Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 470 — KEKUATAN YANG MULAI TERKENDALI
Pagi datang di Veyth.
Kabut tipis masih menggantung di atas halaman pelatihan ketika suara benturan terdengar dari dalam salah satu area yang telah dilindungi penghalang sihir.
BAM!
Sebuah tubuh bayangan terlempar beberapa meter.
Namun sebelum menyentuh tanah—
Darrien sudah berada di belakangnya.
Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan tipis.
Tangannya terangkat.
Tidak ada mantra panjang.
Tidak ada teriakan.
Hanya satu gerakan sederhana.
DUARR!
Sihir menghantam tubuh boneka latihan.
Boneka itu kembali terpental.
Darrien berhenti.
Napasnya terdengar berat.
Namun kali ini...
ia tidak kehilangan kendali.
Tidak ada ledakan aura yang menyebar liar.
Tidak ada energi yang menghantam penghalang tanpa arah.
Aura gelap di sekitar tubuhnya justru bergerak mengikuti setiap tarikan napas.
Perlahan.
Teratur.
Seolah-olah energi itu bukan sesuatu yang sedang ia kendalikan.
Melainkan bagian dari dirinya sendiri.
Darrien mengepalkan tangannya.
Perasaan tidak nyaman yang muncul tadi malam masih ada.
Perasaan samar seperti seseorang memanggilnya.
Ia tidak tahu apa penyebabnya.
Dan semakin ia mencoba mengabaikannya...
semakin pikirannya kembali kepada satu nama.
Fiona.
Darrien menarik napas panjang.
Kemudian membuka matanya.
"Kalau begitu..."
Ia menatap boneka latihan di depannya.
"...aku akan membuat tubuhku lebih kuat."
BAM!
Ia menghilang.
Boneka itu baru saja bergerak ketika Darrien muncul di sampingnya.
Serangan pertama.
Kedua.
Ketiga.
Keempat.
Kecepatan gerakannya meningkat.
Satu langkah.
Kemudian dua.
Tubuhnya bergerak semakin ringan.
Aura yang biasanya meledak ketika emosinya naik sekarang tetap rapat di sekitar tubuhnya.
Darrien berhenti.
Tangannya sedikit terangkat.
Ia tidak mengucapkan mantra dengan suara keras.
Hanya bibirnya yang bergerak.
Satu rangkaian mantra pendek.
Sihir langsung terbentuk.
Cepat.
Jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Darrien bahkan sempat mengangkat alis.
"...Lebih cepat."
Ia mencoba lagi.
Mantra pendek.
Sihir terbentuk.
Lebih cepat.
Sekali lagi.
Kali ini hampir tanpa jeda.
Silent chant.
Kemampuan yang sebelumnya membutuhkan konsentrasi lebih lama kini mulai menjadi sesuatu yang alami baginya.
Darrien tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Lebih seperti seseorang yang baru menyadari bahwa usahanya akhirnya mulai menghasilkan sesuatu.
"Jadi begini rasanya..."
Ia merasakan aliran magicure di dalam tubuhnya.
Tidak lagi berputar liar.
Tidak lagi menekan tubuhnya dari dalam.
Energinya menjadi lebih padat.
Lebih stabil.
Lebih tenang.
Dan justru karena itulah—
lebih kuat.
Darrien kembali menyerang.
Kali ini gerakannya jauh lebih cepat.
Satu pukulan.
Satu tendangan.
Satu tebasan energi.
Kemudian ia menghilang dari depan boneka.
Muncul di belakang.
Menghantam.
Boneka itu retak.
Darrien berhenti.
Debu beterbangan di sekitarnya.
Ia menatap tangannya sendiri.
"Masih belum cukup."
Ia tahu.
Seberapa jauh pun perkembangannya—
kekuatan itu masih belum sebanding dengan Raizen.
Pertarungan terakhir telah menunjukkan perbedaannya dengan sangat jelas.
Raizen masih berada jauh di atasnya.
Namun...
Darrien tidak lagi melihat perbedaan itu sebagai alasan untuk berhenti.
Ia melihatnya sebagai jarak yang harus dikejar.
Di luar penghalang—
Kevin berdiri dengan kedua tangan terlipat.
Sejak tadi ia memperhatikan semuanya.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan Darrien.
Kecepatan.
Pola serangan.
Penggunaan magicure.
Pengendalian aura.
Semuanya berbeda.
Kevin menyipitkan mata.
"Menarik..."
Darrien kembali bergerak.
Namun kali ini Kevin justru tidak melihat serangannya terlebih dahulu.
Ia memperhatikan auranya.
Energi yang mengelilingi Darrien tidak lagi terasa seperti sesuatu yang terpisah.
Aura itu menempel pada tubuhnya.
Mengikuti setiap gerakan.
Tidak bocor.
Tidak meledak.
Tidak meluap.
Kevin tersenyum kecil.
Senyum yang perlahan berubah menjadi senyum penuh arti.
"Jadi akhirnya..."
Ia mengusap dagunya.
"Dia mulai memahami magicure-nya sendiri."
Di dalam penghalang—
Darrien berhenti.
Ia memejamkan mata.
Menarik napas.
Kemudian perlahan mengeluarkannya.
Aura di tubuhnya semakin padat.
Namun tetap stabil.
Kevin semakin yakin.
"Kalau dia terus seperti ini..."
Ia menyeringai.
"...sepertinya dia akan naik ke tingkat Grandmaster."
Kevin menatap Darrien beberapa detik.
"Mungkin tidak lama lagi."
Sementara itu—
di ruangan penelitian utama Veyth...
suasana tidak kalah sibuk.
Rowan membuka beberapa peta kuno.
Elarion menandai jalur yang sebelumnya mereka gunakan.
Elyon membandingkan catatan tentang resonansi ruang dengan struktur pegunungan Shadowcresent.
Ace berdiri di depan meja sambil memandangi beberapa peta.
"Jadi..."
Ia menunjuk satu jalur.
"Kalau kita tidak menggunakan jalan ini?"
Rowan menggeleng.
"Sudah dicoba."
Ace menunjuk jalur lain.
"Yang ini?"
"Juga dicoba."
"Yang ini?"
"Belum."
Ace langsung tersenyum.
"Nah! Akhirnya ada satu!"
Elarion menatapnya.
"Belum tentu bagus."
Senyum Ace langsung menghilang.
"...Kenapa kalian selalu menghancurkan harapanku?"
Elyon terkekeh kecil.
"Kita hanya mencari jalan baru."
Kevin tidak berada di sana untuk membantu penelitian.
Namun pekerjaannya di area latihan tetap memberikan satu perkembangan penting.
Darrien.
Mereka masih belum menemukan cara untuk memasuki pusat Shadowcresent.
Belum menemukan jalan yang benar.
Belum memahami seluruh sistem ruang kuno yang melindungi kerajaan itu.
Tetapi setidaknya...
mereka mulai mendapatkan sesuatu.
Satu demi satu.
Sedikit demi sedikit.
Di halaman pelatihan, Darrien kembali berdiri di depan boneka latihan.
Tatapannya tenang.
Tangannya mengepal.
Ia mengingat wajah Fiona.
Kemudian ia mengingat tatapan Raizen.
Darrien membuka matanya.
"Aku akan menjadi lebih kuat."
Aura gelap kembali mengalir di sekeliling tubuhnya.
Kali ini—
tidak liar.
Tidak meledak.
Tidak kehilangan arah.
Ia bergerak seperti bagian dari dirinya sendiri.
Dan Darrien melangkah maju.
BAM!
Latihan kembali dimulai.
Sementara di ruangan penelitian—
Veyth terus mencari jalan baru menuju Shadowcresent.
Mereka belum tahu kapan akan berhasil.
Namun seperti Darrien...
mereka juga tidak berniat berhenti.
