277. Elf-elf Yang Mengingatkan Mimpi

Romance Series 390

BAB 277 — ELf-ELF YANG MENGINGATKAN MIMPI

Hari perlahan bergerak menuju sore.

Setelah berkeliling taman hampir sepanjang hari, Fiona akhirnya mulai merasa lelah.

Namun—

wajahnya masih menunjukkan kepuasan.

Ia bahkan beberapa kali berhenti hanya untuk melihat para elf kecil yang beterbangan di antara bunga.

Beberapa dari mereka sudah terlihat cukup akrab dengannya.

Salah satu bahkan sempat duduk di atas bahunya.

Fiona tertawa kecil ketika makhluk mungil itu dengan santainya merapikan rambutnya.

“Sepertinya dia sudah menganggapmu bagian dari taman.”

Darrien yang berdiri di sampingnya tersenyum.

“Padahal baru bertemu hari ini.”

Fiona mengangkat bahu.

“Mungkin aku memang mudah disukai.”

Ace langsung tertawa.

“Percaya diri sekali.”

Fiona menoleh.

“Memangnya salah?”

“Tidak.”

Rowan ikut menyela.

“Setidaknya elf-elf itu tidak membantah.”

Fiona mendengus.

***

Seraphine yang sejak pagi menemani mereka akhirnya melihat ke arah langit.

Matahari mulai bergerak turun.

“Aku harus kembali ke bagian utama istana.”

Fiona menoleh.

“Sekarang?”

Seraphine mengangguk.

“Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan.”

Kemudian ia tersenyum.

“Kalian bisa tetap berada di taman jika mau.”

Fiona langsung mengangguk.

“Kami akan baik-baik saja.”

Seraphine menatap Darrien.

“Jaga dia.”

Darrien mengangguk.

“Tentu.”

Fiona langsung memprotes.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Seraphine tertawa.

“Aku tahu.”

Ia kemudian menatap semuanya.

“Anggap saja taman ini milik kalian untuk sore ini.”

Setelah berpamitan—

Seraphine akhirnya pergi bersama beberapa pelayan.

Taman pun terasa jauh lebih santai.

***

Fiona berjalan perlahan di sepanjang jalan setapak.

Tidak ada tujuan tertentu.

Ia hanya menikmati suasana.

Darrien berjalan di sampingnya.

Ace dan Rowan berada sedikit di belakang.

Elarion duduk di salah satu bangku taman sambil membawa buku.

Kevin memilih tempat yang agak teduh.

Sementara Elyon dan Sylvester berada tidak jauh dari sana.

Beberapa elf kecil kembali beterbangan di atas bunga.

Fiona menatap mereka.

Kemudian—

langkahnya berhenti.

Ia teringat sesuatu.

Dua sosok kecil.

Dua elf.

Dari mimpinya.

Fiona mengerutkan kening.

“…”

Darrien menoleh.

“Kenapa?”

Fiona masih memandangi elf-elf kecil itu.

“Tidak ada.”

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Cuma teringat sesuatu.”

“Apa?”

Fiona menggeleng.

“Mimpi.”

Darrien sedikit terdiam.

Namun Fiona segera menambahkan,

“Bukan mimpi buruk.”

Darrien mengangguk.

“Baik.”

Fiona kemudian melihat lagi para elf.

“Di mimpiku…”

Ia berhenti sebentar.

“…aku pernah melihat dua elf.”

Darrien mengangkat alis.

“Dua elf?”

“Mm.”

Fiona mengangguk.

“Mereka kecil juga.”

Ia kemudian memperhatikan dua elf yang sedang terbang bersebelahan di atas bunga.

Fiona menunjuk mereka.

“Seperti itu.”

Darrien melihat ke arah yang ditunjuk.

Dua elf kecil memang sedang terbang bersama.

Salah satunya membawa kelopak bunga.

Yang lainnya mencoba merebutnya.

Fiona tertawa.

“Lucu.”

Darrien tersenyum.

“Jadi kau memimpikan elf?”

“Sepertinya.”

“Apakah mereka melakukan sesuatu?”

Fiona berpikir.

“Tidak terlalu ingat.”

Kemudian ia mengerutkan kening.

“Mereka hanya…”

Ia mencoba mengingat.

“…seperti sedang menemaniku.”

Darrien memandangnya.

“Menemanimu?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Kemudian ia tertawa kecil.

“Mungkin aku terlalu banyak melihat buku dongeng.”

Darrien ikut tertawa.

“Mungkin.”

Fiona mengamati kedua elf tersebut lagi.

Salah satu elf tiba-tiba terbang turun dan mengambil sebuah kelopak bunga.

Kemudian ia melemparkannya ke temannya.

Temannya membalas.

Keduanya mulai saling mengejar.

Fiona langsung tertawa.

“Kalau elf di mimpiku seperti mereka…”

Ia menutup mulutnya sambil tertawa.

“…mungkin mereka juga cuma sibuk bermain.”

Darrien mengangguk.

“Bisa jadi.”

***

Tidak jauh dari sana—

Elarion sempat mengangkat pandangan dari bukunya.

Ia mendengar percakapan mereka.

Namun tidak ikut campur.

Hanya memandang Fiona beberapa detik.

Kemudian kembali ke bukunya.

Sementara Elyon—

yang kebetulan mendengar kata “mimpi”—

menoleh sebentar.

Tatapannya berpindah dari Fiona ke dua elf kecil tersebut.

Namun ia tidak mengatakan apa pun.

***

Fiona kemudian duduk di bawah sebuah pohon.

Darrien duduk di dekatnya.

Angin sore bertiup perlahan.

Beberapa kelopak bunga terbang melewati mereka.

Fiona menatap langit.

“Kalau dipikir-pikir…”

“Apa?”

“Mimpi itu aneh.”

Darrien tersenyum.

“Mimpi memang biasanya aneh.”

Fiona mengangguk.

“Benar.”

Ia kemudian tersenyum lagi.

“Setidaknya sekarang aku melihat elf sungguhan.”

Darrien tertawa.

“Jadi kau puas?”

“Mm.”

Fiona melihat elf kecil yang sedang terbang di atas kepalanya.

“Lumayan.”

Salah satu elf tiba-tiba turun.

Ia mendarat di kepala Darrien.

Darrien membeku.

Fiona menatapnya.

Kemudian—

tertawa keras.

“HAHAHA!”

Darrien mengangkat tangannya perlahan.

Elf kecil itu masih duduk di atas rambutnya.

“Kenapa dia memilih kepalaku?”

Fiona tertawa semakin keras.

“Mungkin dia menyukaimu.”

Darrien menatap elf tersebut.

“Turun.”

Elf itu tidak bergerak.

Fiona sudah hampir menangis karena tertawa.

“Dia tidak mau.”

Darrien menghela napas.

“Bahkan elf kecil di sini tidak menghormatiku.”

Ace dari belakang langsung tertawa.

“Karena kau terlalu serius.”

Rowan mengangguk.

“Mungkin dia hanya ingin tahu apakah rambutmu nyaman.”

Darrien menatap mereka.

“Kalian berdua diam.”

Elf kecil itu kemudian terbang dari kepala Darrien.

Namun bukannya pergi—

ia justru mendarat di bahu Fiona.

Fiona tersenyum.

“Lihat?”

Darrien menggeleng.

“Dia memilihmu.”

Fiona tersenyum puas.

“Karena aku lebih menyenangkan.”

***

Sore terus berjalan.

Mereka menghabiskan sisa waktu di taman dengan santai.

Tidak ada tujuan.

Tidak ada jadwal.

Tidak ada pembicaraan berat.

Hanya menikmati suasana Lunaris.

Dan bagi Fiona—

kehadiran para elf kecil membuat satu hal terasa lucu.

Dua elf dalam mimpinya.

Dan dua elf di taman.

Mungkin hanya kebetulan.

Tidak lebih.

Setidaknya—

itulah yang Fiona pikirkan.

Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa mimpinya mungkin menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang ia kira.

Dan sementara ia tertawa bersama Darrien—

dua benda yang selalu bersamanya tetap diam.

Kalung di lehernya.

Dan Silver Leaf Bracelet di pergelangan tangannya.

Tidak bercahaya.

Tidak bereaksi.

Hanya menunggu.

Sementara matahari perlahan tenggelam di balik taman Lunaris.

Hari pertama mereka di taman—

akhirnya berakhir dengan tawa.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience