Series
382
BAB 173
LEMBAH YANG TERKUNCI
Akhirnya mereka tiba di lembah.
Fiona langsung mempercepat langkah.
“Sudah sampai!”
Ia melihat ke arah air mancur.
Namun—
langkahnya perlahan berhenti.
Tidak ada makhluk magis.
Tidak ada burung kecil.
Tidak ada rusa magis.
Bahkan makhluk-makhluk kecil yang biasanya berkeliaran di sekitar air mancur pun tidak terlihat.
Fiona mengerutkan kening.
“Ke mana mereka semua?”
Darrien ikut melihat sekeliling.
“Entahlah.”
Fiona berjalan mendekati air mancur.
Biasanya ada beberapa makhluk kecil yang datang untuk minum.
Namun kali ini—
air mancur itu benar-benar kosong.
Elarion berhenti.
Tatapannya berubah.
Ia merasakan sesuatu.
“…Tunggu.”
Elyon juga berhenti.
“Ada yang salah.”
Fiona menoleh.
“Apa?”
Darrien mengangkat kepala.
Ia juga merasakan sesuatu.
Sebuah tekanan samar.
Bukan dari satu arah.
Melainkan dari seluruh lembah.
Elarion menatap pepohonan.
“Tempat ini terlalu sunyi.”
Elyon mengangguk.
“Bahkan tidak ada makhluk kecil.”
Fiona masih melihat sekitar.
“Mungkin mereka pergi?”
Tidak ada yang menjawab.
Kemudian—
**BOOM!**
Sebuah lapisan cahaya gelap muncul di sekeliling lembah.
Seketika membentuk sebuah kubah besar.
Fiona terkejut.
“Apa itu?!”
Darrien langsung berdiri di depannya.
Elarion mengangkat tangannya.
“Penghalang.”
Elyon menatap lapisan tersebut.
“Bukan penghalang biasa.”
Ia menyentuh permukaannya dengan sihir ringan.
**ZZZTT!**
Cahaya memantul kembali.
Elyon menarik tangannya.
“Ini mengunci seluruh area.”
Darrien mengerutkan kening.
“Berarti kita terjebak.”
Elarion menatap sekeliling.
“Dan siapa pun yang berada di luar…”
“…tidak bisa masuk.”
Suasana berubah.
Fiona akhirnya menyadari.
Mereka tidak datang ke lembah untuk piknik.
Mereka telah dibawa masuk ke dalam perangkap.
***
Sebuah suara terdengar dari pepohonan.
“Sudah lama.”
Fiona langsung menoleh.
Sosok keluar dari balik pepohonan.
Musaka.
Matanya merah.
Senyumnya tipis.
Darrien langsung mengenalinya.
“Kamu.”
Fiona membeku.
Ia juga mengenalnya.
“Dia…”
Musaka tersenyum.
“Kita bertemu lagi. Aku Musaka.”
Darrien melangkah maju.
“Kau masih hidup.”
“Seperti yang kau lihat.”
Musaka mengangkat tangannya.
Beberapa sosok muncul dari balik pepohonan.
Para vampire.
Jumlahnya lebih banyak daripada sebelumnya.
Dan aura mereka—
jauh lebih kuat.
Elarion mengerutkan kening.
“Mereka bukan vampire biasa.”
Elyon juga mengamati mereka.
“Benar.”
Musaka tersenyum.
“Kali ini aku tidak datang sendirian.”
Darrien mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu…”
Dark Magic mulai muncul di sekeliling tubuhnya.
“…aku akan mengirimmu pergi untuk kedua kalinya.”
Musaka tertawa.
“Tidak kali ini.”
Ia memberi isyarat.
“Serang.”
***
Para vampire bergerak.
Cepat.
Terlalu cepat.
Satu langsung menuju Darrien.
Darrien mengangkat tangan.
**BOOM!**
Serangan bertabrakan.
Darrien terdorong beberapa langkah.
Matanya menyipit.
“…”
Kekuatan mereka berbeda.
Jauh lebih kuat daripada vampire yang pernah mereka hadapi.
Di sisi lain—
dua vampire menyerang Elarion.
Elarion membentuk penghalang.
**CRACK!**
Penghalang itu retak.
Elarion terkejut.
“Mereka kuat.”
Elyon langsung bergerak.
Cahaya terkumpul di tangannya.
Ia menyerang salah satu vampire.
**BOOM!**
Vampire itu terlempar.
Namun—
ia segera bangkit.
Elyon menyipitkan mata.
“Regenerasi…”
Vampire itu tersenyum.
“Belum selesai.”
Ia kembali menyerang.
***
Fiona mundur beberapa langkah.
Ia belum diserang.
Mereka sengaja menghindarinya.
Fiona menyadarinya.
“Mereka…”
Darrien berteriak dari kejauhan.
“Fiona! Jangan mendekat!”
“Aku tahu!”
Fiona mengangkat tangannya.
Light Magic mulai berkumpul.
Namun sebelum ia bergerak—
salah satu vampire berteriak,
“Jangan lukai gadis itu!”
Fiona membeku.
“…”
Ia menatap mereka.
“Kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Musaka hanya tersenyum.
***
Pertempuran semakin kacau.
Darrien berhadapan dengan dua vampire sekaligus.
Dark Magic menghantam tanah.
**BOOM!**
Salah satu vampire terlempar.
Namun vampire lainnya langsung menyerang dari belakang.
Darrien berbalik.
**CLANG!**
Ia menahan serangan.
Kemudian membalas.
Sihir hitam membentuk bilah di tangannya.
**SLASH!**
Vampire itu mundur.
Darrien mengerutkan kening.
Mereka kuat.
Namun ia tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Ia menarik napas.
Dark Magic mengalir lebih dalam.
***
Elarion menggunakan sihir alam.
Akar-akar muncul dari tanah.
Mereka membelit kaki dua vampire.
Namun—
**CRACK!**
Mereka menghancurkannya dengan kekuatan kasar.
Elarion mundur.
“Bahkan itu tidak cukup.”
Elyon datang dari samping.
Cahaya menyambar.
**BOOM!**
Kedua vampire itu terpental.
Elarion menatap Elyon.
“Kau kuat.”
Elyon tidak menjawab.
Tatapannya tetap tertuju pada musuh.
Namun pikirannya masih bekerja.
Ia ingin tahu.
Seberapa kuat vampire-vampire ini?
Dan lebih penting—
siapa yang berada di balik mereka?
***
Dari kejauhan—
di balik pepohonan,
Koga mengamati.
Ia belum bergerak.
Matanya tertuju pada pertempuran.
Musaka terlihat puas.
“Lihat.”
Koga tetap diam.
Ia memperhatikan Darrien.
Kemudian Elarion.
Kemudian Elyon.
“Menarik.”
Namun tatapannya akhirnya berhenti pada Fiona.
Gadis itu masih berdiri di tengah area pertempuran.
Tidak terluka.
Tidak diserang.
Koga tersenyum tipis.
“Jadi ini gadis yang kau inginkan.”
Musaka mengangguk.
“Ya.”
Koga tidak menjawab.
Ia hanya terus menonton.
***
Di dalam lembah—
pertempuran belum menunjukkan tanda akan berakhir.
Darrien kembali menyerang.
Elarion membentuk mantra baru.
Elyon mulai meningkatkan kekuatannya.
Fiona menggenggam tangannya.
Dan para vampire—
tidak satu pun jatuh.
Hari piknik yang seharusnya tenang…
telah berubah menjadi medan pertempuran.
Namun orang yang membuat semua ini terjadi—
masih belum menunjukkan dirinya.
Share this novel