Series
382
BAB 261 — BALAS DENDAM SANG PELATIH
Kevin berdiri sendirian di tepi lapangan latihan.
Malam telah turun di Istana Veyth.
Arena yang sejak pagi dipenuhi suara benturan kini telah kembali sunyi.
Beberapa magical dummy yang hancur masih berserakan.
Retakan memenuhi tanah.
Sisa energi sihir masih terasa di udara.
Kevin menatap semuanya dalam diam.
Kemudian—
ia menghela napas.
“Masih belum cukup.”
Sebuah suara terdengar dari belakang.
“Belum cukup?”
Kevin tidak menoleh.
Ace dan Rowan berjalan mendekat.
Ace melihat kondisi arena.
Kemudian melihat Kevin.
“Bukankah Darrien sudah hampir menghancurkan seluruh tempat ini?”
Rowan mengangguk.
“Dan kau masih bilang belum cukup?”
Kevin tetap diam.
Ace menyilangkan tangan.
“Kevin.”
“Hm?”
“Kau sedang balas dendam, kan?”
Hening.
Rowan menoleh kepada Ace.
“Kau langsung bertanya?”
Ace mengangkat bahu.
“Sudah terlalu jelas.”
Kevin akhirnya menoleh.
“Balas dendam?”
Ace menunjuk arena.
“Sejak liburanmu dibatalkan, latihan Darrien berubah menjadi neraka.”
Rowan mengangguk.
“Darrien bahkan mulai takut mendengar kata ‘besok’.”
Kevin memandang mereka.
“Dia masih hidup.”
Ace menghela napas.
“Itu bukan pembelaan.”
Rowan tertawa kecil.
“Benar.”
Kevin kembali memandang arena.
Untuk beberapa saat—
ia tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian—
sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Ya.”
Ace dan Rowan langsung saling berpandangan.
Kevin melanjutkan dengan tenang.
“Aku memang sedikit kesal.”
Ace tertawa.
“Sedikit?”
Kevin mengangguk.
“Sedikit.”
Rowan menunjuk arena.
“Ini definisi sedikit?”
Kevin melihat arena yang hampir hancur.
“Dia membutuhkan latihan.”
Ace menggeleng.
“Kau sengaja membuatnya lebih sulit.”
“Ya.”
“Jumlah dummy?”
“Ya.”
“Kecepatan?”
“Ya.”
“Tekanan emosional?”
Kevin terdiam sebentar.
Kemudian menjawab,
“Ya.”
Ace tertawa.
“Jadi benar-benar balas dendam.”
Kevin tidak menyangkal.
Namun ekspresinya kemudian berubah lebih serius.
“Aku tidak akan melakukan ini kalau dia tidak mampu.”
Rowan berhenti tertawa.
Kevin melanjutkan.
“Darrien memiliki kekuatan besar.”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Terlalu besar untuk seseorang yang belum sepenuhnya memahami batas dirinya.”
Ace mengangguk perlahan.
“Dan kau ingin dia menguasainya.”
“Bukan hanya menguasainya.”
Kevin menatap arena.
“Aku ingin dia mampu menggunakannya ketika pikirannya berada dalam kondisi terburuk.”
Rowan mengerutkan kening.
“Karena Fiona?”
Kevin diam.
Ace menjawab untuknya.
“Karena Fiona.”
Kevin akhirnya mengangguk.
“Ya.”
Ia menatap ke arah istana.
“Selama Fiona berada dalam bahaya, emosi Darrien akan selalu menjadi titik paling mudah untuk dimanfaatkan musuh.”
Rowan menghela napas.
“Dan itu sebabnya kau membuat ilusi tadi.”
“Benar.”
“Dia hampir kehilangan kendali.”
“Benar.”
Ace menatap Kevin.
“Tapi akhirnya dia berhasil.”
Kevin mengangguk.
“Itulah yang penting.”
Ia mengingat kembali pemandangan Darrien di arena.
Amarah.
Ketakutan.
Dark mana yang hampir meledak.
Kemudian—
napas yang kembali stabil.
Tatapan yang kembali jernih.
Dan sihir yang akhirnya kembali berada di bawah kendalinya.
“Dia belajar.”
Kevin berkata perlahan.
“Lebih cepat dari yang kukira.”
Ace tersenyum.
“Jadi kau bangga?”
Kevin menatapnya datar.
“Jangan berlebihan.”
Rowan tertawa.
“Wajahmu mengatakan sebaliknya.”
Kevin menghela napas.
Kemudian kembali melihat arena.
“Dia masih jauh dari selesai.”
Ace langsung tertawa.
“Nah.”
Ia menunjuk Kevin.
“Itu dia.”
“Apa?”
“Balas dendamnya belum selesai.”
Kevin tersenyum tipis.
“Belum.”
Rowan menggeleng.
“Kasihan Darrien.”
Kevin menjawab tenang,
“Dia akan berterima kasih nanti.”
Ace tertawa.
“Aku sangat meragukannya.”
Kevin berjalan menuju bagian tengah arena.
Ia mengangkat tangannya.
Sisa energi sihir mulai bergerak.
Beberapa magical dummy yang rusak perlahan terangkat.
Kemudian—
Kevin mulai memperbaikinya.
Namun bukan hanya memperbaiki.
Ia mengubah inti sihirnya.
Menambahkan lapisan.
Mengubah pola.
Meningkatkan respons.
Mempercepat gerakan.
Ace memperhatikan.
“…Apa yang kau lakukan?”
“Persiapan.”
Rowan langsung menghela napas.
“Untuk besok?”
Kevin mengangguk.
Ace menutup wajahnya.
“Darrien benar-benar tidak akan selamat.”
Kevin menatap mereka.
“Dia akan selamat.”
Kemudian—
ia tersenyum tipis.
“Dia hanya akan berharap sebaliknya.”
Ace dan Rowan terdiam.
Kemudian—
keduanya tertawa.
***
Beberapa saat kemudian—
Kevin berdiri sendirian lagi.
Ia menatap arena.
Pikirannya kembali pada latihan hari ini.
Darrien telah belajar membaca.
Belajar bergerak.
Belajar menghemat mana.
Belajar menggunakan dark magic tanpa chant.
Namun—
masih ada satu hal yang belum sepenuhnya sempurna.
Konsistensi.
Kevin mengepalkan tangannya.
“Besok…”
Ia menatap langit malam.
“…kita akan melihat apakah semua itu benar-benar sudah menjadi bagian dari dirimu.”
Tidak ada kebencian dalam tatapannya.
Tidak ada niat untuk benar-benar menyakiti Darrien.
Balas dendamnya—
hanya sebuah alasan kecil untuk mendorong Darrien lebih keras.
Karena Kevin tahu—
suatu hari nanti Darrien mungkin menghadapi musuh yang tidak akan memberinya kesempatan kedua.
Musuh yang mungkin menggunakan Fiona sebagai kelemahannya.
Dan ketika hari itu tiba—
Kevin tidak ingin Darrien kehilangan kendali.
Ia ingin Darrien tetap berdiri.
Tetap berpikir.
Tetap bernapas.
Dan tetap menjadi dirinya sendiri.
Kevin menghela napas.
“Tidurlah dengan nyenyak malam ini, Pangeran.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Besok…”
Ia menatap magical dummy yang baru saja selesai diperbaiki.
“…balas dendamku berlanjut.”
Share this novel