
Elarion bahkan menutup mulut dengan tangan.
Darrien menatap mereka semua.
“Kenapa kalian tertawa?”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
Ace menjawab,
“Tidak sama sekali.”
Rowan mengangguk.
“Benar.”
Elarion berkata tenang,
“Mereka hanya menghargai situasi.”
Darrien menatapnya.
“Kau juga tertawa.”
Elarion segera memasang wajah serius.
“Tidak.”
Fiona akhirnya tidak mampu menahan tawanya.
Gloria ikut tertawa kecil.
“Sudahlah.”
Ia menunjuk kotak pertama.
“Pakaianmu sudah dipersiapkan sejak minggu lalu.”
Darrien mengangkat alis.
“Seminggu?”
“Ya.”
“Kenapa baru sekarang?”
Gloria menatapnya seolah jawabannya sangat jelas.
“Karena selama enam hari terakhir kau hampir selalu berada di battlefield.”
Darrien terdiam.
“…”
Gloria melanjutkan,
“Pagi latihan.”
“Siang latihan.”
“Sore latihan.”
“Dan ketika kami ingin mencarimu…”
Ia melirik Fiona.
“…kau sedang bersama Kevin.”
Fiona langsung tertawa.
“Benar.”
Darrien menghela napas.
“Kevin lagi.”
Gloria tersenyum.
“Untungnya hari ini hari terakhir.”
Darrien mengangguk lega.
“Ya.”
“Dan karena besok upacara…”
Gloria menepuk salah satu kotak.
“…hari ini adalah kesempatan terakhir.”
***
Gloria kemudian menoleh kepada Fiona.
“Dan bukan hanya Darrien.”
Fiona menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Ya.”
Fiona melihat kotak-kotak lain.
Gloria tersenyum.
“Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu juga.”
Fiona membelalakkan mata.
“Untukku?”
“Mm.”
“Kenapa?”
“Karena kau akan hadir dalam upacara.”
Fiona terdiam.
Ia memang tahu dirinya akan menghadiri acara tersebut.
Namun ia tidak menyangka sang Ratu sudah mempersiapkan pakaian untuknya.
Gloria membuka salah satu kotak.
Fiona mendekat.
Di dalamnya terdapat pakaian formal dengan desain elegan.
Tidak terlalu berat.
Tidak terlalu mencolok.
Namun tetap terlihat pantas untuk berada di lingkungan kerajaan.
Fiona menyentuh kainnya perlahan.
“Ini…”
Gloria tersenyum.
“Aku memilihnya dengan hati-hati.”
Fiona menatapnya.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu.”
Gloria mengambil satu bagian pakaian.
“Coba.”
Fiona langsung menghela napas.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Darrien tersenyum.
“Selamat.”
Fiona menoleh.
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Kau tersenyum.”
“Sedikit.”
Fiona mendengus.
“Pengkhianat.”
***
Namun Gloria belum selesai.
Ia menoleh kepada Elarion.
“Dan untukmu juga.”
Elarion yang sejak tadi berdiri tenang langsung mengangkat alis.
“Untukku?”
Gloria mengangguk.
“Ya.”
Elarion melihat kotak terakhir yang belum dibuka.
“Yang Mulia, saya…”
“Tidak.”
Gloria langsung memotong.
Elarion terdiam.
Gloria tersenyum.
“Kau juga akan menghadiri upacara.”
“Ya.”
“Dan kau tidak akan datang dengan pakaian penelitianmu.”
Elarion melihat pakaiannya sendiri.
Ia memakai pakaian yang memang lebih cocok untuk bepergian dan penelitian.
Ia kemudian melihat kotak tersebut.
“…”
Darrien tertawa kecil.
“Selamat.”
Elarion menoleh.
“Jangan.”
Fiona ikut tertawa.
“Sekarang kau mengerti.”
Elarion menghela napas.
“Aku lebih suka membaca buku.”
Gloria tertawa.
“Buku bisa menunggu.”
Ia menunjuk kotak.
“Pakaian tidak.”
Elarion menyerah.
“Baiklah.”
***
Beberapa pelayan mulai membawa pakaian ke dalam ruangan.
Gloria mengatur semuanya.
“Darrien terlebih dahulu.”
Darrien mengambil pakaian formalnya.
Ia menatap Fiona.
“Wish me luck.”
Fiona tersenyum.
“Semoga selamat.”
Darrien menatapnya.
“Dari pakaian?”
Fiona tertawa.
“Siapa tahu.”
Darrien masuk ke kamar.
***
Beberapa menit kemudian—
pintu terbuka.
Darrien keluar.
Semua orang terdiam.
Pakaian formal itu benar-benar mengubah penampilannya.
Warna gelap mendominasi bagian utama pakaian.
Detail halus berwarna perak menghiasi bagian bahu dan dada.
Lambang Veyth terlihat jelas namun tidak berlebihan.
Jubah panjang jatuh dengan rapi di belakangnya.
Rambutnya juga sudah dirapikan.
Untuk sesaat—
tidak ada yang melihat seorang pemuda yang setiap hari berada di battlefield.
Yang terlihat sekarang—
adalah seorang pewaris kerajaan.
Gloria tersenyum puas.
“Bagus.”
Ia berjalan mendekat.
Namun setelah beberapa detik—
alisnya sedikit berkerut.
“Bahunya.”
Penjahit segera mendekat.
“Sedikit longgar?”
“Ya.”
Penjahit mencatat.
“Bagian ini bisa diperbaiki.”
Darrien melihat pakaiannya.
“Selain itu?”
Gloria memeriksa lengan.
“Panjang lengan bagus.”
Kemudian bagian pinggang.
“Sedikit perlu disesuaikan.”
Penjahit mengangguk.
“Bisa selesai malam ini.”
Gloria mengangguk puas.
Darrien menghela napas lega.
“Untung kita mencobanya sekarang.”
Gloria menatapnya.
“Itulah sebabnya aku sudah meminta sejak minggu lalu.”
Darrien diam.
Fiona tertawa kecil.
***
Kemudian—
giliran Fiona.
Ia masuk ke kamar membawa pakaian yang sudah dipilih.
Beberapa saat kemudian—
pintu terbuka.
Fiona keluar.
Darrien langsung menoleh.
Ia terdiam.
Fiona berhenti.
“Kenapa?”
Darrien tidak langsung menjawab.
Fiona menunduk melihat pakaiannya sendiri.
“Ada yang aneh?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Darrien tersenyum.
“Bagus.”
Fiona sedikit memerah.
“Benarkah?”
“Ya.”
Gloria tersenyum puas.
“Bagian bahu bagus.”
Penjahit memeriksa panjang pakaian.
“Sedikit perlu dipendekkan.”
Fiona mengangguk.
“Baik.”
Gloria kemudian memperhatikan rambut Fiona.
“Besok kita tata sedikit.”
Fiona mengangguk.
“Baik.”
Darrien masih melihatnya.
Fiona akhirnya menyadari.
“Kau masih melihatku.”
Darrien berkedip.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Fiona memicingkan mata.
“Kau terlihat aneh.”
Darrien tersenyum.
“Aku hanya belum pernah melihatmu mengenakan pakaian seperti itu.”
Fiona menunduk sedikit.
“Bagus atau tidak?”
“Bagus.”
Jawabannya terlalu cepat.
Fiona langsung tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Gloria melihat mereka.
Namun ia hanya tersenyum diam-diam.
***
Kemudian—
Elarion masuk.
Beberapa saat kemudian ia keluar.
Dan kali ini—
Ace langsung bersiul kecil.
“Wah.”
Elarion menatapnya.
“Apa?”
“Tidak buruk.”
Rowan mengangguk.
“Lebih cocok daripada pakaian penelitian.”
Elarion melihat dirinya sendiri.
Pakaian formalnya sederhana.
Tidak berlebihan.
Namun tetap memiliki aura seorang bangsawan atau tokoh penting.
Elarion menghela napas.
“Ini terlalu nyaman.”
Fiona tertawa.
“Kau bahkan belum terbiasa?”
“Tidak.”
Darrien tersenyum.
“Besok kau harus membiasakan diri.”
Elarion menatapnya.
“Kau juga.”
Darrien terdiam.
Kemudian—
keduanya saling pandang.
Fiona tertawa.
“Sekarang kalian berdua terlihat seperti orang kerajaan.”
Elarion menjawab,
“Dan kau?”
Fiona berpikir.
“…”
“Sepertinya aku juga.”
Darrien tertawa.
***
Gloria kemudian melihat mereka bertiga.
Darrien.
Fiona.
Elarion.
Ketiganya sekarang sudah mengenakan pakaian yang dipersiapkan untuk upacara.
Untuk sesaat—
ia merasa lega.
Besok tidak akan ada lagi latihan.
Tidak ada battlefield.
Tidak ada Kevin.
Tidak ada pakaian yang belum dicoba.
Semuanya sudah siap.
Gloria menatap penjahit.
“Pastikan semua perubahan selesai malam ini.”
Penjahit mengangguk.
“Ya, Yang Mulia.”
Gloria kemudian menatap ketiga orang itu.
“Besok kalian harus siap sejak pagi.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Fiona mengangguk.
“Baik.”
Elarion juga.
“Baik.”
Gloria tersenyum.
“Bagus.”
Ia kemudian berjalan pergi.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan mereka—
ia menoleh.
“Dan Darrien.”
“Ya?”
“Jangan latihan lagi malam ini.”
Darrien terdiam.
Ace langsung tertawa.
Rowan ikut.
Fiona menatapnya.
“Dengar itu.”
Darrien menghela napas.
“Baik.”
Gloria tersenyum puas.
“Bagus.”
Ia pergi.
Darrien melihat punggung ibunya.
Kemudian menghela napas lega.
“Setidaknya besok…”
Fiona menatapnya.
“Tidak ada Kevin.”
Darrien tersenyum.
“Tidak ada Kevin.”
Elarion menambahkan,
“Jangan terlalu yakin.”
Darrien langsung menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Elarion tersenyum kecil.
“Dia mengatakan akan tetap mengawasimu.”
Darrien terdiam.
Fiona tertawa.
Ace dan Rowan ikut tertawa.
Dan untuk pertama kalinya setelah enam hari—
mereka semua bisa benar-benar menikmati sore tanpa harus memikirkan battlefield.
Namun di balik persiapan sederhana untuk sebuah upacara—
beberapa kerajaan sudah mulai bergerak.
Para tamu mulai berdatangan.
Dan jauh di Lunaris—
sebuah Crystal masih menunggu.
Besok—
hari ketujuh akan tiba.
Hari ketika pewaris Veyth berdiri di hadapan dunia.
Dan tanpa mereka sadari—
hari itu mungkin juga menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Share this novel